KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat volume ekspor batubara Indonesia menyusut pada paruh pertama 2026. Penjualan batubara ke luar negeri turun menjadi 172,45 juta ton sepanjang Januari - Juni 2026. Volume ekspor batubara mengalami penurunan 6,37% dibandingkan periode Januari - Juni 2025, yang kala itu mencapai 184,20 juta ton. Meski secara volume merosot, tapi nilai ekspor batubara Indonesia masih bisa mendaki. Secara nilai, ekspor batubara Indonesia sepanjang Januari - Juni 2026 mencapai US$ 12,04 miliar. Naik tipis 0,63% dibandingkan raihan US$ 11,96 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: GAPKI Dorong Produktivitas dan Hilirisasi Demi Genjot Daya Saing Industri Sawit Merujuk data dari Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), China dan India masih menjadi pasar terbesar bagi ekspor batubara Indonesia Semester I-2026. Ekspor batubara ke China masih mencatatkan kenaikan 1,03% secara tahunan atau year on year (yoy) dari 86,27 juta ton menjadi 87,16 juta ton. Sementara ekspor batubara ke India mengalami penurunan cukup tajam, anjlok 27,11% (yoy) dari 58,28 juta ton menjadi 42,48 juta ton. Selain kedua negara tersebut, ekspor batubara Indonesia juga menyasar Filipina, Vietnam, Malaysia, Korea Selatan dan Taiwan. Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani menyoroti dua faktor utama yang membuat volume ekspor batubara Indonesia menyusut pada paruh pertama 2026. Penjualan ekspor turun sejalan dengan pengetatan kuota produksi di dalam negeri. Pada saat yang sama, pelemahan permintaan masih terjadi di pasar utama. Permintaan dari China telah mengalami penurunan pada tahun lalu akibat produksi domestik yang kuat dan stok yang masih tinggi. Kondisi tersebut berlanjut pada tahun ini, sejalan dengan permintaan yang cenderung stagnan. "India juga mengalami tekanan serupa. Jadi ini kombinasi dua faktor, penyesuaian produksi domestik dan pelemahan permintaan struktural di pasar tradisional," kata Gita saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (7/8/2026). Di tengah permintaan yang masih cenderung stagnan dari China serta penurunan dari India, APBI mencatat pertumbuhan permintaan dari Vietnam. Ekspor batubara ke Vietnam naik 12,60% (yoy) dari 14,28 juta ton menjadi 16,08 juta ton. Sedangkan volume ekspor ke pasar tradisional lain seperti Filipina, Malaysia, Korea Selatan dan Taiwan mengalami penurunan. "Kenaikan ada dari Vietnam, satu satunya pasar utama yang tumbuh selain China, didorong kebutuhan pembangkit listrik yang tinggi di tengah keterlambatan proyek LNG Vietnam. Sebaliknya, pasar tradisional lain justru turun," ungkap Gita.
Baca Juga: Beban Operasional Naik, Emiten Konstruksi Perketat Efisiensi dan Seleksi Proyek Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Anggawira melihat bahwa kinerja ekspor batubara Indonesia pada Semester I-2026 masih menunjukkan ketahanan (resilience) di tengah pasar global yang sedang mengalami fase normalisasi. Dia membeberkan sejumlah faktor yang menyebabkan penurunan volume ekspor.
Pertama, faktor pasokan domestik seiring dengan pengetatan kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Pada saat yang sama, kewajiban pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO) tetap menjadi prioritas untuk menjamin ketahanan energi nasional, sehingga sebagian produksi dialokasikan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Kedua, perlambatan permintaan dari beberapa negara tujuan ekspor. Negara-negara importir utama seperti China dan India mulai meningkatkan produksi batubara domestiknya. Sementara itu, pertumbuhan konsumsi listrik di beberapa kawasan juga tidak seagresif tahun-tahun sebelumnya sehingga kebutuhan impor mengalami penyesuaian.
Ketiga, meningkatnya persaingan global. Indonesia kini menghadapi kompetisi yang lebih ketat dari Australia, Rusia, Afrika Selatan hingga Mongolia yang menawarkan kualitas dan segmen pasar berbeda. Dalam kondisi permintaan global yang relatif melambat, persaingan harga menjadi semakin ketat. Di sisi lain, kenaikan nilai ekspor menunjukkan bahwa harga jual rata-rata batubara Indonesia masih relatif terjaga. Ketidakpastian geopolitik global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah, membuat harga energi dunia tetap berada pada level yang cukup tinggi sehingga mampu mengompensasi penurunan volume ekspor.
Baca Juga: Adhi Karya (ADHI) Siapkan Strategi Mitigasi Hadapi Kenaikan Biaya Konstruksi Menurut Anggawira, kinerja ekspor batubara pada semester I-2026 menjadi sinyal bahwa industri batubara Indonesia sedang memasuki fase baru, yaitu bergeser dari strategi mengejar volume menuju strategi mengoptimalkan nilai (
value-driven export). "Pendekatan tersebut akan membuat industri nasional lebih tahan terhadap fluktuasi harga maupun perubahan permintaan global," kata Anggawira.
