KONTAN.CO.ID - Penjualan kendaraan listrik (
electric vehicle/EV) global turun 3% secara tahunan pada Januari menjadi hampir 1,2 juta unit, tertekan oleh perlambatan di China dan Amerika Serikat (AS). Dilansir
Reuters dari data konsultan Benchmark Mineral Intelligence (BMI) pada Jumat (13/2/20206). Penurunan terjadi setelah China memberlakukan pajak pembelian baru dan mengurangi subsidi EV, sementara perubahan kebijakan di AS turut menekan permintaan.
Baca Juga: Converse PHK Karyawan Korporat, Selaraskan Operasi dengan Strategi Nike Tekanan Global terhadap Industri EV Perlambatan ini terjadi di tengah tekanan besar terhadap produsen otomotif global. Dalam setahun terakhir, sejumlah pabrikan dengan eksposur besar ke pasar AS membukukan penurunan nilai (
writedown) sekitar US$55 miliar, seiring mereka memangkas ambisi kendaraan listrik di pasar AS yang dinilai menantang di bawah Presiden Donald Trump. Selain itu, perang harga di China dan dinamika regulasi di Eropa turut memperumit transisi menuju elektrifikasi. Uni Eropa dan China, sebagai pasar EV terbesar dunia, juga melonggarkan sejumlah regulasi yang sebelumnya dirancang untuk mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik.
Baca Juga: OpenAI Tuduh DeepSeek China Latih Model AI Lewat Distillation dari Model AS Rincian Angka Penjualan Berdasarkan data BMI yang mencakup kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) dan plug-in hybrid (PHEV): China: Penjualan turun 20% menjadi kurang dari 600.000 unit — level terendah dalam hampir dua tahun. Amerika Utara: Turun 33% menjadi sedikit di atas 85.000 unit. Di AS, penjualan EV pada Januari tercatat sebagai yang terendah sejak awal 2022. Eropa: Naik 24% menjadi lebih dari 320.000 unit, meski menjadi laju pertumbuhan paling lambat sejak Februari tahun lalu. Wilayah lain dunia: Melonjak 92% menjadi hampir 190.000 unit, tertinggi sepanjang sejarah, didorong insentif di Thailand serta pertumbuhan kuat di Korea Selatan dan Brasil.
Baca Juga: AS-Taiwan Teken Kesepakatan Dagang, Pangkas Tarif & Tingkatkan Pembelian Barang AS China Andalkan Ekspor Manajer data BMI, Charles Lester mengatakan, ekspor EV China diperkirakan terus meningkat. “Kami melihat semakin banyak ekspor EV dari China dan memperkirakan tren ini berlanjut sepanjang 2026, dengan target berbagai wilayah termasuk Asia Tenggara yang mencatat pertumbuhan kuat dalam beberapa bulan terakhir,” ujarnya.
Baca Juga: Peringatan Standard Chartered: Bitcoin Bakal Anjlok ke US$ 50.000 Dulu? Hybrid Makin Populer Di tengah perlambatan EV murni, kendaraan hybrid semakin diminati sebagai kompromi antara mobil listrik penuh dan mesin pembakaran internal.
Namun, sejumlah pakar menilai kehadiran “mild hybrid” yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil hanya memberikan kontribusi terbatas terhadap penurunan emisi karbon. Para pendukung elektrifikasi menekankan pentingnya transisi cepat untuk menekan emisi CO₂ penyebab pemanasan global, sementara produsen otomotif memperingatkan bahwa peralihan terlalu cepat dapat mengancam profitabilitas dan lapangan kerja.