Penjualan ICBP Juli-Agustus Tumbuh 11%, Tapi Harga Bahan Baku Mulai Tekan Margin



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan penjualan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih menunjukkan tren pertumbuhan, terutama ditopang bisnis mi instan dan dairy. Namun, kenaikan harga bahan baku mulai menjadi tekanan bagi margin keuntungan produsen makanan konsumen tersebut.

Indo Premier Sekuritas dalam riset pada Rabu (30/9/2026) melihat penjualan ICBP pada Juli-Agustus 2026 masih tumbuh solid. Berdasarkan hasil pengecekan kanal distribusi (channel check) dengan perusahaan, penjualan ICBP pada periode tersebut diperkirakan tumbuh sekitar 11% secara tahunan.

Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra dalam riset mengatakan, tren tersebut relatif sejalan dengan kinerja ICBP pada kuartal II 2026. Pertumbuhan juga terbantu oleh efek basis rendah (low base effect) pada kuartal III 2025, ketika penjualan ICBP hanya tumbuh sekitar 0,8% secara year on year (yoy).


Baca Juga: Stimulus Rp 31 T Cair, Saham ICBP, AMRT, MYOR, MIDI Diprediksi Akan Diuntungkan

Selain mi instan, segmen dairy turut menjadi penopang pertumbuhan. Segmen tersebut telah mencatat pertumbuhan di atas industri FMCG secara keseluruhan sejak awal tahun fiskal 2026.

Pertumbuhan ICBP juga ditopang oleh kinerja penjualan luar negeri. Indo Premier melihat bisnis Pinehill, entitas bisnis bagian dari Indofood memperoleh manfaat dari ketegangan di Timur Tengah. 

Di saat produsen mi instan asal Korea Selatan menghadapi gangguan pasokan akibat keterbatasan fasilitas produksi di kawasan tersebut. Pinehill yang memiliki tiga fasilitas produksi di Arab Saudi, berada dalam posisinya yang lebih menguntungkan dalam memenuhi permintaan di kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan penjualan luar negeri ICBP yang mencapai 21,9% secara year on year (yoy) pada semester I 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5% YoY pada semester I 2025.

Indo Premier pun menaikkan proyeksi pertumbuhan penjualan ICBP pada tahun 2026 menjadi 8,4% YoY, dari proyeksi sebelumnya 4,7% YoY. Proyeksi tersebut juga berada di atas panduan manajemen yang berada di kisaran 5%-7% YoY.

Namun, pertumbuhan pendapatan yang kuat tersebut berhadapan dengan kenaikan biaya bahan baku.

Hasil channel check Indo Premier menunjukkan Bogasari telah menaikkan harga gandum domestik sekitar 5%-6% secara year-to-date (YTD). Kenaikan tersebut terjadi meski rupiah telah menguat sekitar 7% YTD terhadap dolar AS.

Tekanan juga datang dari harga crude palm oil (CPO) yang secara rata-rata telah meningkat sekitar 12,4% YTD.

Kenaikan harga CPO antara lain dipengaruhi oleh berkurangnya ketersediaan untuk ekspor karena sebagian pasokan dialihkan untuk memenuhi mandat B50 di Indonesia.

Indo Premier memperkirakan harga CPO masih akan bertahan di level tinggi pada tahun 2027. Proyeksi tersebut turut mempertimbangkan potensi fenomena El Nino pada 2026-2027, yang dapat mempengaruhi produksi kelapa sawit.

“Gandum dan CPO secara gabungan menyumbang sekitar 45% dari COGS ICBP,” tulis Andrianto dalam risetnya.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Consumer Staples ICBP, MYOR, CMRY dan SIDO untuk Senin (28/9)

Tekanan biaya bahan baku menjadi perhatian karena hingga saat ini ICBP belum menaikkan harga produk mi. Meski demikian, Indo Premier memperkirakan margin EBIT ICBP masih dapat bertahan dalam kisaran panduan 2026 sebesar 20%-22%.

Sebagai pembanding, margin EBIT ICBP mencapai 21,8% pada semester I 2026.

Kenaikan proyeksi penjualan ternyata belum cukup untuk mengimbangi tekanan terhadap margin. Indo Premier memangkas proyeksi gross profit margin (GPM) ICBP untuk 2026 dan 2027 masing-masing menjadi 34,3% dan 34,8%, dari proyeksi sebelumnya sebesar 35,2% dan 35,5%.

Dampaknya, proyeksi laba inti ICBP untuk 2026 dan 2027 masing-masing dipangkas 4,3% dan 3,3%.

“Pertumbuhan top-line yang kuat tidak cukup untuk mengimbangi tekanan GPM,” tulis Andrianto.

Dengan mempertimbangkan kombinasi pertumbuhan penjualan yang masih solid dan tekanan margin tersebut, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ICBP. Namun, target harga diturunkan menjadi Rp 10.800 per saham dari target sebelumnya.

Harga saham ICBP hingga pukul 09.22 WIB berada di Rp 6.650, naik 0,38% dari hari sebelumnya pada Jumat (2/10/2026). 

Target tersebut menggunakan valuasi 12 kali price-to-earnings (PE) FY2026, sesuai dengan rata-rata PE ICBP selama lima tahun.

Adapun risiko terhadap rekomendasi tersebut berasal dari potensi pertumbuhan penjualan yang lebih lemah dari perkiraan serta kenaikan harga bahan baku yang lebih tinggi dari ekspektasi.

Baca Juga: Harga Gandum dan Gula Naik, Begini Dampaknya pada Saham ICBP, MYOR, SIDO, dan CMRY

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News