Pengurangan suplai bisa sokong tembaga



JAKARTA. Harga tembaga mencoba bangkit. Adanya potensi pengurangan suplai di pasar global berpeluang menyokong logam industri ini. Mengutip Bloomberg, Jumat (18/12), tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 3,08% menjadi US$ 4.685 per metrik ton.

Meski demikian, sepekan terakhir, harga masih terkoreksi 0,38%. Pengamat Komoditas PT SoeGee Futures Ibrahim menilai, beberapa faktor menyokong harga tembaga pada akhir pekan lalu.

Pertama, realisasi kenaikan suku bunga The Fed menghilangkan ketidakpastian di pasar, sehingga indeks dollar mengendur. Pelemahan dollar AS berefek bagus pada harga komoditas.


Kedua, produsen tembaga China berjanji memangkas produksi sebesar 350.000 metrik ton pada tahun depan. Jumlah tersebut setara 4,4% dari total produksi tembaga negeri Tembok Besar. Ini disinyalir bisa mengurangi pasokan yang berlimpah.

Nah, sentimen positif tersebut bisa menyokong harga tembaga pada pekan ini. Namun, pada semester I-2016, tembaga akan memasuki masa konsolidasi. Setelah The Fed memastikan arah suku bunga, pergerakan harga komoditas akan digerakkan faktor fundamental, yakni permintaan dan suplai.

Pendiri Citrine Capital Management Paul Crone memperkirakan, harga tembaga justru rawan terkoreksi pada periode enam bulan ke depan. Ekonomi Tiongkok diprediksi memburuk pada kuartal IV-2015.

Alhasil, permintaan tembaga juga menyusut Maklum, China merupakan pengguna sekaligus produsen tembaga terbesar di dunia. Memang Tiongkok sudah berusaha mengangkat harga tembaga dengan memangkas produksi.

Namun, analis Shanghai Futures CIFCO Co, Wei Lai menilai, efek dari aksi China mengurangi banjir pasokan tidak bisa terlihat dalam waktu dekat. Dari sisi teknikal, kata Ibrahim, jangka pendek, harga tembaga masih berpeluang naik.

Indikator bollinger band dan moving average berada 40% di atas bollinger bawah. Lalu, stochastic dan RSI masing-masing 60% positif. Hanya, MACD 70% negatif. Prediksi Ibrahim, sepekan, harga tembaga bergulir antara US$ 4.560-US$ 4.890 per metrik ton. "Hari ini, harganya bisa naik ke US$ 4.675- US$ 4.775," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News