KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri asuransi kendaraan bermotor diproyeksikan mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2026 seiring pemulihan pasar otomotif dan meningkatnya penjualan kendaraan baru. "Peningkatan unit baru berbanding lurus dengan permintaan perlindungan asuransi, terutama untuk pembelian kredit," ujar Pengamat Asuransi, Irvan Rahardjo kepada Kontan, Jumat (15/5/2026). Menurutnya, peningkatan penjualan kendaraan baru umumnya berbanding lurus dengan kebutuhan perlindungan asuransi, terutama pada pembelian kendaraan melalui skema kredit.
Baca Juga: Asuransi YOII Siapkan Strategi Prudent untuk Perkuat Bisnis Asuransi Kendaraan Mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), wholesales mobil pada April 2026 mencapai 80.776 unit atau naik sekitar 55% secara tahunan. Irvan menilai kenaikan tersebut bukan sekadar tren sesaat, meskipun sebagian dipengaruhi rendahnya basis pembanding tahun lalu. Irvan menambahkan geliat industri otomotif umumnya turut menjadi pendorong bagi industri pendukung, termasuk sektor asuransi umum. Apalagi, ada sejumlah peluang yang berpotensi turut mendorong pertumbuhan bisnis lini ini. Salah satunya adalah perkembangan kendaraan listrik atau
electric vehicle (EV) juga dinilai membuka peluang baru bagi industri asuransi kendaraan bermotor. Peluang lain juga datang dari perkembangan teknologi
insurtech yang mempermudah proses pembelian polis dan layanan klaim secara digital. Menurutnya, inovasi produk dan distribusi digital membuat asuransi kendaraan semakin mudah diakses, khususnya oleh generasi muda.
Baca Juga: Hindari Gagal Bayar, Pembiayaan LKM BKD Kabupaten Pekalongan Turun 28,2% di Maret Selain itu, wacana penerapan asuransi wajib tanggung jawab hukum pihak ketiga atau
third party liability (TPL) juga dinilai berpotensi meningkatkan penetrasi asuransi kendaraan secara signifikan di masa mendatang. Meski prospeknya positif, industri asuransi kendaraan masih menghadapi sejumlah tantangan.
Salah satunya berasal dari tingginya biaya klaim kendaraan listrik akibat mahalnya komponen baterai dan biaya perbaikan. Termasuk keterbatasan bengkel khusus kendaraan listrik dan distribusi suku cadang yang belum merata berpotensi meningkatkan profil dan biaya klaim perusahaan asuransi. Di sisi lain, tekanan daya beli masyarakat dan perlambatan ekonomi juga dinilai membuat konsumen semakin sensitif terhadap harga sehingga dapat menekan pertumbuhan premi. Selain itu, rendahnya literasi asuransi masyarakat serta tingginya ketergantungan industri terhadap perusahaan pembiayaan atau
leasing juga masih menjadi tantangan bagi industri asuransi kendaraan bermotor. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News