KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Astra International Tbk (ASII) hingga akhir 2026 dinilai masih cukup positif, seiring pemulihan pasar otomotif nasional. Berdasarkan data semester I-2026, penjualan mobil Astra tercatat tumbuh 10% secara tahunan (
year-on-year/YoY) menjadi 222.371 unit. Sementara itu, penjualan mobil nasional meningkat lebih tinggi, yakni 16% YoY menjadi 436.567 unit. Kinerja tersebut turut mendorong pangsa pasar Astra tetap kuat di atas 50%.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai, posisi tersebut memberikan keunggulan bagi Astra dalam menangkap pemulihan permintaan kendaraan pada paruh kedua tahun ini.
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Teknikal Saham ADRO, CMRY, CPIN untuk Rabu (15/7) “Dengan pangsa pasar yang tetap berada di atas 50%, Astra masih memiliki posisi yang kuat untuk menangkap pemulihan permintaan kendaraan pada semester kedua,” ujar Ekky kepada Kontan, Selasa (14/7/2026). Ia menambahkan, besarnya pangsa pasar tidak hanya berdampak pada penjualan kendaraan, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap lini bisnis lainnya. “Pangsa pasar yang besar juga tidak hanya mendukung penjualan kendaraan, tetapi memberikan efek positif terhadap bisnis pembiayaan, asuransi, komponen, dan layanan purnajual,” jelasnya. Meski demikian, Ekky mengingatkan bahwa pertumbuhan penjualan Astra yang masih di bawah pertumbuhan pasar nasional menunjukkan adanya peningkatan kompetisi, terutama dari produsen kendaraan listrik dan hybrid. Untuk semester II-2026, ia melihat sejumlah katalis yang dapat menjaga momentum pertumbuhan kinerja ASII. “Katalis utama berasal dari berlanjutnya pemulihan daya beli, peluncuran model baru, pameran otomotif, serta meningkatnya permintaan kendaraan hybrid,” ungkapnya. Selain itu, ekosistem bisnis Astra yang terintegrasi juga menjadi nilai tambah karena mampu mendorong kontribusi lintas segmen usaha. Namun, sejumlah tantangan masih membayangi kinerja perseroan. Di antaranya adalah suku bunga yang masih relatif tinggi, tekanan daya beli masyarakat, serta pelemahan nilai tukar rupiah. “Persaingan harga yang semakin agresif juga menjadi risiko yang perlu dicermati,” tambah Ekky. Ia juga menyoroti bahwa kinerja konsolidasi Astra tidak hanya ditopang oleh segmen otomotif. “Pelemahan harga komoditas dan penurunan kontribusi bisnis alat berat serta pertambangan melalui United Tractors masih dapat menahan pertumbuhan laba secara keseluruhan,” paparnya. Secara keseluruhan, Ekky menilai prospek ASII masih positif, meski pertumbuhan laba berpotensi cenderung moderat. “Pemulihan otomotif dan jasa keuangan menjadi katalis utama, sementara bisnis alat berat dan pertambangan masih menjadi faktor risiko,” ujarnya. Dari sisi rekomendasi, ia menyarankan strategi
trading buy atau
buy on weakness untuk saham ASII.
Secara teknikal, level Rp5.000 menjadi resistance terdekat. Jika mampu menembus level tersebut dengan volume yang kuat, saham ASII berpotensi melanjutkan penguatan ke kisaran Rp5.400-Rp5.600 per saham. Sementara target lanjutan berada di area Rp6.000-Rp6.100 per saham.
Baca Juga: Pasar Menanti Pidato Ketua The Fed, Begini Proyeksi Rupiah Rabu (15/7) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News