Penjualan Emiten Berpotensi Tertekan Imbas Penurunan Keyakinan Konsumen



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Optimisme masyarakat terhadap perekonomian nasional kembali turun. Ini tercermin dalam Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang melemah dari 120,9 pada Mei menjadi 117,8 pada Juni 2026. 

Indikator tersebut juga menunjukkan penurunan selama tiga bulan berturut-turut dan menjadi level terendah sejak September 2025.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan penurunan IKK memang merupakan sinyal bahwa optimisme masyarakat mulai berkurang, sehingga berpotensi mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga. 


"Ketika konsumen menjadi lebih berhati-hati, pengeluaran untuk barang-barang non-esensial biasanya akan ditunda, sehingga dapat menekan pertumbuhan penjualan emiten konsumer dan ritel," kata Nafan kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga: Cek Prospek Prodia Diagnostic Line (PRDL) Usai Kantongi Dana IPO Rp 62,75 Miliar

Namun demikian, kondisi saat ini belum dapat dikatakan suram karena IKK masih berada di atas level 100. Artinya, konsumen secara umum masih berada pada zona optimistis, meskipun tingkat optimisme tersebut mulai melemah. Dampaknya juga tidak akan merata pada seluruh subsektor.

Emiten yang bergerak di produk kebutuhan pokok atau consumer staples cenderung lebih resilien karena permintaan terhadap produk sehari-hari relatif stabil. Sebaliknya, emiten yang bergantung pada penjualan produk diskresioner seperti fesyen, furnitur, elektronik, hingga barang mewah akan lebih rentan terhadap pelemahan daya beli.

Oleh karena itu, penurunan IKK lebih tepat dipandang sebagai sinyal perlambatan pertumbuhan konsumsi, bukan indikasi bahwa seluruh sektor konsumer akan mengalami penurunan kinerja secara signifikan.

Nafan menyebut sejumlah emiten yang diperkirakan paling sensitif terhadap pelemahan keyakinan konsumen. Di antaranya PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), mengingat sebagian besar pendapatannya berasal dari penjualan produk fesyen, gaya hidup, dan ritel premium yang sangat dipengaruhi tingkat kepercayaan konsumen.

Selain itu, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) juga berpotensi terdampak karena penjualan perlengkapan rumah tangga maupun kebutuhan renovasi umumnya dapat ditunda ketika masyarakat mulai mengurangi pengeluaran.

Baca Juga: Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 117,8 Cermati Saham Rekomendasi Analis

Emiten lain yang dinilai rentan adalah PT MDS Retailing Tbk (LPPF) yang mengandalkan belanja masyarakat kelas menengah, serta PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), mengingat produk elektronik dan telepon genggam termasuk kategori pembelian yang dapat ditunda.

Di sisi lain, Nafan melihat emiten sektor kebutuhan pokok dan kesehatan masih memiliki daya tahan yang lebih baik. Saham-saham seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dinilai relatif defensif karena menjual produk kebutuhan pokok dan layanan kesehatan yang permintaannya cenderung tetap stabil meski daya beli masyarakat melemah.

"Investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu indikator, tetapi melihat keseluruhan kondisi makroekonomi, seperti inflasi, suku bunga, pertumbuhan PDB, penyerapan tenaga kerja, dan daya beli masyarakat," ujar Nafan.

Dari sisi rekomendasi saham, Nafan saat ini menyarankan add saham KLBF di target harga Rp 885 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News