Penjualan Mobil China Melesat, Dominasi Merek Jepang di Indonesia Mulai Terkikis?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan mobil asal China di pasar otomotif Indonesia mencatatkan pertumbuhan signifikan pada kuartal I-2026.

Kenaikan ini menandai semakin kuatnya penetrasi merek-merek otomotif China di tengah persaingan industri kendaraan domestik yang kian ketat.

Penjualan Mobil Nasional Naik Tipis, China Makin Dominan

Berdasarkan data dari Gaikindo, total penjualan mobil secara wholesales pada kuartal I-2026 mencapai 209.021 unit, meningkat 1,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 205.539 unit.


Di tengah pertumbuhan moderat pasar otomotif nasional tersebut, merek-merek asal China justru mencatatkan akselerasi yang lebih kuat. Total penjualan mobil dari kelompok merek China mencapai 36.875 unit, dengan pangsa pasar 17,6% dari total pasar domestik.

Baca Juga: Investasi Rp 1 Triliun, Jotun Perkuat Pasar Cat Dekoratif Indonesia lewat Pabrik Baru

BYD Pimpin Penjualan Mobil China di Indonesia

Di antara para pemain asal China, BYD menjadi pemimpin pasar dengan penjualan wholesales sebanyak 12.473 unit. Capaian ini ditopang oleh beragam model, seperti Atto 1, Atto 3, Sealion 7, M6, Seal, hingga Dolphin.

Sementara itu, posisi kedua ditempati Jaecoo dengan penjualan 8.065 unit. Performa ini didorong oleh kehadiran Jaecoo J5 EV yang mulai dipasarkan sejak akhir 2025.

Di posisi ketiga, Wuling Motors membukukan penjualan 3.594 unit di periode yang sama.

Faktor Pendorong: Harga Kompetitif hingga Transisi EV

Ketua I Gaikindo, Jongkie D Sugiarto, menilai peningkatan penetrasi merek China dipengaruhi oleh kombinasi harga yang lebih kompetitif, fitur yang semakin lengkap, serta peningkatan kualitas produk.

Menurutnya, dinamika ini justru menjadi sinyal positif bagi industri otomotif nasional karena dapat mendorong investasi jangka panjang.

“Nantinya merk-merk yang sukses di Indonesia akan lanjut berinvestasi (lebih ke Indonesia) juga,” ungkap Jongkie kepada KONTAN, Selasa (14/4/2026).

Dalam jangka panjang, keberhasilan penjualan di pasar Indonesia dinilai dapat mendorong produsen untuk memperkuat basis produksi lokal, termasuk pembangunan fasilitas perakitan.

Baca Juga: Strategi XLSmart Telecom (EXCL) Bidik Pelanggan Mobile hingga Korporasi pada 2026

Perubahan Perilaku Konsumen Dorong EV dan Hybrid

Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai kenaikan pangsa pasar merek China juga dipengaruhi oleh perubahan preferensi konsumen di tengah ketidakpastian global, khususnya terkait energi dan harga bahan bakar.

“Dengan terjadinya perang diselat Hormuz masyarakat kuatir harga bbm akan naik, kemungkinan akan langka. Wajarlah, tetangga sudah naik harganya, di Aussie mulai langka,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa persepsi konsumen terhadap mobil China kini mengalami perubahan signifikan seiring meningkatnya kualitas dan fitur kendaraan.

Bebin juga menyoroti potensi besar segmen kendaraan listrik (EV) dan hybrid dalam membentuk ulang struktur industri otomotif nasional.

“Kita amati saja apakah minat pada EV & hybrid bisa berlangsung lama? Jika jawabnya iya, trend otomotif Indonesia akan mengalami pergeseran,” ujar Bebin.

Toyota Masih Memimpin Pasar Otomotif Indonesia

Meski persaingan semakin ketat, pasar otomotif nasional masih dipimpin oleh merek asal Jepang, Toyota.

Secara wholesales, Toyota mencatat penjualan 60.584 unit pada kuartal I-2026, dengan pangsa pasar sekitar 29%. Sementara itu, penjualan retail mencapai 64.416 unit.

Head of Public Relation & Motorsport Toyota-Astra Motor, Philardi Sobari, menilai meningkatnya kompetisi merupakan sinyal positif bagi industri, meski pasar masih menghadapi tantangan permintaan.

“Saat ini jumlah brand yang hadir di market Indonesia meningkat signifikan lipat dibandingkan 3 tahun-5 tahun tahun lalu. Di sisi lain, peningkatan pemain tidak ter-refleksikan dari capaian jumlah total angka penjualan tahunan. Bahkan sejak dua tahun terakhir market masih kesulitan menembus angka penjualan di atas 1 juta unit,” ungkap Philardi.

Ia menegaskan bahwa yang perlu menjadi perhatian utama bukan hanya persaingan antar brand, melainkan kondisi total pasar otomotif yang belum sepenuhnya pulih.

Potensi Besar, Namun Rasio Kepemilikan Masih Rendah

Indonesia memang masih menjadi pasar otomotif terbesar di kawasan ASEAN. Namun, tingkat kepemilikan kendaraan roda empat masih tergolong rendah, yakni sekitar 99 unit per 1.000 penduduk.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Topping Off Pembangunan RSJPD Harapan Kita–Tokushukai

Sebagai perbandingan, Malaysia berada di kisaran 400-an unit per 1.000 penduduk, sementara Thailand sekitar 200-an unit.

Philardi menekankan perlunya kolaborasi seluruh pelaku industri untuk mengoptimalkan potensi pasar yang masih sangat besar tersebut.

Toyota Fokus pada Solusi Mobilitas

Dari sisi strategi, Toyota menegaskan komitmennya untuk tetap berfokus pada kebutuhan konsumen di tengah kondisi ekonomi yang menantang.

Perusahaan tidak hanya menjual produk, tetapi juga menghadirkan solusi mobilitas yang terintegrasi melalui ekosistem layanan yang komprehensif, mulai dari pembelian, layanan purna jual, hingga nilai jual kembali.

“Hal ini diwujudkan melalui ekosistem yang komprehensif bekerjasama dengan banyak mitra lokal, mulai dari proses pembelian, layanan purna jual, hingga nilai jual kembali. Inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama Toyota sebagai perusahaan mobilitas di Indonesia,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: