Penjualan Mobil Naik 13,9% hingga Agustus 2026, Angin Segar bagi Asuransi Kendaraan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan penjualan mobil baru menjadi angin segar bagi industri asuransi umum, khususnya lini asuransi kendaraan bermotor.

Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo menilai kenaikan penjualan mobil berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan premi asuransi kendaraan.

Secara akumulatif, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil ritel nasional pada periode Januari hingga Agustus 2026 tumbuh 13,9%.


Ia berkata, peluang tersebut juga ditopang oleh pola pembelian mobil baru di Indonesia yang mayoritas dilakukan melalui skema kredit atau leasing.

"Di mana kepemilikan asuransi kendaraan bersifat wajib selama masa tenor guna memitigasi risiko kredit," ujarnya kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).

Meski begitu, pendapatan premi asuransi kendaraan disebut tidak naik setinggi persentase kenaikan penjualan mobil karena berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat pertumbuhan premi asuransi kendaraan sebesar 4,9% YoY pada semester I-2026.

Baca Juga: Premi Asuransi Kendaraan Bermotor Capai Rp 9,85 Triliun pada Semester I-2026

Ini menunjukkan bahwa masih ada sejumlah tantangan yang membayangi lini asuransi kendaraan.

Salah satu tantangan industri adalah perubahan komposisi pasar otomotif yang semakin banyak ditopang kendaraan listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Industri asuransi masih menghadapi keterbatasan data historis klaim kendaraan listrik, sementara biaya perbaikan, komponen, dan baterai relatif tinggi.

Kondisi tersebut turut menjadi tantangan dalam proses underwriting. Di sisi lain, tekanan daya beli dan suku bunga bisa menahan pembelian kendaraan secara jangka panjang. Persaingan tarif premi juga berpotensi menekan margin ketika perusahaan asuransi harus menjaga harga tetap kompetitif di tengah kenaikan biaya perbaikan.

Selain itu, perubahan atau berakhirnya insentif pemerintah untuk sektor otomotif juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi volume penjualan mobil baru.

Baca Juga: Masih Terbuka Peluang Bisnis Asuransi Kendaraan Tumbuh hingga Akhir 2026

Namun, industri masih bisa membidik pertumbuhan dari peluang yang ada. Irvan menilai, pelaku industri perlu mengoptimalkan segmen kendaraan listrik dan hybrid, termasuk melalui pilihan kendaraan elektrifikasi dengan harga yang lebih terjangkau.

Penguatan pembiayaan kendaraan juga diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat. Dealer dan perusahaan pembiayaan dapat bekerja sama menghadirkan skema kredit yang lebih fleksibel, seperti suku bunga lebih rendah, tenor lebih panjang, atau uang muka yang lebih ringan.

Di sisi lain, perluasan layanan purna jual dan ketersediaan suku cadang juga penting untuk menjaga kepercayaan konsumen. Khusus kendaraan listrik, garansi baterai yang lebih komprehensif dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi kekhawatiran konsumen.

Dengan penjualan mobil yang masih tumbuh, peluang bagi industri asuransi kendaraan tetap terbuka. Namun, pertumbuhan tersebut perlu diikuti dengan penguatan underwriting dan pengelolaan risiko agar peningkatan premi tetap sejalan dengan kualitas portofolio dan kemampuan industri mengelola klaim.

Baca Juga: Premi Asuransi Kendaraan Tumbuh 4,9%, Kendaraan Listrik Jadi Perhatian

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News