Pengumuman FTSE Russell dan Gencatan Senjata AS-Iran Jadi Penopang IHSG



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,42% ke level 7.279,21 pada Rabu (8/4/2026). Ini salah satunya didorong oleh pengumuman FTSE Russell yang tetap mempertahankan status Secondary Emerging Market pasar ekuitas Indonesia. 

Pada Maret 2026, anak usaha usaha London Stock Exchange Group ini mengumumkan menunda evaluasi. Ini menyusul keputusan MSCI terkait ketidakpercayaan akan transparansi pasar saham Indonesia. 

Penyedia indeks global itu menyatakan masih mencermati perkembangan reformasi integritas pasar modal Indonesia. FTSE Russell belum mempertimbangkan untuk memasukkan Indonesia ke dalam Watch List, yang biasanya menjadi tahap awal menuju potensi kenaikan klasifikasi pasar.


Baca Juga: Kinerja ISAT 2026 Diproyeksi Tumbuh Didorong Bisnis Data, Cek Rekomendasi Sahamnya

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah menuturkan pengumuman FTSE Russell ini menjadi kabar baik dan penyejuk di tengah minimnya sentimen positif dalam beberapa waktu terakhir. 

“FTSE Russell tidak melakukan downgrade, tetapi tidak serta merta pasti MSCI mengikuti. Namun ini bisa menjadi pertimbangan,” jelas Fath dalam paparannya, Rabu (8/4/2026).

Tim Riset Stockbit menambahkan kenaikan IHSG juga datang dari pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran dalam dua pekan dan Selat Hormuz akan kembali dibuka. 

“Dikombinasikan dengan konfirmasi status FTSE Secondary Emerging, risk premium Indonesia di mata investor asing berkurang,” tulisnya dalam riset yang dirilis pada Rabu (8/4/2026). 

Tim Riset Stockbit menilai ada potensi foreign inflow ke saham big caps dan perbankan. Ini termasuk saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). 

Baca Juga: ISAT Punya Ruang Rebound, Price Repair dan Bisnis AI Jadi Katalis

“Saham konglomerasi berpotensi ikut rally seiring meningkatnya sentimen risk–on pasca gencatan senjata dan konfirmasi FTSE,” mereka. 

Meski begitu, Tim Riset Stockbit menyebut ada beberapa faktor yang perlu dicermati. Pertama, hasil negosiasi di Islamabad pada 10 April 2026. Kedua, realisasi pembukaan Selat Hormuz. 

Ketiga, perkembangan MSCI terhadap Indonesia menjelang review Mei 2026, tepatnya sebelum 12 Mei 2026. Terakhir, perkembangan FTSE menjelang review Juni 2026 atau sebelum 19 Juni 2026. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News