Penjualan Bijih Nikel Dongkrak Laba Vale Indonesia (INCO) Melonjak 180,5%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan lonjakan laba bersih hingga September 2026.

Emiten tambang nikel ini membukukan laba bersih sebesar US$ 147,12 juta, melesat 180,5% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan US$ 52,45 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan laba tersebut ditopang kenaikan pendapatan dan meningkatnya kontribusi penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi dan Pomalaa.


Baca Juga: FL Technics Kantongi Sertifikasi EASA, Buka Peluang Garap Pasar MRO Eropa

Dalam laporan kinerja kuartal III 2026 yang dirilis Kamis (29/10/2026), Vale Indonesia mencatatkan pendapatan sebesar US$ 896,07 juta sepanjang Januari-September 2026. Realisasi tersebut meningkat 27% yoy dibandingkan US$ 705,39 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, EBITDA Vale Indonesia naik 78,9% menjadi US$ 297 juta dari sebelumnya US$ 166 juta.

Khusus kuartal III 2026, pendapatan INCO mencapai US$ 353 juta, meningkat 21,6% dibandingkan kuartal II 2026 sebesar US$ 290,41 juta. Namun, laba bersih pada periode tersebut justru turun 29,7% secara kuartalan menjadi US$ 42,75 juta dari US$ 60,77 juta.

Kinerja Vale Indonesia ditopang peningkatan pengiriman nikel matte dan penjualan bijih nikel. Pengiriman nikel matte pada kuartal III 2026 mencapai 20.158 ton, naik 44,7% dibandingkan kuartal sebelumnya sebanyak 13.932 ton.

Meski demikian, harga realisasi rata-rata nikel matte turun 4,8% menjadi US$ 14.053 per ton dari US$ 14.765 per ton pada kuartal II 2026.

Baca Juga: Bakal Cabut IUP Mangkrak, Pemerintah Diingatkan Tak Semua Sengaja Ditelantarkan

Dari sisi produksi, Vale Indonesia menghasilkan 18.341 ton nikel matte pada kuartal III 2026, meningkat 13,5% dibandingkan 16.153 ton pada kuartal sebelumnya.

Namun, secara kumulatif produksi nikel matte selama sembilan bulan pertama tahun ini mencapai 48.114 ton, turun 12,5% yoy dibandingkan 54.975 ton pada periode yang sama tahun lalu.

Di luar produk nikel matte, penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi dan Pomalaa menjadi salah satu penopang kinerja perusahaan. Pada kuartal III 2026, total penjualan bijih nikel dari kedua blok tersebut mencapai sekitar 1,73 juta wet metric ton (wmt).

Penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi tercatat sebesar 415.000 wmt, turun 61,4% dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 1,07 juta wmt.

Sebaliknya, penjualan dari Blok Pomalaa melonjak 165,2% menjadi 1,31 juta wmt dari 495.601 wmt pada kuartal II 2026.

Baca Juga: Apjatel Minta Ada Dialog soal Kabel Udara, Soroti Kepastian Usaha Operator

Secara kumulatif, penjualan bijih nikel Blok Bahodopi mencapai 2,38 juta wmt hingga September 2026, meningkat 284,7% yoy dari 617.519 wmt. Sementara itu, penjualan Blok Pomalaa mencapai 1,90 juta wmt, melesat 581,6% dibandingkan 278.745 wmt pada periode yang sama tahun lalu.

Di tengah pertumbuhan pendapatan, Vale Indonesia masih menghadapi tekanan biaya operasional. Biaya tunai penjualan nikel matte pada kuartal III 2026 meningkat 4% menjadi US$ 10.404 per ton dari US$ 10.005 per ton pada kuartal sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi peningkatan biaya dan konsumsi energi.

Tekanan biaya turut tercermin pada EBITDA kuartal III 2026 yang turun 12,9% secara kuartalan menjadi US$ 101 juta dari US$ 116 juta.

Meski demikian, perusahaan menyebut peningkatan volume produksi dan penjualan serta efisiensi operasional membantu menjaga kinerja di tengah tekanan harga nikel dan biaya energi.

Dari sisi keuangan, kas dan setara kas Vale Indonesia per 30 September 2026 mencapai US$ 247,31 juta, meningkat 123,5% dibandingkan posisi akhir Juni 2026 sebesar US$ 110,66 juta.

Baca Juga: Menakar Peluang dan Tantangan Penguatan Pasar Gas Bumi Domestik

Pada kuartal III 2026, perusahaan juga menarik pinjaman bank sebesar US$ 175 juta untuk mendukung kebutuhan belanja modal dan pengembangan proyek strategis.

Belanja modal atau capital expenditure (capex) selama kuartal III 2026 mencapai sekitar US$ 95 juta. Adapun pembayaran untuk pembelian aset tetap secara kumulatif hingga September 2026 mencapai US$ 350,16 juta, naik 5,6% yoy dibandingkan US$ 331,44 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Ke depan, Vale Indonesia melanjutkan pengembangan bisnis hilir melalui proyek high-pressure acid leach (HPAL) Pomalaa.

Perusahaan mencatat penyelesaian mekanis pertama untuk Line 1 dan Line 2 proyek tersebut sebagai salah satu tonggak penting pengembangan hilirisasi nikel.

Memasuki 2027, INCO akan berfokus mengoptimalkan produksi nikel matte, meningkatkan kontribusi penjualan bijih nikel dari area pertumbuhan, serta melanjutkan pengembangan proyek hilirisasi strategis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News