KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan mobil nasional pada Februari 2026 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat penjualan mobil secara wholesales mencapai sekitar 81.159 unit, sementara penjualan ritel mencapai 78.219 unit. Angka tersebut naik dua digit baik secara bulanan maupun tahunan, sehingga memunculkan pertanyaan apakah kenaikan ini menjadi sinyal pemulihan bagi industri otomotif nasional. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu menilai kenaikan penjualan pada Februari memang dapat dibaca sebagai sinyal awal perbaikan, namun masih terlalu dini untuk menyebutnya sebagai pemulihan struktural industri otomotif.
Menurutnya, lonjakan penjualan tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh faktor momentum pameran otomotif yang berlangsung sebelumnya. “Data Gaikindo yang menunjukkan wholesales sekitar 81.159 unit dan retail sekitar 78.219 unit memang naik dua digit, tetapi secara kronologis lonjakan ini sangat mungkin dipengaruhi faktor event-driven, terutama efek gabungan SPK pameran Gaikindo Jakarta Auto Week 2025 dan SPK Indonesia International Motor Show 2026 yang bookingannya terealisasi di Februari,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga: Penjualan Mobil Februari 2026 Naik Dua Digit, Tembus 81.159 Unit Ia menjelaskan percepatan pengiriman kendaraan dari pesanan sebelumnya, serta pembelian kendaraan dalam jumlah besar oleh perusahaan atau pembeli fleet juga ikut mendorong peningkatan penjualan bulan tersebut. “Jadi pembacaan yang lebih rasional adalah Februari lebih tepat disebut rebound teknikal berbasis promosi dan momentum pra-Ramadan, bukan bukti bahwa ekonomi makro kita membaik secara cepat sehingga daya beli masyarakat khususnya middle income class yang jadi biggest buyers mobil sudah pulih merata kembali,” jelasnya. Yannes menilai prospek industri otomotif hingga akhir 2026 masih berada pada posisi
cautiously optimistic, yakni memiliki peluang tumbuh tetapi tetap dibayangi sejumlah risiko. Target penjualan mobil nasional sekitar 850.000 unit pada 2026, menurutnya, akan sangat bergantung pada perkembangan penjualan hingga pertengahan tahun. “Salah satu kantong pertumbuhan yang mulai terlihat adalah peningkatan penjualan HEV, PHEV dan terutama BEV. Pangsa BEV pada 2025 sudah mendekati sekitar 12–13% dari pasar nasional dan tren model HEV maupun PHEV juga terus meningkat,” katanya.
Baca Juga: Penjualan Mobil Nasional Menguat, Penjualan Astra Ikut Naik pada Februari 2026 Selain elektrifikasi kendaraan, pendorong lain bagi pasar otomotif berasal dari peluncuran model baru, program kredit kendaraan yang lebih fleksibel, serta momentum pameran otomotif berikutnya seperti Gaikindo Indonesia International Auto Show yang digelar pada pertengahan tahun. Meski demikian, ia mengingatkan adanya sejumlah faktor eksternal yang berpotensi menekan industri otomotif. Di antaranya risiko kenaikan harga bahan bakar akibat gangguan pasokan energi global serta volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. “Kondisi tersebut bisa memicu inflasi serta mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam membeli kendaraan. Selain itu, transmisi suku bunga kredit kendaraan juga cenderung rigid karena lembaga pembiayaan mengantisipasi tren kenaikan NPL,” ujarnya. Di sisi lain, keberadaan kendaraan niaga dalam daftar penjualan nasional juga menunjukkan aktivitas sektor produktif masih berjalan.
Menurut Yannes, posisi merek kendaraan niaga seperti Mitsubishi Fuso dan Isuzu yang masuk dalam daftar 10 besar penjualan nasional menandakan sektor logistik dan distribusi barang masih cukup aktif. “Secara historis kendaraan niaga memang sering menjadi penyangga pasar ketika penjualan mobil penumpang sedang mengalami koreksi. Jadi lonjakan Februari juga bisa dipicu oleh pembelian kolektif perusahaan untuk replacement fleet di sektor logistik dan distribusi,” katanya.
Baca Juga: Penjualan Mobil Januari 2026 Naik 7%, Ini 10 Merek Terlarisnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News