KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank masih mengandalkan pendapatan dari penjualan aset bermasalah (recovery income) untuk menahan tekanan laba pada 2025, di tengah kinerja keuangan yang cenderung melambat. Meski strategi ini tetap dijalankan, pelaku industri menilai prospeknya kian menantang seiring kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya. Pada tahun lalu, beberapa bank besar mencatatkan pertumbuhan laba yang turut ditopang oleh peningkatan pendapatan dari penjualan aset.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), misalnya, membukukan laba bersih tumbuh 4,9% secara tahunan, seiring pendapatan dari penjualan aset keuangan yang mencapai Rp 2,23 triliun atau naik 46,7%.
Baca Juga: Industri Perbankan Raup Laba Rp 22,7 Triliun di Bulan Pertama 2026 Hal serupa terjadi pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang mencatat kenaikan laba bersih 0,92% secara tahunan, didukung pendapatan recovery sebesar Rp 7,28 triliun, meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan mengatakan, penjualan aset bermasalah masih akan dimanfaatkan untuk menopang kinerja bank tahun ini, meski perannya bukan lagi sebagai pendorong utama. Menurut dia, stok aset bermasalah yang semakin menipis serta kondisi ekonomi yang belum kondusif menjadi tantangan utama. “Prospek penjualan aset bermasalah akan melambat dan akan ditawarkan di harga diskon,” ujar Trioksa. Dari sisi perbankan, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyebut penyelesaian aset bermasalah telah berjalan sesuai target dan timeline. Ia menegaskan, seluruh proses penjualan dilakukan mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain mengandalkan penjualan aset, BCA juga menekankan pengelolaan risiko kredit bermasalah (
non performing loan/NPL) secara hati-hati guna menjaga kualitas kredit.
Baca Juga: BI Gelontorkan Insentif Likuiditas Rp 427,1 Triliun Hingga Pekan Pertama Maret 2026 Hingga 2025, rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah (NPL coverage) BCA tercatat sebesar 183,8%, yang dinilai memadai untuk mengantisipasi potensi risiko ke depan. Sementara itu, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan menyampaikan bahwa kontribusi penjualan aset bermasalah sangat bergantung pada ketersediaan portofolio. Saat ini, jumlah aset bermasalah di CIMB Niaga relatif terbatas, sehingga ruang untuk mendorong
recovery income juga tidak besar. Sebagai gantinya, CIMB Niaga lebih memfokuskan penguatan pendapatan non-bunga melalui
fee based income, di tengah permintaan kredit yang masih lemah.
Baca Juga: Pembiayaan Berisiko Naik Imbas Bencana, BSI Perkuat Pencadangan Sepanjang tahun lalu, CIMB Niaga mencatat pendapatan
recovery sebesar Rp 1,02 triliun, turun 29,4% secara tahunan. Meski demikian, laba bersih bank ini masih tumbuh tipis 0,53% menjadi Rp 6,93 triliun. “
Recovery income dari penjualan aset bermasalah bukan faktor utama capaian tersebut,” tegas Lani. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News