KONTAN.CO.ID - Penjualan mobil di pasar domestik China terus melemah selama 12 bulan berturut-turut. Di tengah lesunya permintaan dalam negeri, ekspor menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri otomotif China dengan mencatatkan kenaikan lebih dari 70% pada September 2026. Mengutip
Reuters, Senin (12/10/2026), penjualan mobil penumpang di China turun 28,1% secara tahunan menjadi 1,63 juta unit pada September. Penurunan ini lebih dalam dibandingkan Agustus yang tercatat sebesar 23,7%, berdasarkan data China Passenger Car Association (CPCA).
Baca Juga: Harga Minyak Brent Bertahan di Atas US$ 100 Senin (12/10), Ini Pendorongnya Sebaliknya, ekspor mobil China melonjak 73,2% secara tahunan menjadi 923.000 unit pada September. Meski masih tumbuh tinggi, laju kenaikan tersebut sedikit melambat dibandingkan Agustus yang mencapai 77,5%. Pelemahan pasar domestik juga terlihat pada segmen kendaraan energi baru atau
new energy vehicles (NEV), yang mencakup mobil listrik berbasis baterai dan mobil hibrida plug-in. Penjualan kedua jenis kendaraan tersebut di pasar domestik turun 16,7% secara tahunan menjadi 1,08 juta unit pada September, lebih dalam dibandingkan penurunan 10,1% pada Agustus. Di sisi lain, pertumbuhan ekspor kendaraan listrik dan hibrida plug-in China justru semakin kencang. Laju ekspornya mencapai 163,5% pada September, meningkat dari pertumbuhan 154,7% pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan: Saham HYBE dan JYP Melemah, Saham Kosmetik Menguat Sekretaris Jenderal CPCA Cui Dongshu menilai, pembatasan ekspor mobil hibrida plug-in diperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap keseluruhan ekspor NEV China. Pasalnya, mobil listrik murni masih memegang peran dominan dalam ekspor kendaraan energi baru negara tersebut. Pasar domestik melemah, produsen bidik pasar luar negeri Melemahnya penjualan domestik mencerminkan tekanan ekonomi China yang lebih luas. Belanja konsumen yang belum pulih kuat dan berkepanjangannya penurunan sektor properti turut membebani permintaan kendaraan. Kondisi tersebut mendorong produsen otomotif China semakin mengandalkan pasar luar negeri untuk menopang penjualan. Namun, ekspansi ekspor juga menghadapi potensi hambatan perdagangan, terutama di pasar Eropa.
Baca Juga: Turki, Pakistan, Mesir & Arab Saudi Mengutuk Serangan Houthi Terhadap Bandara Riyadh Pada Jumat, Kepala Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic mengatakan China dan Uni Eropa telah mencapai kesepakatan yang berpotensi memangkas ekspor mobil hibrida China ke blok tersebut hingga separuh dalam empat tahun. Meski demikian, rincian mengenai batas volume ekspor serta ketentuan pengiriman yang melampaui kuota tersebut masih belum jelas.
Di dalam negeri, regulator China juga mulai menggeser perhatian dari pertumbuhan industri menuju aspek keselamatan dan nilai produk. Pemerintah mengusulkan aturan yang dapat membatasi peluncuran kendaraan secara terburu-buru sebelum melalui proses validasi yang memadai. Langkah tersebut menjadi tantangan tambahan bagi produsen otomotif China, yang harus menjaga pertumbuhan di tengah pelemahan permintaan domestik sekaligus menghadapi ketidakpastian perdagangan di pasar ekspor.
Baca Juga: Bursa China Melemah, Tertekan Kenaikan Imbal Hasil Global dan Gejolak Geopolitik