Pengusaha Industri Pengerjaan Mesin Soroti Dominasi Mesin Impor di Pasar Domestik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri mesin nasional dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan yang cukup baik pada 2026. Namun, produsen mesin dalam negeri masih menghadapi tantangan berat lantaran struktur pasar nasional masih didominasi produk impor.

Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA) Dadang Asikin mengatakan, kebutuhan mesin terus meningkat seiring pertumbuhan sektor manufaktur, konstruksi, energi, pertambangan, infrastruktur hingga industri hilirisasi.

Di sisi lain, kemampuan produsen mesin domestik masih belum sepenuhnya mampu bersaing dengan produk global. Kesenjangan tersebut mencakup teknologi, skala produksi, kemampuan engineering, komponen presisi, bahan baku material khusus, pembiayaan hingga efisiensi biaya produksi.


“Persaingan industri mesin saat ini bukan semata-mata persoalan harga. Kita menghadapi persaingan teknologi, kualitas, kecepatan delivery, pembiayaan, after-sales service, dan kemampuan memproduksi dalam skala besar,” ujar Dadang kepada Kontan, Rabu (7/10/2026).

Baca Juga: Pasokan Nikel Smelter Terverifikasi 320 Juta Ton, ESDM Evaluasi Kinerja Produksi

Menurut Dadang, industri mesin lokal membutuhkan ekosistem yang lebih kuat agar dapat meningkatkan daya saing. Kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), misalnya, dinilai penting untuk menciptakan pasar awal bagi produsen mesin nasional.

Namun, implementasi TKDN tidak cukup hanya menjadi persyaratan administratif. Kebijakan tersebut harus diarahkan untuk meningkatkan kemampuan manufaktur, engineering, komponen, material hingga penguasaan teknologi.

Dadang menambahkan, industri mesin juga masih menghadapi ketergantungan terhadap komponen impor. Skala produksi yang belum besar turut membuat biaya produksi relatif tinggi. Selain itu, akses pembiayaan investasi mesin dan teknologi serta kepastian pasar juga masih menjadi kendala.

Karena itu, GAMMA mendorong sinkronisasi kebijakan TKDN dengan pengadaan pemerintah dan BUMN, proyek hilirisasi, investasi industri baru serta pengembangan industri komponen.

Menurut Dadang, pengadaan mesin dan peralatan pabrik masih kerap mengacu pada Approved Manufacturer List (AML) yang didominasi produsen luar negeri. Kondisi ini membuat merek mesin dalam negeri memiliki ruang yang lebih terbatas untuk masuk dalam proyek pembangunan industri.

“Demand creation harus menjadi bagian penting dari kebijakan industri mesin,” katanya.

Dadang menyebut terdapat lima agenda yang perlu diperkuat pemerintah. Pertama, pengembangan teknologi dan engineering nasional, termasuk riset dan pengembangan, desain, otomasi, CNC, robotika dan digital manufacturing.

Kedua, membangun ekosistem industri mesin melalui penguatan ketersediaan bahan baku dan komponen, terutama komponen presisi yang selama ini masih banyak bergantung pada impor.

Ketiga, menciptakan pasar yang lebih pasti bagi mesin produksi dalam negeri melalui proyek pemerintah, BUMN, hilirisasi dan investasi industri.

Baca Juga: Astra Otoparts (AUTO) Perkuat Komponen Kendaraan Listrik Jelang TKDN 60%

Keempat, memperkuat pembiayaan industri karena pengembangan mesin membutuhkan investasi teknologi dan peralatan produksi yang besar dengan periode pengembalian yang relatif panjang.

Kelima, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya tenaga engineering, machining, welding, automation, maintenance dan teknologi manufaktur 4.0.

Dadang berharap momentum pergantian Menteri Perindustrian dapat menjadi kesempatan untuk melakukan audit dan pemetaan kebutuhan mesin nasional secara menyeluruh. Pemetaan tersebut juga perlu mencakup kemampuan produsen mesin dalam negeri, kapasitas produksi, teknologi dan kebutuhan investasi.

“Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi mesin impor. Kita harus mulai membangun kemampuan sebagai negara produsen mesin. Karena negara yang menguasai mesin pada akhirnya akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam menguasai industri manufakturnya,” ujar Dadang.

Ingin Dipasok dari Dalam Negeri

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mulai memetakan berbagai persoalan yang menghambat kinerja industri nasional. Salah satu fokus yang didorong adalah penguatan industri permesinan agar kebutuhan mesin dan peralatan industri semakin banyak dipasok dari dalam negeri.

Sarmuji melakukan rapat kerja internal bersama jajaran Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Senin (5/10/2026). Dalam agenda tersebut, Kemenperin melakukan “belanja masalah” untuk menginventarisasi berbagai persoalan industri sekaligus menentukan prioritas penyelesaiannya.

“Pada tahap awal ini, kami ingin melakukan belanja masalah. Kita petakan secara menyeluruh persoalan yang dihadapi industri, kemudian kita identifikasi mana yang bisa segera diselesaikan oleh Kemenperin dan mana yang membutuhkan koordinasi dengan kementerian atau lembaga lainnya. Yang terpenting, setiap masalah harus kita carikan jalan keluarnya,” kata Sarmuji.

Baca Juga: Bahlil Ungkap Strategi Jaga Harga Nikel di Tengah Kebutuhan Smelter yang Tinggi

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta mengatakan, pengembangan industri permesinan menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan tersebut.

“Banyak hal yang dibicarakan. Namun, beliau sangat ingin mendorong industri permesinan kita tumbuh. Itu yang menjadi salah satu perhatian utama dalam pembahasan,” kata Setia.

Kemenperin selanjutnya akan memetakan kebutuhan mesin di berbagai sektor industri. Hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan jenis mesin dan subsektor yang perlu diprioritaskan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News