KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (
ICBP) masih menunjukkan pertumbuhan kuat, ditopang bisnis mi instan dan produk olahan susu (dairy). Namun, kenaikan harga bahan baku mulai menjadi risiko bagi margin laba perseroan. Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra mengatakan, berdasarkan pengecekan kanal distribusi, penjualan ICBP pada Juli-Agustus 2026 diperkirakan tumbuh sekitar 11% secara tahunan (yoy).
Pertumbuhan ini juga terbantu basis rendah pada kuartal III-2025, ketika penjualan hanya tumbuh 0,8% yoy. Selain mi instan, segmen dairy juga mencatat pertumbuhan lebih cepat dibandingkan industri barang konsumsi secara umum sejak awal 2026.
Baca Juga: Stimulus Rp 31 T Cair, Saham ICBP, AMRT, MYOR, MIDI Diprediksi Akan Diuntungkan Kinerja penjualan turut didukung bisnis internasional melalui Pinehill. Ketegangan di Timur Tengah menguntungkan produsen mi instan yang memiliki fasilitas produksi di kawasan tersebut, termasuk Pinehill yang mengoperasikan tiga pabrik di Arab Saudi. Kondisi ini membantu pertumbuhan penjualan luar negeri ICBP pada semester I-2026 hingga 21,9% yoy, jauh di atas pertumbuhan 5% yoy pada periode sebelumnya. Di sisi biaya, tekanan mulai meningkat. Hasil pengecekan kanal distribusi menunjukkan harga tepung terigu domestik yang dipasok Bogasari telah naik sekitar 5%-6% sepanjang 2026. Pada saat yang sama, rupiah melemah sekitar 7% terhadap dolar AS secara year-to-date (ytd).
Harga minyak sawit mentah (CPO) juga meningkat 12,4% secara ytd akibat pasokan ekspor yang berkurang karena sebagian produksi dialihkan untuk memenuhi mandat biodiesel B50 di dalam negeri. "Tekanan biaya cukup berarti karena gandum dan CPO menyumbang sekitar 45% dari COGS ICBP," kata Andrianto.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Emiten Batubara: ITMG, AADI, PTBA, dan BUMI Tekanan tersebut berpotensi menggerus margin laba kotor karena hingga kini ICBP belum menaikkan harga jual mi instan. Meski demikian, Indo Premier memperkirakan margin laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) masih berada dalam kisaran panduan 2026 sebesar 20%-22%. Pada semester I-2026, margin EBIT ICBP tercatat 21,8%. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai prospek ICBP masih solid. Menurut dia, pertumbuhan penjualan sekitar 11% menunjukkan permintaan terhadap produk ICBP masih kuat, sehingga kenaikan biaya lebih berpotensi menekan margin dibandingkan mengganggu penjualan. Untuk 2026, Alrich memperkirakan penjualan ICBP tumbuh 8%-10%, sedangkan laba bersih diperkirakan hanya tumbuh 5%-8% akibat tekanan biaya bahan baku dan operasional. Dari sisi saham, Indo Premier mempertahankan rekomendasi buy ICBP, tetapi menurunkan target harga menjadi Rp10.800 per saham.
Baca Juga: Intip Rekomendasi Saham Pilihan Emiten Batubara untuk Hari Ini (5/10) Sementara Phintraco Sekuritas menilai saham ICBP masih menarik untuk diakumulasi bertahap, terutama jika terkoreksi akibat kekhawatiran terhadap margin. Dengan asumsi pertumbuhan penjualan tetap solid dan tekanan margin dapat dikelola, Alrich memperkirakan target harga ICBP dalam 12 bulan berada di kisaran Rp12.000-Rp12.500 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News