Outlook Pasar Batubara Semester II-2026
Pada periode paruh kedua 2026, Anggawira memperkirakan permintaan masih akan tumbuh, tetapi lebih moderat dibanding beberapa tahun terakhir. Dia memprediksi permintaan di pasar ekspor akan naik sekitar 2% – 4% dibandingkan semester I-2026. Relaksasi kuota produksi dalam RKAB 2026 akan menjadi faktor penting. Dalam hal ini, Anggawira mendorong agar pemberian tambahan kuota diberikan secara selektif dan terukur. "Pemerintah juga harus menjaga keseimbangan antara ekspor, pemenuhan DMO, konservasi cadangan, dan stabilitas harga," kata Anggawira. Sementara itu, Gita memperkirakan outlook permintaan dalam jangka pendek masih dipengaruhi oleh pemulihan impor dari China. Hal ini seiring produksi domestik China yang mengalami penurunan 9,7% (yoy) pada Juni akibat inspeksi keselamatan tambang di Shanxi, yang berpotensi membuka ruang impor lebih besar.
Baca Juga: Kinerja Semester I-2026 Tertekan, JELI Bidik Pemulihan pada Semester II "Selain itu, konsumsi listrik di China juga meningkat seiring gelombang panas, walaupun dampaknya terhadap impor masih tertahan dengan tingginya stok. Sementara itu, pemulihan permintaan India diperkirakan aakan terjadi setelah musim monsun berakhir," ujar Gita. Dihubungi terpisah, Ekonom & Manajer Riset Strategis Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet memprediksi prospek permintaan batubara masih akan selektif pada sisa tahun ini. China dan India tetap menjadi pasar utama, tetapi keputusan impor kedua negara tersebut akan bergantung pada kondisi stok, produksi domestik, dan kebutuhan listrik. "Permintaan dari Asia Tenggara berpotensi tetap tumbuh, namun secara keseluruhan saya belum melihat ruang bagi volume ekspor untuk meningkat signifikan kecuali ada relaksasi kuota produksi atau lonjakan permintaan musiman," ungkap Yusuf. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy Hartono punya catatan serupa. Sudirman memperkirakan ekspor batubara masih akan menghadapi tekanan dari sisi volume akibat penyesuaian kuota produksi dan normalisasi permintaan global. Meski begitu, Sudirman memprediksi nilai kumulatif ekspor masih akan ditopang oleh stabilitas harga. "Negara pembeli batubara Indonesia seperti China dan India mulai menunjukkan selektifitas tinggi dengan melirik pasokan alternatif atau mengandalkan peningkatan produksi domestik mereka sendiri. Dinamika penyesuaian kuota turut menjadi sentimen yang dicermati para pelaku usaha dan emiten produsen batubara," kata Sudirman. Sudirman menambahkan, kenaikan harga batubara membawa angin segar terhadap kinerja keuangan perusahaan tambang. Lonjakan harga dapat mendongkrak pendapatan kotor dan margin laba bersih, serta memperkuat arus kas operasional.
Baca Juga: Suryacipta Swadaya Incar Target Penjualan Lahan 74 Hektare hingga Akhir 2026 Hanya saja, ada beberapa hambatan dan risiko yang juga yang dihadapi oleh perusahaan. Antara lain, kenaikan harga komoditas global kerap memicu inflasi biaya alat berat, bahan bakar solar, serta komponen pendukung penambangan. "Selain itu kebijakan pemerintah seperti pembatasan RKAB membatasi kapasitas produksi sehingga perusahaan tidak selalu bisa memanfaatkan momentum harga tinggi secara maksimal," ujar Sudirman.
Outlook Harga Batubara Semester II-2026
Dari sisi harga, Anggawira memprediksi kinerja ekspor batubara Indonesia masih solid dengan harga yang masih kuat bergerak di atas US$ 100. Dia menyoroti Harga Batubara Acuan (HBA) periode pertama Agustus 2026 yang berada di level US$ 124,44 per ton. Sementara harga acuan global berada di level US$ 128,2 per ton. Anggawira memperkirakan rata-rata acaun harga batubara akan mencapai US$ 120 - US$ 130 per ton pada kuartal III-2026. Namun memasuki kuartal IV-2026, harga akan berpotensi mulai mengalami normalisasi ke level US$ 110 - US$ 120 per ton, seiring berakhirnya permintaan musiman dan meningkatnya pasokan dari beberapa negara produsen. "Peluang harga bertahan di atas US$ 120 per ton masih ada, tetapi tidak sepanjang semester kedua. Skenario yang lebih realistis adalah harga akan berfluktuasi dan tetap berada pada kisaran di atas US$ 100 per ton, kecuali terjadi guncangan geopolitik yang lebih besar atau gangguan pasokan global," terang Anggawira. Sementara itu, Yusuf memperkirakan harga batubara masih akan bergerak dalam fase konsolidasi pada sisa tahun ini. HBA awal Agustus dan indeks Newcastle memang masih berada di atas US$ 120 per ton. Tetapi, level harga keduanya sudah terkoreksi dari puncaknya.
Baca Juga: Target Transaksi Indonesia Shopping Festival Rp 38 Triliun, CELIOS: Terlalu Ambisius "Ini menunjukkan premi risiko geopolitik mulai mereda dan pasar kembali dipengaruhi faktor fundamental," ujar Yusuf. Dalam skenario tersebut, Yusuf memperkirakan harga batubara akan bergerak pada kisaran US$ 110 – US$ 125 per ton, dengan peluang yang masih terbuka lebar untuk tetap berada di atas US$ 100 per ton. "(Harga batubara) di atas US$ 120 per ton hanya mungkin jika terjadi gangguan pasokan global seperti eskalasi geopolitik, cuaca ekstrem, atau lonjakan permintaan listrik," tutup Yusuf. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News