Penjualan diperkirakan terus tumbuh, buy buat ARNA



JAKARTA. Penjualan keramik  PT Arwana Citra Mulia Tbk (ARNA) diperkirakan bakal positif. Menurut Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee, walau suku bunga tinggi telah memukul sektor properti di tahun ini, namun diperkirakan permintaan akan bahan bangunan seperti semen dan keramik masih tetap ada.

"Tak dapat dipungkiri kebutuhan akan rumah baru masih ada terutama untuk rumah di segmen menengah kebawah," jelasnya. Apalagi hal itu dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang mendukung akan pembangunan di segmen tersebut.  

Apalagi pemerintah memutuskan untuk menurunkan KPR sebesar 6% untuk rumah di segmen menengah ke bawah. Walaupun marginnya cukup kecil bagi para pengembang tapi kebijakan ini cukup mengerek permintaan akan keramik. Apalagi ARNA lebih menyasar di kalangan menengah ke bawah.


Terlepas dari itu ada beberapa tantangan yang akan dihadapi perseroan di tahun ini. Salah satunya yakni, harga gas dalam negeri yang lebih mahal dibandingkan negra tetangga. Hans bilang hal ini dapat menekan industri keramik. Apalagi kini depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih terjadi. 

Pasalnya, jika ingin melakukan kontrak gas masih menggunakan mata uang dollar AS. "Ini dapat meningkatkan cost perusahaan," tukasnya. Menurut analisanya, biaya gas itu bisa mencapai sekitar 30% dari total beban produksi perusahaan. 

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mencatat,  gas alam untuk keramik di wilayah Indonesia Barat sebesar US$ 9,3 per mmbtu (milion metric british thermal unit). Sedangkan harga gas alam untuk keramik di wilayah Indonesia Timur sebesar US$ 8,4 per mmbtu.

Karena hal itu, tak jarang membuat produsen keramik melakukan efisiensi termasuk ARNA. Perseroan dikenal sebagai perusahaan yang paling efisien dibandingkan para pesaingnya.

Terhitung pada tahun lalu,  cost of goods sold ARNA sebesar Rp 20.651 per meter persegi. Jumlah tersebut terendah dibandingkan para pesaingnya seperti PT Keramika Indonesia Assosiasi Tbk (KIAS) yang memiliki cost goods sold sebesar Rp 31.955 per meter persegi. Sedangkan cost goods sold  PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) yang tertinggi sebedar Rp 55.507 per meter persegi. 

Tak hanya itu, pabrik baru ARNA yang di Mojokerto, Jawa Timur juga memiliki nilai efisiensi yang cukup besar. Mulai dari harga gas yang terbilang murah di wilayah Jawa Timur hingga harga lahan yang murah karena perseron tak memilih kawasan industri sebagai lokasi pabrik. 

Hans pun menargetkan pendapatan ARNA dapat tumbuh di tahun ini menjadi Rp 1,61 triliun atau naik target tahun lalu sebesar Rp 1,58 triliun. Sedangkan untuk laba bersih ia menargetkan di tahun ini sebesar Rp 346,15 miliar naik dari target tahun lalu Rp 340,13 miliar.

Hans merekomendasikan buy dengan masing-masing menargetkan harga di Rp. 1.040 dan Rp 1.050. Senin (9/2) harga saham ARNA turun 4,66% menjadi Rp 920 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Uji Agung Santosa