KONTAN.CO.ID - BEIJING. Penjualan mobil di China terus turun. China Passenger Car Association (CPCA) mengumumkan, Senin (8/6/2026), penjualan mobil di Mei turun 22,3% secara tahunan menjadi 1,53 juta unit. Dengan demikian, penjualan mobil di China telah mengalami penurunan selama delapan bulan berturut-turut. Penjualan mobil sepanjang tahun ini diperkirakan akan turun 11%, turun drastis dari perkiraan penurunan 1% sebelumnya. “Penurunan ini terutama mencerminkan dampak krisis di Timur Tengah, yang mengakibatkan krisis energi, pada penjualan mobil berbahan bakar bensin,” kata Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal CPCA, seperti dikutip
Reuters, Senin (8/6/2026).
Baca Juga: Xi Jinping Temui Kim Jong Un, China-Korea Utara Perkuat Aliansi Strategis Secara akumulasi, untuk lima bulan pertama tahun ini, penjualan turun 19,7% menjadi 7,18 juta kendaraan. Cui memperkirakan akan terjadi pemulihan bertahap di paruh kedua tahun ini. Penjualan kendaraan listrik atawa
electric vehicle (EV) dan mobil hibrida plug-in, yang mencakup 62,2% dari total penjualan, turun 7,5% dari tahun sebelumnya bulan lalu. Ini merupakan penurunan selama lima bulan berturut-turut. Penjualan EV dan kendaraan listrik hibrida plug-in di luar negeri meningkat 112,6% pada Mei dibandingkan tahun sebelumnya, dibandingkan dengan peningkatan 74,7% dalam ekspor mobil secara keseluruhan.
Baca Juga: Industri Penerbangan Global Pangkas Proyeksi Laba 2026 Akibat Konflik Timur Tengah Kemerosotan yang berkepanjangan makin menegaskan kesenjangan yang melebar antara pertumbuhan ekonomi utama China dan permintaan konsumen untuk barang-barang mahal seperti mobil. Pemerintah Beijing menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5%-5% tahun ini. Tapi, para pakar mengatakan permintaan otomotif terpukul kepercayaan konsumen yang lebih lemah, pengurangan subsidi, serta kondisi pasar yang sudah matang setelah bertahun-tahun mengalami ekspansi pesat. "Pasar otomotif China sudah menjadi yang terbesar di dunia dengan penjualan ritel tahunan mencapai 23 juta hingga 25 juta unit dan tingkat kepemilikan mobil relatif tinggi, terutama untuk pasar negara berkembang. Ini berarti pasar sudah berada pada tahap perkembangan yang matang," kata Eugene Hsiao, Kepala Strategi Ekuitas China Macquarie Capital.
Baca Juga: Investor Jepang Getol Jual Saham Global Capai Rp 270 Triliun, Terbesar Sejak 2021 Hsiao mengatakan, ia memperkirakan pasar ritel otomotif China secara keseluruhan akan tumbuh pada tingkat satu digit selama lima hingga sepuluh tahun ke depan. Ini sudah memperhitungkan potensi produsen EV terkemuka dapat terus melampaui pasar yang lebih luas seiring meningkatnya penetrasi. Bulan lalu, CEO NIO William Li mengatakan industri otomotif China kemungkinan telah melewati era keemasannya, karena permintaan domestik stagnan meskipun ekspor tetap kuat. Meskipun NIO masih fokus pada pasar domestik, banyak pesaingnya telah beralih ke ekspor.
Penurunan penjualan domestik ini juga menghantam produsen otomotif global yang beroperasi di China, terutama Volkswagen. Perusahaan ini mencoba mempertahankan posisi historisnya sebagai pemimpin di China melalui strategi EV yang lebih cepat dan lebih terlokalisasi.
Baca Juga: Citi Kerek Target S&P 500 ke 8.100, Optimistis AI Dorong Laba Perusahaan Bill Russo, CEO perusahaan konsultan Automobility yang berbasis di Shanghai, mengatakan, memisahkan operasi ritel EV dari jaringan diler tradisional dapat menjadi langkah strategis yang logis. Tetapi strategi ini juga menciptakan risiko terkait konsistensi merek, akuisisi pelanggan, dukungan purna jual, dan skala ritel. "Produsen OEM tradisional yang mencoba membangun struktur penjualan EV paralel sering menghadapi fragmentasi organisasi dan respons pasar yang lebih lambat," kata Russo.