KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja penjualan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih bergerak positif. Pertumbuhan ini ditopang oleh bisnis mi instan dan dairy. Namun, kenaikan biaya bahan baku diperkirakan akan menekan margin laba kotor perusahaan. Hal itu tertuang dalam riset Indo Premier Sekuritas yang dipublikasikan Rabu (30/9/2026). Berdasarkan hasil pengecekan kanal distribusi dengan perusahaan, Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra mengatakan penjualan ICBP sepanjang Juli-Agustus 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 11% secara tahunan (
year on year/yoy). "Pertumbuhan ini sebagian dibantu oleh basis perbandingan yang rendah pada kuartal III 2025, ketika penjualan hanya naik 0,8% yoy. Selain mi instan, segmen susu atau dairy juga tumbuh lebih cepat dibandingkan industri barang konsumsi secara umum sejak awal 2026," kata Andrianto dalam risetnya, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: Bitcoin Gagal Tembus US$ 87.000, Simak Level Penting Berikutnya Faktor lain datang dari luar negeri. Pinehill, anak usaha ICBP, dinilai diuntungkan oleh ketegangan di Timur Tengah. Para pesaing, yakni produsen mi instan asal Korea, mengalami gangguan pasokan karena tidak memiliki pabrik di kawasan tersebut, sementara Pinehill mengoperasikan tiga pabrik di Arab Saudi. Ini tecermin dari pertumbuhan penjualan luar negeri ICBP pada semester I 2026 sebesar 21,9% yoy, melonjak dari 5% yoy pada semester I 2025. Di sisi lain, tekanan terhadap marjin laba kotor (GPM) mulai terlihat. Hasil channel check menunjukkan Bogasari telah menaikkan harga tepung terigu domestik sebesar 5%-6% sepanjang tahun berjalan, di tengah penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah sekitar 7% secara year-to-date. Harga rata-rata minyak sawit mentah (CPO) juga naik 12,4% secara tahun berjalan, seiring berkurangnya pasokan ekspor karena lebih banyak dialihkan untuk mandat biodiesel B50 di dalam negeri. "Dampaknya cukup berarti karena gandum dan CPO secara gabungan menyumbang sekitar 45% dari harga pokok penjualan (COGS) ICBP. Di sisi lain, perusahaan belum menaikkan harga jual mie," ujar Andrianto. Meski demikian, Indo Premier memperkirakan margin EBIT ICBP masih dapat bertahan dalam kisaran panduan 2026 sebesar 20%-22%. Sebagai pembanding, margin EBIT ICBP mencapai 21,8% pada semester I 2026. Secara terpisah, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menerangkan prospek ICBP masih cukup solid meskipun kenaikan harga bahan baku berpotensi menekan margin. "Pertumbuhan penjualan sekitar 11% menunjukkan permintaan produk masih kuat, sehingga tekanan biaya lebih berpotensi tercermin pada margin laba kotor dibandingkan penurunan penjualan," terang Alrich. Untuk 2026, Alrich memperkirakan penjualan ICBP masih dapat tumbuh sekitar 8%–10% sementara pertumbuhan laba bersih berpotensi lebih moderat di kisaran 5%–8%, karena adanya tekanan dari kenaikan biaya bahan baku dan biaya operasional. Dari sisi strategi, Alrich menekankan agar perusahaan menjaga keseimbangan antara pricing dan volume penjualan. Kenaikan harga produk memang dapat menjadi opsi untuk menjaga margin, tetapi sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu volume penjualan dan daya beli konsumen. Efisiensi biaya dan optimalisasi product mix juga penting untuk menjaga profitabilitas.
Baca Juga: Kenaikan Harga Ayam Dorong Prospek Emiten Unggas, Ini Rekomendasi Saham Pilihannya Bagi investor, kenaikan biaya bahan baku sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai sinyal negatif terhadap ICBP. Yang lebih penting adalah melihat seberapa besar perusahaan mampu meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen dan mempertahankan volume penjualan. "ICBP memiliki jenama yang kuat dan jaringan distribusi luas, sehingga memiliki pricing power yang relatif baik," tambah Alrich.
Rekomendasi Saham Dengan mempertimbangkan kombinasi pertumbuhan penjualan yang masih solid dan tekanan margin tersebut, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ICBP. Namun, target harga diturunkan menjadi Rp 10.800 per saham dari target sebelumnya.
Target tersebut menggunakan valuasi 12 kali price-to-earnings (PE) FY2026, sesuai dengan rata-rata PE ICBP selama lima tahun. Sementara itu, Alrich melihat ICBP menarik untuk akumulasi secara bertahap, terutama apabila terjadi koreksi akibat kekhawatiran terhadap margin. Dengan asumsi pertumbuhan penjualan tetap solid dan tekanan margin dapat dikelola, Alrich melihat target harga di kisaran Rp12.000–Rp12.500 dalam horizon 12 bulan masih cukup realistis.
Baca Juga: Enam Bulan ke Depan, Gerak IHSG Terbatas dan Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.200 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News