Penjualan Logam Timah TINS Dorong Siklus Super Laba, Cek Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Timah Tbk (TINS) berada di ambang siklus super laba menyusul langkah tegas pemerintah dalam menertibkan tambang timah ilegal.

Penegakan hukum ini menjadi katalis utama yang berhasil mengembalikan pasokan bijih timah ke jalur resmi perusahaan, sekaligus mendongkrak volume penjualan dan profitabilitas secara signifikan. 

Kinerja keuangan TINS menunjukkan pemulihan yang impresif berkat pengetatan pengawasan terhadap tambang liar di Bangka Belitung.


Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (28/7), IHSG Berpeluang Rebound

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Ryan Santoso, mengatakan bahwa TINS membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,7 triliun pada semester I-2026.

Perolehan laba bersih tersebut melonjak 805% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada kuartal kedua 2026 saja, TINS mengantongi laba bersih Rp1,2 triliun, meski terkoreksi 19% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ), tetap melejit 563% YoY.

Pencapaian paruh pertama tahun ini tercatat melampaui estimasi porsi musiman karena telah memenuhi 90% dari target tahunan Ciptadana. 

Menurut Ryan, pendorong utama lonjakan performa TINS adalah kombinasi pertumbuhan volume dan harga.

Penertiban tambang ilegal secara konsisten terus mengalirkan bahan baku legal ke fasilitas peleburan (smelter) TINS.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Lanjut Melemah, Cek Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas (27/7)

Kondisi ini memicu kenaikan produksi bijih timah TINS sebesar 75% YoY menjadi 12.232 ton Sn pada semester I-2026.

Pada saat yang sama, volume penjualan logam timah perseroan melesat 84% YoY mencapai 10.984 ton. 

Pertumbuhan volume penjualan yang masif serta rata-rata harga jual (average selling price/ASP) sebesar USD 49.716 per ton mendorong pendapatan konsolidasi TINS melesat 147% YoY hingga mencapai Rp10,4 triliun.

 
TINS Chart by TradingView

Pasar ekspor mendominasi raihan omzet tersebut dengan porsi mencapai 97% dari total penjualan logam timah.

Prospek pendapatan TINS akan terus naik pada semester II-2026 seiring kokohnya permintaan dari sektor elektrifikasi dan semikonduktor.

Di samping itu, penurunan persediaan timah di bursa LME sejak Juli turut menopang kestabilan harga pasar. 

Dari sisi operasional, efisiensi biaya berhasil mendongkrak marjin laba kotor TINS ke level 39,0% pada paruh pertama 2026.

Ryan menyoroti keunggulan struktur biaya operasional perusahaan yang tetap terjaga ketat di tengah lonjakan volume produksi.

"Manajemen mengonfirmasi dalam pertemuan terbaru kami bahwa biaya bahan bakar semester I-2026 berhasil ditahan tetap datar melalui harga pemasok yang dikunci, yang turut menopang EBITDA sebesar Rp3,8 triliun," ungkap Ryan dalam risetnya, (29/7/2026).

Pencapaian EBITDA tersebut mengungguli ekspektasi pasar setelah merealisasikan 85% dari target penuh tahun 2026. 

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Bergerak Sideways, Cek Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas (29/7)

Senada, Analis Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, menilai penegakan hukum terhadap tambang liar sebagai pendorong utama kembalinya bijih timah (ore recapture) dari area konsesi TINS ke rantai pasok formal.

Pengetatan tata kelola ini mengarahkan penambang lokal untuk menjual hasil tambangnya ke saluran resmi milik TINS.

Jeremy memproyeksikan volume penjualan logam timah TINS akan bertumbuh secara bertahap mencapai 23,3 ribu ton pada 2026.

Tren kenaikan volume penjualan tersebut diperkirakan berlanjut naik ke posisi 27,7 ribu ton pada 2027 dan 32,2 ribu ton pada 2028. 

Kombinasi antara kenaikan volume pasokan dan harga timah global yang solid di kisaran USD 45.000 – USD 50.000 per ton diperkirakan membawa TINS masuk ke dalam siklus laba melimpah.

Jeremy memperkirakan pendapatan TINS tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 32% selama periode 2025–2028.

Sejalan dengan itu, laba bersih TINS diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 55% hingga menyentuh angka Rp4,7 triliun pada akhir tahun 2026. 

Selain itu, posisi TINS sebagai bagian dari holding BUMN pertambangan MIND ID di bawah naungan Danantara memberikan daya tarik tambahan bagi pemegang saham.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham & Prospek Unilever (UNVR) Saat Kinerja Naik di Semester I-2026

Kinerja arus kas yang melimpah membuka peluang peningkatan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) secara signifikan.

 "Generasi arus kas yang lebih kuat serta posisi TINS di dalam MIND ID dan Danantara juga dapat mendukung rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi, menghasilkan perkiraan rata-rata dividend yield sebesar 13,4% selama tahun fiskal 2026-2028," jelas Jeremy dalam risetnya, (24/7/2026).

Atas prospek kinerja yang kian solid , Ryan mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham TINS dengan target harga Rp 4.600 per saham.

Rekomendasi positif juga diberikan oleh Jeremy yang menginisiasi saham TINS dengan rekomendasi Buy dan target harga sebesar Rp 4.400 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: