Penjualan online ACES berpotensi kurang maksimal



JAKARTA. Pemerintah menyetujui masuknya pemodal asing ke industri e-commerce lokal. Mereka bisa masuk 100%, tapi dengan syarat menggandeng mitra lokal.

Ini tentunya merupakan sentimen positif bagi peritel yang juga baru mengembangkan layanan jual beli online tersebut, seperti PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES).

"Tentunya positif, tapi juga enggak terlalu signifikan," ujar Jennifer Natalia Widjaja, analis Ciptadana Securities kepada KONTAN, (21/1).


Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini. Pertama, merubah kebiasaan belanja offline ke online itu membutuhkan waktu.

Kedua, barang yang dijual di gerai Ace Hardware merupakan barang kebutuhan sekunder. Bukan kebutuhan primer seperti pakaian atau makanan. Sehingga, perputaran permintaannya pun tidak secepat permintaan barang-barang primer tersebut.

Karakteristik seperti inilah yang membuat kontribusi penjualan online ACES bisa menjadi kurang maksimal. Bahkan, di Amerika Serikat (AS) saja yang notabenenya telah memiliki sistem jual beli online yang sudah maju pun juga tetap kurang maksimal. Kontribusi penjualan online Ace hardware di AS hanya sekitar 2% hingga 3%.

Matthew Wibowo, analis Mandiri Sekuritas sependapat. Dibukanya pintu bagi investor asing untuk masuk ke sektor e-commerce tidak serta merta memberikan dampak positif yang signifikan bagi ACES.

Dalam risetnya tanggal 19 Januari lalu Matthew bilang, tren perubahan kebiasaan dari offline itu memang membutuhkan waktu. Tapi, bukan berarti hal ini menjadi mustahil.

Sebab, perlahan tapi pasti perubahan tersebut sudah mulai terlihat. "Apalagi, infrastrukturnya sekarang bertambah baik seperti soal logistik dan koneksi internet dari operator," imbuhnya.

Melihat kondisi seperti itu, Jennifer merekomendasikan hold ACES dengan target harga Rp 780 per saham. Sementara Matthew neutral dengan target harga Rp 775 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto