Penjualan domestik Semen Indonesia bergairah di awal 2018



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tantangan industri semen dalam negeri memang belum usai, khususnya bagi PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Namun, emiten semen pelat merah ini setidaknya bisa sedikit sumringah di awal tahun ini. Sebab, permintaan semen domestik mulai menunjukkan gairah.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia Fahressi Fahalmesta menyebut, volume penjualan SMGR pada dua bulan pertama tahun ini terlihat membaik. Dibandingkan tahun sebelumnya, volume penjualan semen domestik SMGR tumbuh 2,2% year on year (yoy). Pada Januari-Februari 2017, volume penjualan domestik hanya tumbuh 1,8% yoy.

Jika menghitung pula penjualan ekspor, volume penjualan SMGR naik 6,6% dibandingkan penjualan Januari-Februari tahun lalu.


"Semoga ini menjadi pertanda bahwa permintaan semen domestik tahun ini bisa benar-benar pulih," ujar Fahressi, (28/3).

Memang, sentimen negatif dari kenaikan harga batubara serta berlanjutnya kelesuan sektor properti masih membayangi kinerja SMGR tahun ini. Asal tahu saja, sepanjang tahun lalu, laba bersih perusahaan tergerus hingga 55,5% dari Rp 4,52 triliun menjadi Rp 2,01 triliun. Biaya bahan baku dan pabrikasi yang kian menanjak membuat beban pokok pendapatan perusahaan melonjak 22% dari Rp 16,28 miliar menjadi Rp 19,85 miliar.

Untungnya, SMGR masih mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 6,4% menjadi Rp 27,81 triliun. Didukung oleh volume penjualan yang juga masih naik 10% yoy menjadi 28,91 juta ton.

Fahressi memproyeksi tahun ini pendapatan SMGR masih bisa tumbuh 7,6% menjadi Rp 29,92 triliun. Sementara, laba bersih naik 9,5% menjadi Rp 2,21 triliun. Faktor pendukungnya, masih dari proyek-proyek infrastruktur pemerintah

Namun, analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar berpendapat, valuasi saham SMGR kini termasuk mahal. Hitungannya, harga saat ini mencerminkan price to earning ratio (PER) sebesar 28 kali. Sementara, PER sektoral hanya 17 kali.

Untuk itu, William masih merekomendasi hold saham SMGR dengan target harga Rp 9.600 per saham. Begitu pula dengan Fahressi yang menurunkan rekomendasi untuk SMGR menjadi hold dengan target harga Rp 11.200 per saham.

Pada Rabu (28/3), harga SMGR ditutup di level Rp 9.875 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini