KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Koalisi masyarakat sipil mendesak produsen otomotif memperbesar tanggung jawab atas emisi kendaraan yang mereka jual dan mempercepat transisi menuju kendaraan listrik. Desakan ini disampaikan pada hari terakhir Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Minggu (9/8/2026). Pihaknya menilai tanggung jawab produsen tidak berhenti pada produksi dan penjualan, tetapi juga mencakup emisi Scope 3 dari kendaraan berbahan bakar fosil dan hybrid yang telah beredar di jalan.
Baca Juga: Pasar Lesu, Produsen Otomotif Tetap Gas Rilis Mobil Listrik di AS Outreach and Advocacy Manager CERAH Bondan Andriyanu mengatakan pertumbuhan kendaraan listrik seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat peralihan ke kendaraan listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV). “Transisi ke BEV perlu dipercepat, bukan ditahan oleh teknologi hybrid,” ujar Bondan. Koalisi juga menyoroti kualitas udara Jakarta. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta yang mereka kutip, Jakarta hanya mengalami 2% hari dengan kualitas udara bersih sepanjang 2025. Juru Kampanye Satya Bumi Dhany Al Falah menilai produsen perlu ikut bertanggung jawab atas dampak lingkungan kendaraan yang dipasarkan. Menurut dia, pengembangan kendaraan hybrid berpotensi memperpanjang ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain elektrifikasi kendaraan, koalisi mendorong percepatan pengembangan energi terbarukan. Koaksi Indonesia menilai ketergantungan listrik Indonesia terhadap PLTU batubara tidak semestinya menjadi alasan untuk memperlambat adopsi kendaraan listrik. Sebaliknya, elektrifikasi dinilai dapat menjadi momentum untuk mempercepat masuknya energi terbarukan ke jaringan listrik nasional.
Baca Juga: Pasar Otomotif RI Mulai Bergeser ke EV, Kemenperin: Merek Jepang Harus Adaptif Koalisi juga menyoroti kendaraan komersial, khususnya truk. Mengutip kajian Institute for Essential Services Reform (IESR), populasi truk hanya sekitar 4% dari total kendaraan atau sekitar 6 juta unit, tetapi menyumbang hingga 30% emisi sektor transportasi darat. Campaign Lead Janji Jangan Ngebul Rafaela Xaviera mendorong produsen memasarkan truk listrik secara massal dengan harga terjangkau sekaligus membangun infrastruktur pengisian daya di jalur logistik nasional. Desakan tersebut muncul saat pasar kendaraan elektrifikasi Indonesia tumbuh pesat. Berdasarkan data wholesales Gaikindo, penjualan HEV, PHEV, dan BEV pada Januari-Juni 2026 mencapai 117.108 unit, naik 69,4% dibandingkan 69.134 unit pada periode yang sama tahun lalu. BEV menjadi kontributor terbesar dengan penjualan 69.739 unit, tumbuh 80,8% dari 38.576 unit. Penjualan HEV mencapai 42.366 unit atau naik 47%, sedangkan PHEV melonjak 187,4% menjadi 5.003 unit. Secara total, kendaraan elektrifikasi menyumbang sekitar 26,8% dari
wholesales kendaraan nasional sebanyak 436.564 unit pada semester I/2026.
Baca Juga: Davigo Dorong Percepatan Transisi Motor Listrik Lokal di Tengah Gejolak Harga Minyak Dengan pertumbuhan tersebut, koalisi menilai produsen perlu memperluas peran dari sekadar menjual kendaraan elektrifikasi menjadi membangun ekosistem pendukung, termasuk infrastruktur pengisian daya dan energi bersih. Sumber:
https://otomotif.kompas.com/read/2026/08/10/181253415/koalisi-masyarakat-soroti-tanggung-jawab-produsen-otomotif-soal-emisi?page=all#page2. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News