Penjualan Eceran Agustus Diproyeksi Tumbuh 0,5%, Melambat dari Juli 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja penjualan eceran diperkirakan tetap tumbuh pada Agustus 2026. Hal ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 yang secara tahunan diprakirakan tumbuh sebesar 0,5% year year (yoy), meski pertumbuhannya lebih rendah dari Juli 2026 yang sebesar 1,1% yoy.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menyampaikan, pertumbuhan penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh penjualan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori dengan indeks 150,0 atau tumbuh 10,1% yoy, diikuti oleh Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan indeks 317,6 atau tumbuh 0,7% yoy.

Sementara itu, secara bulanan, penjualan eceran pada Agustus 2026 diprakirakan terkontraksi sebesar 0,1% month to month (mtm), atau masih sama seperti bulan sebelumnya.


“Perkembangan tersebut dipengaruhi terutama oleh penurunan penjualan Kelompok Barang Lainnya di tengah pertumbuhan penjualan Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi 2,5% mtm, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 2,3% mtm, serta Kelompok Suku Cadang dan Aksesori 0,8% mtm,” tutur Denny dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

Secara spasial, pada Agustus 2026, pertumbuhan penjualan diprakirakan terjadi di beberapa kota cakupan survei secara tahunan dan bulanan. Secara tahunan, penjualan eceran di sebagian kota cakupan diprakirakan meningkat dengan pertumbuhan tertinggi terjadi di Manado dengan indeks 193,8 atau tumbuh 24,1% yoy, diikuti Medan dengan indeks 380,8 atau tumbuh 21,6% yoy dan Bandung dengan indeks 152,7, atau tumbuh 10,7% yoy.

Secara bulanan, penjualan di sebagian kota diprakirakan tumbuh meningkat, khususnya Medan dan Bandung yang mencatatkan pertumbuhan masing-masing sebesar 1,2% mtm dan 1,8% mtm.

Di beberapa kota lain, penjualan diprakirakan tumbuh melambat namun tetap kuat yaitu Manado 3,3% mtm, Denpasar 0,5% mtm, dan Semarang termasuk Purwokerto 0,4%, mtm. Sementara itu, kinerja penjualan di Banjarmasin mengalami perbaikan meski masih kontraksi sebesar 2,0% mtm.

Dari sisi harga, tekanan inflasi pada Oktober 2026 dan Januari 2027 diprakirakan menurun. Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 dan Januari 2027 yang masing-masing tercatat sebesar 146,5 dan 166,0, lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 155,2 dan 168,1.

Baca Juga: Bukan Mimpi! Prabowo Sebut Indonesia Bakal Jadi Ekonomi Terbesar Ke-4 Dunia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News