Lima tahun lalu teman saya menawarkan ziarah ke tanah suci dengan harga luar biasa miring. Katakanlah standar paket perjalanan Rp 20-an juta, sementara paket yang dia tawarkan hanya belasan juta. Ada selisih sekitar Rp 10 juta! Tapi saya mulai curiga, jangan-jangan paket murahnya itu ada apa-apa. Sebagai sales yang baik, tentu saja teman itu meyakinkan saya bahwa paket ziarah itu betul seperti yang dijanjikan. Ia mencoba meyakinkan lebih jauh dengan mengatakan bisnis travel lain mengambil untung sangat besar, makanya travelnya bisa memberi harga miring. Terus terang saya sempat tergoda. Sampai akhirnya, saya merasa ada yang salah waktu mendengar tour agent itu menawarkan pembayaran dengan cicilan. Setelah menyetor iuran 11 bulan, baru di bulan 12 peserta berhak berangkat. Betul saja, beberapa bulan kemudian orang-orang mulai ramai karena tak jadi berangkat. Tak lama kemudian kantor travel itu pun diam-diam tutup dan para karyawannya 'raib'.
Pengumpul dana
Lima tahun lalu teman saya menawarkan ziarah ke tanah suci dengan harga luar biasa miring. Katakanlah standar paket perjalanan Rp 20-an juta, sementara paket yang dia tawarkan hanya belasan juta. Ada selisih sekitar Rp 10 juta! Tapi saya mulai curiga, jangan-jangan paket murahnya itu ada apa-apa. Sebagai sales yang baik, tentu saja teman itu meyakinkan saya bahwa paket ziarah itu betul seperti yang dijanjikan. Ia mencoba meyakinkan lebih jauh dengan mengatakan bisnis travel lain mengambil untung sangat besar, makanya travelnya bisa memberi harga miring. Terus terang saya sempat tergoda. Sampai akhirnya, saya merasa ada yang salah waktu mendengar tour agent itu menawarkan pembayaran dengan cicilan. Setelah menyetor iuran 11 bulan, baru di bulan 12 peserta berhak berangkat. Betul saja, beberapa bulan kemudian orang-orang mulai ramai karena tak jadi berangkat. Tak lama kemudian kantor travel itu pun diam-diam tutup dan para karyawannya 'raib'.