KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten yang memiliki eksposur terhadap ekosistem kendaraan listrik atau
electric vehicle (EV) dinilai masih positif pada Semester II-2026, seiring berlanjutnya pertumbuhan penjualan kendaraan elektrifikasi di Indonesia dan dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri tersebut. Berdasarkan data wholesales
Gaikindo, pada Semester I-2026, penjualan kendaraan elektrifikasi melonjak 69,4% secara tahunan atau
year-on-year (YoY) menjadi 117.108 unit. Kontribusinya mencapai 26,8% terhadap total
wholesales kendaraan nasional. Penjualan
battery electric vehicle (BEV) menjadi kontributor terbesar dengan 69.739 unit atau tumbuh 80,8% YoY. Analis Kiwoom Sekuritas Adrian Djie mengatakan, pertumbuhan ekosistem EV memberikan prospek positif bagi sejumlah emiten, khususnya perusahaan yang memiliki eksposur terhadap rantai pasok baterai.
Baca Juga: Prabowo Janjikan Arah Ekonomi Lebih Jelas, Pelaku Pasar Masih Tunggu Eksekusi Menurut dia, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menjadi salah satu emiten yang cukup diuntungkan dari momentum tersebut. Hal ini didukung oleh integrasi vertikal perusahaan, terutama melalui fasilitas smelter yang dapat menopang rantai pasok bahan baku baterai EV. "Prospek NCKL didukung oleh katalis positif yang mencakup keunggulan integrasi vertikal perseroan dari pabrik smelter untuk menopang rantai pasok baterai EV dan juga ASP nikel yang tinggi dibanding tahun sebelumnya," kata Adrian kepada Kontan, Jumat (14/8/2026). Ia menambahkan, kenaikan
average selling price (ASP) nikel dibandingkan tahun sebelumnya turut menopang kinerja operasional NCKL. Kondisi tersebut menjadi katalis tambahan di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Senada, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai prospek emiten EV pada Semester II-2026 masih sangat positif. Pertumbuhan penjualan pada paruh pertama tahun ini dinilai menjadi validasi pasar bahwa adopsi kendaraan listrik di Indonesia mulai memasuki fase
mass adoption. Menurut David, momentum tersebut berpotensi berlanjut pada paruh kedua 2026 seiring dengan semakin luasnya infrastruktur pengisian daya atau
charging station dan bertambahnya pilihan model kendaraan listrik di pasar domestik. "Pertumbuhan penjualan H1-2026 yang kuat memberikan
market validation bahwa adopsi EV di Indonesia mulai memasuki fase
mass adoption," ujar David. Dari sisi emiten, David membagi peluang ke dalam beberapa segmen. Untuk kendaraan listrik komersial, emiten seperti PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dinilai memiliki prospek karena fokus pada pengadaan bus dan truk listrik. Menurut David, segmen komersial dan fleet memiliki visibilitas pendapatan yang relatif lebih stabil karena dapat ditopang kontrak pengadaan armada transportasi publik maupun kebutuhan operasional korporasi. Sementara itu, PT Indika Energy Tbk (INDY) melalui merek ALVA dan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melalui Electrum berpotensi menangkap pertumbuhan segmen kendaraan listrik roda dua. Segmen tersebut mencakup pasar ritel maupun pengemudi ride-hailing. Di sisi lain, emiten pertambangan dan pengolahan mineral seperti NCKL, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dapat memperoleh manfaat secara tidak langsung dari peningkatan kebutuhan bahan baku baterai. David menilai dukungan pemerintah menjadi salah satu katalis penting bagi perkembangan ekosistem EV. Insentif seperti PPN ditanggung pemerintah, ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta keberlanjutan program elektrifikasi transportasi publik dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik. Selain itu, peluncuran merek kendaraan listrik nasional dan masuknya semakin banyak merek global juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap EV. Bertambahnya volume produksi juga berpotensi menciptaka
n economies of scale yang pada akhirnya menekan biaya produksi. "Peluncuran merek motor dan mobil listrik nasional dan partisipasi merek global tidak hanya meningkatkan
brand awareness, tetapi juga mendorong penurunan biaya produksi yang mempercepat pergantian dari kendaraan konvensional ke EV," jelas David. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Salah satunya adalah persaingan harga yang semakin ketat seiring masuknya produsen kendaraan listrik asal China ke pasar Indonesia. Persaingan tersebut berpotensi memicu perang harga dan menekan margin emiten yang bergerak di segmen kendaraan listrik. Selain itu, daya beli masyarakat, terutama segmen menengah bawah, masih sensitif terhadap suku bunga dan harga jual kendaraan. Keberlanjutan insentif pemerintah juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena perubahan atau berakhirnya kebijakan subsidi dapat memengaruhi tingkat permintaan kendaraan listrik. Sementara itu, Adrian mengingatkan risiko dari sisi rantai pasok nikel. Peningkatan kapasitas produksi nikel secara global berpotensi menciptakan tekanan pasokan yang kemudian menekan harga acuan nikel. "Dinamika pasokan nikel secara struktural di pasar global. Lonjakan kapasitas dari berbagai produsen ini dapat menekan patokan harga LME, yang berimbas langsung membatasi harga jual rata-rata," ujarnya. Untuk pilihan saham, David menempatkan VKTR dan INDY sebagai emiten yang menarik dicermati. VKTR didukung posisi sebagai
first mover di kendaraan listrik komersial, efisiensi pabrik
completely knocked down (CKD), serta peluang dari proyek armada publik.
Sementara INDY dinilai memiliki peluang melalui penetrasi merek ALVA sekaligus diversifikasi bisnis ke sektor energi terbarukan. Adapun Adrian memberikan rekomendasi
trading buy untuk NCKL dengan target harga Rp970 per saham. Ia menilai kombinasi integrasi bisnis, kenaikan ASP nikel, serta prospek pertumbuhan ekosistem baterai EV dapat menjadi katalis bagi kinerja perseroan.
Baca Juga: IHSG Rebound Sepekan, Pengumuman MSCI Masih Jadi Beban Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News