KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (AS) berpotensi mengalami penguatan di tahun depan. Namun, hal ini belum serta merta membuat pengusaha beralih dari menggunakan dollar AS dalam kegiatan ekspor dan impor menjadi menggunakan ringgit dan baht, meski sudah ada mekanisme local currency settlement (LCS). Mekanisme LCS telah dilakukan oleh Bank Indonesia dengan Bank Negara Malaysia (BMN) dan BI dengan Bank of Thailand (BoT). Dengan mekanisme ini, transaksi yang dilakukan eksportir dan importir bisa dilakukan langsung dengan ringgit atau baht tanpa harus menukar ke dollar AS terlebih dahulu. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengaku, hingga saat ini pihaknya belum menghitung-hitung jika transaksi ekspor dan impor yang dilakukan pengusaha menggunakan mata uang ringgit atau baht langsung. Pengusaha lanjut dia, belum bisa memastikan yang mana yang lebih menguntungkan.
Pengusaha belum hitung penggunaan ringgit dan baht
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dollar Amerika Serikat (AS) berpotensi mengalami penguatan di tahun depan. Namun, hal ini belum serta merta membuat pengusaha beralih dari menggunakan dollar AS dalam kegiatan ekspor dan impor menjadi menggunakan ringgit dan baht, meski sudah ada mekanisme local currency settlement (LCS). Mekanisme LCS telah dilakukan oleh Bank Indonesia dengan Bank Negara Malaysia (BMN) dan BI dengan Bank of Thailand (BoT). Dengan mekanisme ini, transaksi yang dilakukan eksportir dan importir bisa dilakukan langsung dengan ringgit atau baht tanpa harus menukar ke dollar AS terlebih dahulu. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat Usman mengaku, hingga saat ini pihaknya belum menghitung-hitung jika transaksi ekspor dan impor yang dilakukan pengusaha menggunakan mata uang ringgit atau baht langsung. Pengusaha lanjut dia, belum bisa memastikan yang mana yang lebih menguntungkan.