KONTAN.CO.ID - PARIS. Pemulihan industri barang mewah global masih menghadapi tekanan setelah penjualan produk fesyen dan barang kulit LVMH pada kuartal III-2026 tidak memenuhi ekspektasi pasar. Pelemahan permintaan di China, khususnya terhadap merek andalan Louis Vuitton, kembali memunculkan keraguan mengenai prospek industri mewah senilai US$350 miliar yang telah mengalami perlambatan selama tiga tahun terakhir. LVMH, perusahaan barang mewah terbesar di dunia, sebelumnya memberikan sinyal perbaikan permintaan dari China pada tahun lalu. Laporan tersebut sempat mendorong kenaikan tajam saham perusahaan-perusahaan di sektor barang mewah.
Namun, kondisi terkini menunjukkan bahwa pelemahan industri tersebut berpotensi berlangsung lebih lama dan lebih dalam dari perkiraan sebelumnya. Pada Selasa (13/10/2026), saham LVMH yang tercatat di bursa Paris turun 1,5% hingga pukul 08.50 GMT. Harga sahamnya diperdagangkan mendekati level terendah dalam lebih dari enam tahun.
Baca Juga: Nobel Ekonomi 2026 Diraih Robert Hall dan Michael Woodford, Ini Kontribusinya Tekanan pasar juga meluas ke perusahaan barang mewah Eropa lainnya. Sejak awal tahun, kelompok perusahaan barang mewah terkemuka di Eropa telah kehilangan sekitar 330 miliar euro atau setara US$369,1 miliar dalam kapitalisasi pasar. LVMH sendiri mengalami penurunan nilai pasar sekitar 40%. Analis JPMorgan menilai tekanan terhadap sektor barang mewah masih berpotensi berlanjut. "Terlepas dari pelemahan harga saham baru-baru ini, kami memperkirakan tekanan lebih lanjut terhadap sektor ini secara keseluruhan hari ini, dengan adanya konfirmasi bahwa pasar China tampaknya mengalami penurunan yang signifikan, bahkan lebih besar dari yang dikhawatirkan," tulis analis JPMorgan dalam catatan kepada klien.
Permintaan China Menjadi Tantangan Industri Barang Mewah
China telah menjadi mesin utama pertumbuhan industri barang mewah global selama hampir dua dekade. Namun, penjualan di negara tersebut mengalami perlambatan setelah berakhirnya lonjakan konsumsi pascapandemi. Pertumbuhan ekonomi yang lemah dan krisis sektor properti turut memengaruhi daya beli konsumen. Kondisi ini semakin menekan permintaan terhadap produk premium, termasuk fesyen, tas, jam tangan, dan perhiasan. Selain itu, pengetatan pengawasan pajak terhadap kelompok masyarakat kaya di China menjadi tantangan baru bagi merek-merek barang mewah. Laporan kinerja LVMH turut memicu penyesuaian ekspektasi pasar. Lima analis dari perusahaan sekuritas menurunkan target harga saham LVMH dengan rata-rata sebesar 7% setelah perusahaan tersebut merilis laporan keuangan kuartalan. Laporan LVMH menjadi salah satu indikator awal kinerja industri barang mewah global pada kuartal III-2026. Pelemahan yang terjadi juga menimbulkan kekhawatiran bahwa sejumlah pesaingnya akan menghadapi kondisi serupa.
Baca Juga: Saham AI Berguguran, Investor Khawatir Biaya Modal Naik dan Belanja Melambat Pada perdagangan Selasa, saham perusahaan barang mewah lainnya, yakni Hermes, Kering, dan Richemont, juga melemah antara 1% hingga 2,2%.
Pemulihan Louis Vuitton Diperkirakan Membutuhkan Waktu
LVMH pada Senin (12/10/2026) melaporkan penurunan penjualan organik sebesar 5% pada divisi fesyen dan barang kulit. Divisi tersebut menyumbang hampir separuh dari total pendapatan grup. Kinerja ini lebih buruk dibandingkan konsensus analis Visible Alpha yang memperkirakan penurunan sebesar 1,8%. Secara keseluruhan, LVMH mencatat pertumbuhan penjualan organik sebesar 1% menjadi 18,5 miliar euro atau sekitar US$20,68 miliar. Angka tersebut tidak memperhitungkan dampak perubahan nilai tukar mata uang dan masih di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,3%. Perusahaan menyebut kondisi pasar China yang "kurang bergairah" telah memengaruhi pendapatannya. Asia, dengan China sebagai pasar dominan, menyumbang lebih dari seperempat total penjualan LVMH. Chief Financial Officer LVMH Cecile Cabanis mengatakan pemulihan Louis Vuitton tidak dapat berlangsung secara instan. "Pemulihan ini membutuhkan sedikit waktu, tetapi saya rasa tidak ada banyak jalan pintas untuk mencapainya," kata Cabanis. Menurut Cabanis, Louis Vuitton sejauh ini menghindari langkah drastis, seperti memangkas harga produk. Perusahaan memilih berfokus pada berbagai inisiatif jangka panjang untuk memperkuat kinerja merek tersebut.
Baca Juga: ASEAN Butuh Investasi Energi US$ 14,1 Triliun hingga 2060, Ini Pendorongnya Strategi ini menunjukkan bahwa LVMH berupaya mempertahankan posisi mereknya di segmen premium di tengah melemahnya permintaan konsumen.
Pertumbuhan Jam Tangan dan Perhiasan Ikut Melambat
Tekanan terhadap LVMH juga terlihat pada divisi jam tangan dan perhiasan yang menaungi merek seperti Bulgari dan Tiffany. Pertumbuhan penjualan organik divisi tersebut melambat menjadi 6%, dibandingkan 9% pada paruh pertama 2026. Perlambatan ini menjadi perhatian investor karena segmen jam tangan dan perhiasan sebelumnya merupakan salah satu penopang kinerja industri barang mewah di tengah tekanan pasar. Perubahan tren tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa pelemahan permintaan tidak hanya terjadi pada produk fesyen dan barang kulit, tetapi mulai meluas ke kategori barang mewah lainnya. Dengan permintaan China yang belum menunjukkan pemulihan kuat, industri barang mewah global masih menghadapi ketidakpastian. Kinerja LVMH pada kuartal III-2026 pun menjadi sinyal bahwa pemulihan sektor ini kemungkinan membutuhkan waktu lebih panjang daripada yang diharapkan pasar.