Penjualan Mobil Cetak Rekor, Ini Saham Otomotif Pilihan Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemulihan pasar otomotif nasional mulai menunjukkan sinyal yang semakin kuat. Penjualan mobil pada Agustus 2026 mencatatkan capaian tertinggi sepanjang tahun, baik dari sisi distribusi kendaraan dari pabrikan ke diler maupun transaksi langsung kepada konsumen.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), volume distribusi mobil dari pabrikan ke diler atau wholesales pada Agustus 2026 mencapai 81.756 unit.

Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang 2026, sekaligus melampaui rekor sebelumnya pada Februari 2026 yang mencapai 81.247 unit.


Penguatan juga terlihat pada penjualan ritel atau retail sales, yakni transaksi kendaraan dari diler kepada konsumen. Pada Agustus 2026, retail sales mencapai 83.422 unit.

Angka tersebut menjadi pertama kalinya sepanjang 2026 penjualan ritel menembus level 80.000 unit. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan pasar otomotif tidak hanya berasal dari sisi distribusi, tetapi mulai diikuti peningkatan permintaan konsumen.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan prospek emiten otomotif dan komponen masih cukup positif seiring penjualan mobil nasional yang kembali menguat.

Baca Juga: Harga Emas dan Perak Belum Kembali Bullish, Kenaikan Yield US Treasury Jadi Penahan

Performa wholesales Agustus mencapai 81.756 unit atau naik 32,4% secara tahunan (YoY), sementara retail sales tumbuh 25,5% YoY menjadi 83.422 unit. Menurut Elandry, kondisi tersebut menunjukkan perbaikan baik dari sisi distribusi diler maupun permintaan konsumen.

Jika tren tersebut berlanjut, emiten otomotif berpeluang mencatatkan peningkatan volume penjualan dan utilisasi produksi yang pada akhirnya dapat mendukung perbaikan margin.

"Dari sisi saham, sentimen ini positif, tetapi pergerakannya tetap akan dipengaruhi valuasi, earnings growth, dan sentimen pasar secara keseluruhan," kata Elandry kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).

Penjualan Mobil Naik, Saham Tetap Selektif

Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla mengatakan kenaikan penjualan mobil belum tentu secara otomatis mendorong seluruh saham otomotif untuk ikut menguat.

Menurutnya, pasar tetap akan memperhatikan kualitas pertumbuhan masing-masing emiten, termasuk margin, pangsa pasar, pembiayaan, hingga valuasi saham.

Di sisi lain, Thoriq mencermati capaian retail sales yang untuk pertama kalinya pada tahun ini menembus 80.000 unit. Menurut dia, perbaikan pasar otomotif mulai terlihat secara lebih menyeluruh karena peningkatan tidak hanya terjadi pada distribusi dari pabrikan ke diler, tetapi juga pada permintaan konsumen.

Baca Juga: Indika Energy (INDY) Dirikan Anak Usaha Baru, Garap Bisnis Rental hingga Mobil Bekas

Dari sisi emiten, PT Astra International Tbk (ASII) menjadi salah satu contoh bahwa pemulihan pasar otomotif mulai tercermin dalam kinerja perusahaan.

Pada semester I-2026, laba bersih bisnis otomotif Astra tumbuh 9% menjadi Rp5,9 triliun. Sementara itu, kontribusi bisnis komponen naik 23% menjadi Rp921 miliar.

Pada periode yang sama, penjualan mobil nasional tumbuh 16% menjadi 437.000 unit. Penjualan grup Astra meningkat 10%, sedangkan pangsa pasar Toyota-Daihatsu serta merek Astra lainnya masih berada di sekitar 51%.

"Meski demikian, saya tidak melihat kondisi ini sebagai alasan untuk membeli semua saham otomotif," ujar Thoriq.

Kenaikan volume penjualan memang menjadi katalis positif. Namun, hal yang lebih penting bagi investor adalah seberapa besar pertumbuhan volume tersebut mampu dikonversi menjadi laba.

Dengan demikian, pasar berpotensi memberikan apresiasi lebih tinggi kepada emiten yang mampu menjaga margin, mempertahankan pangsa pasar, memiliki neraca yang sehat, serta mencatatkan pertumbuhan laba secara konsisten.

Suku Bunga Masih Jadi Tantangan

Dari sisi makroekonomi, perkembangan suku bunga juga masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.

Suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini berada di level 5,75%. Kondisi tersebut membuat biaya pembiayaan kendaraan masih menjadi salah satu tantangan bagi konsumen.

Meski demikian, kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga likuiditas dan mendorong penyaluran kredit dapat menjadi faktor pendukung bagi pemulihan permintaan kendaraan apabila transmisi kebijakan moneter ke sektor pembiayaan semakin kuat.

Karena sebagian besar pembelian kendaraan bermotor dilakukan melalui pembiayaan, perubahan suku bunga dan kebijakan kredit berpotensi memengaruhi daya beli konsumen serta penjualan kendaraan ke depan.

Saham Otomotif Pilihan

Di tengah pemulihan pasar otomotif nasional, Elandry melihat sejumlah saham sektor otomotif dan komponen yang menarik untuk dicermati, yakni ASII, AUTO, dan DRMA.

ASII dinilai relatif lebih defensif karena memiliki ekosistem otomotif yang lengkap sekaligus bisnis yang terdiversifikasi. Dengan karakter tersebut, kinerja ASII tidak semata-mata bergantung pada penjualan kendaraan.

Baca Juga: Investor SR025 Tak Sekadar Kejar Imbal Hasil, Tenor Pendek Lebih Diminati

Sementara itu, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dinilai sebagai penerima manfaat langsung dari peningkatan produksi kendaraan. Kenaikan produksi kendaraan berpotensi meningkatkan kebutuhan komponen otomotif.

Adapun PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) menarik bagi investor yang mengincar pertumbuhan lebih tinggi karena ekspansi dan pertumbuhan kinerja perusahaan masih cukup kuat.

Selain ketiga saham tersebut, PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) juga dapat dicermati karena memiliki eksposur terhadap pasar aftermarket dan ekspor. Diversifikasi tersebut membuat sumber pendapatan perusahaan tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan kendaraan baru.

Sementara itu, Thoriq menilai prospek emiten otomotif dan komponen semakin konstruktif. Namun, potensi kenaikan harga saham tetap akan berlangsung selektif karena bergantung pada kemampuan masing-masing perusahaan dalam mengonversi pertumbuhan volume menjadi pertumbuhan laba.

ASII menjadi pilihan utama Thoriq karena memiliki skala bisnis, pangsa pasar, serta integrasi usaha yang kuat.

Untuk segmen komponen otomotif, AUTO menjadi pilihan favorit karena pertumbuhan labanya lebih tinggi. Model bisnis aftermarket juga membuat AUTO tidak sepenuhnya bergantung pada penjualan mobil baru.

AUTO memiliki jaringan 49 main dealer, 27 sales office, lebih dari 15.000 toko spare parts, serta 667 outlet retail. Perseroan juga mulai membangun eksposur terhadap komponen kendaraan listrik atau xEV dan charging equipment.

Sementara itu, DRMA dinilai lebih menarik bagi investor agresif. Pada semester I-2026, pendapatan DRMA tumbuh 13,8% menjadi Rp3,16 triliun, sedangkan laba bersih meningkat 17,8% menjadi sekitar Rp283 miliar.

Penjualan roda empat bahkan tumbuh 36%. Dari sisi struktur permodalan, debt to equity ratio (DER) berada di sekitar 0,13 kali.

DRMA juga terus melakukan ekspansi ke ekosistem kendaraan listrik, termasuk melalui pengembangan fast charging roda dua dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 50%.

GJTL Cetak Laba Tinggi, Waspadai Taking Profit

Selain saham otomotif dan komponen, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) juga memiliki fundamental yang cukup kuat.

Penjualan GJTL pada semester I-2026 meningkat menjadi Rp9,0 triliun dari sebelumnya Rp8,52 triliun. Sementara itu, laba bersih melonjak 76,8% menjadi Rp796 miliar.

Namun, investor perlu memperhatikan pergerakan harga saham GJTL. Pada 9 September 2026, harga saham GJTL berada di sekitar Rp1.380 per saham dan telah menguat 31,6% secara year to date (YTD).

Baca Juga: Kejar Produksi Batubara 22,9 Juta Ton, UBS Naikkan Target Harga ITMG Jadi Rp 30.000

Kenaikan harga yang cukup signifikan tersebut membuka potensi aksi ambil untung atau taking profit apabila investor mulai merealisasikan keuntungan.

Strategi Investor dan Rekomendasi Saham

Elandry menyarankan investor tetap selektif dan tidak hanya mengejar kenaikan penjualan bulanan.

Sejumlah sentimen yang perlu diperhatikan antara lain keberlanjutan permintaan setelah efek GIIAS, daya beli konsumen, biaya bahan baku, persaingan harga, serta perkembangan kendaraan listrik yang berpotensi mengubah struktur industri komponen otomotif.

Untuk investor konservatif, Elandry lebih menyukai ASII. Sementara itu, AUTO dan DRMA dinilai lebih menarik bagi investor yang mencari pertumbuhan lebih tinggi dengan tingkat risiko yang juga lebih besar.

"Momentum sektor masih positif, tetapi strategi buy on weakness lebih ideal dibanding mengejar harga ketika sudah naik terlalu cepat," jelas Elandry.

Thoriq juga mengingatkan investor agar tetap selektif dan tidak sekadar membeli saham otomotif karena penjualan nasional mencetak rekor.

Kenaikan volume penjualan memang menjadi katalis positif, tetapi yang lebih penting adalah melihat emiten yang mampu menerjemahkan pertumbuhan penjualan tersebut menjadi pertumbuhan laba yang berkelanjutan.

Untuk strategi perdagangan, Thoriq menyarankan buy saham ASII di level Rp4.850, dengan target harga Rp5.125-Rp5.300 dan stop loss Rp4.720 per saham.

Sementara itu, AUTO direkomendasikan buy pada kisaran Rp3.340-Rp3.360, dengan target harga Rp3.520 dan stop loss Rp3.260 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News