KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penjualan mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) untuk pertama kalinya melampaui mobil berbahan bakar bensin di Uni Eropa pada Desember lalu. Data dari asosiasi industri otomotif Eropa, ACEA, yang dirilis Selasa menunjukkan pergeseran penting dalam preferensi konsumen di tengah dinamika regulasi emisi dan persaingan ketat di pasar otomotif. Pendaftaran mobil listrik berbasis baterai—yang menjadi indikator penjualan—juga melampaui mobil bensin di pasar Eropa yang lebih luas, mencakup Inggris dan Norwegia. Hal ini terjadi seiring penjualan mobil di kawasan tersebut mencatat pertumbuhan tahunan selama enam bulan berturut-turut.
Baca Juga: Dolar AS Sulit Bangkit Selasa (27/1), Pasar Fokus ke Rapat The Fed Persaingan di pasar Eropa semakin memanas dengan masuknya merek-merek China seperti BYD, Changan, dan Geely. Di saat yang sama, produsen mobil Eropa seperti Volkswagen dan BMW juga mempercepat peluncuran model-model kendaraan listrik terbaru mereka. Pada Desember, Uni Eropa mengumumkan rencana untuk membatalkan larangan efektif mobil bermesin pembakaran internal pada 2035. Kebijakan ini diambil setelah adanya tekanan dari produsen mobil yang menghadapi tantangan dari rival China, tarif impor dari Amerika Serikat, serta kesulitan menjual kendaraan listrik secara menguntungkan.
Pangsa Pasar EV Diperkirakan Terus Meningkat
Meski demikian, para analis memperkirakan kendaraan listrik tetap akan terus memperbesar pangsa pasarnya di Eropa.
Baca Juga: Setelah 844 Hari, Israel Matikan Jam Penanda Waktu Sejak Serangan 7 Oktober Sekretaris Jenderal E-Mobility Europe, Chris Heron, mengatakan produsen mobil Eropa mulai beradaptasi dengan menghadirkan model EV yang lebih terjangkau, didukung berbagai skema insentif baru dari masing-masing negara. “Kami melihat adanya penerimaan konsumen terhadap tren ini. Kami yakin penjualan di seluruh Eropa akan terus tumbuh pada 2026,” ujar Heron.
BYD Melonjak, Tesla Turun
Secara keseluruhan, pendaftaran kendaraan di Eropa, Inggris, dan negara-negara Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA) untuk Volkswagen dan Stellantis masing-masing naik 10,2% dan 4,5% pada Desember. Sementara itu, pendaftaran Renault turun 2,2%. Pendaftaran Tesla pada bulan tersebut turun 20,2%, sedangkan BYD justru melonjak tajam hingga 229,7%, menandakan agresivitas produsen China dalam merebut pasar Eropa.
Penjualan Mobil Uni Eropa Naik Hampir 6%
Data ACEA menunjukkan penjualan mobil di Uni Eropa, Inggris, dan EFTA naik 7,6% menjadi 1,2 juta unit pada Desember, serta meningkat 2,4% menjadi 13,3 juta unit sepanjang 2025. Angka ini merupakan volume tertinggi dalam lima tahun terakhir, meski masih di bawah level sebelum pandemi.
Baca Juga: Emas Tembus Rekor, Begini Proyeksi Morgan Stanley hingga Paruh Kedua 2026 Khusus di Uni Eropa, total penjualan mobil naik 5,8% menjadi hampir satu juta unit pada Desember, dan meningkat 1,8% menjadi 10,8 juta unit sepanjang tahun. Pendaftaran mobil listrik berbasis baterai, plug-in hybrid, dan hybrid masing-masing melonjak 51%, 36,7%, dan 5,8% pada Desember. Ketiganya secara kolektif menyumbang 67% dari total pendaftaran kendaraan di kawasan tersebut.
Analis otomotif independen, Matthias Schmidt, menilai penurunan penjualan mobil bensin sebagian dipengaruhi oleh reklasifikasi sejumlah model menjadi kategori “mild hybrid” yang hanya sedikit berkontribusi pada penurunan emisi. “Masih dibutuhkan sekitar setengah dekade sebelum mobil listrik murni benar-benar mengungguli mobil bermesin pembakaran di seluruh kawasan. Namun ini tetap menjadi awal yang penting,” ujarnya.