KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Astra International Tbk (
ASII) pada 2026 dinilai masih cukup menarik meski menghadapi sejumlah tantangan dari sisi komoditas dan daya beli. Pemulihan permintaan otomotif domestik serta strategi perusahaan memperkuat portofolio kendaraan elektrifikasi, khususnya
hybrid, berpotensi menjadi penopang utama kinerja grup Astra pada tahun ini. Analis Ciptadana Sekuritas Asia Christopher Rusli menilai prospek segmen otomotif pada tahun buku 2026 masih cukup positif. Ia memperkirakan penjualan mobil roda empat (
wholesales) pada tahun ini dapat membaik dibandingkan tahun sebelumnya dan berpotensi mencapai sekitar 900.000 unit.
Baca Juga: Jelang Libur Lebaran, IHSG Berpotensi Volatil di Tengah Sentimen Global Menurut Christopher, pangsa pasar ASII diperkirakan kembali ke kisaran 52%, seiring meningkatnya permintaan kendaraan
hybrid di pasar domestik. Di sisi lain, penjualan kendaraan listrik atau
electric vehicle (EV) diperkirakan melambat setelah sejumlah insentif keuangan untuk pembelian kendaraan listrik mulai dihentikan. “Berakhirnya pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk pembelian kendaraan listrik baru berpotensi menyeimbangkan kembali daya saing harga antar teknologi kendaraan,” ujar Christopher dalam riset, 5 Maret 2026. Sama halnya, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand memperkirakan kinerja ASII tetap solid seiring strategi perusahaan memperkuat portofolio kendaraan elektrifikasi, khususnya model
hybrid di berbagai segmen. “Astra juga akan mendorong kinerja melalui peluncuran model baru, optimalisasi jaringan distribusi yang kuat melalui merek seperti Toyota dan Daihatsu, serta peningkatan efisiensi operasional di lini otomotif,” jelas Abida kepada Kontan, Senin (9/3/2026). Selain strategi elektrifikasi, katalis lain bagi ASII pada 2026 berasal dari pemulihan permintaan otomotif domestik, pertumbuhan pembiayaan kendaraan melalui unit jasa keuangan Astra, serta kontribusi bisnis alat berat melalui PT United Tractors Tbk (UNTR) yang masih ditopang aktivitas sektor tambang dan konstruksi. Dari sisi makro, stabilitas suku bunga, perbaikan daya beli masyarakat, serta kelanjutan proyek infrastruktur juga berpotensi menjadi sentimen positif bagi kinerja grup Astra.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Technical Rebound pada Selasa (10/3), Ini Rekomendasi Analis Untuk diketahui, ASII membukukan pendapatan sebesar Rp 323,39 triliun pada 2025 atau minus 1,5% YoY. Segmen HEMCE (
Heavy Equipment, Mining, Construction & Energy) dan Otomotif, yang merupakan kontributor terbesar terhadap pendapatan ASII, masing-masing mencatat penurunan pendapatan secara tahunan sebesar 2,3% dan 8,2%. Christopher pun memperkirakan segmen HEMCE milik ASII akan menghadapi penurunan kinerja pada sepanjang 2026. Operasi penambangan emas masih terhenti meskipun izin operasinya tetap berlaku. Selain itu, produksi baru akan kembali berjalan di awal kuartal II 2026 berpotensi menurunkan pendapatan dari bisnis emas sekitar 25% - 30% secara tahunan. Selain itu, potensi pengurangan produksi batu bara pada 2026 dapat menekan kontribusi dari TTA dan PAMA. “Secara keseluruhan, kami memproyeksikan laba dari segmen HEMCE pada tahun 2026 akan turun sekitar 17% dibandingkan proyeksi awal kami,” lanjut Christoper.
Research Analyst Phintraco Sekuritas Ratna Lim mencatat penjualan mobil PT Astra International Tbk (ASII) di pasar domestik turun 6,7% secara tahunan (YoY) pada 2025. Penurunan ini mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat, khususnya di segmen entry-level. Di tengah persaingan yang semakin ketat, ASII juga mencatat penurunan penjualan mobil sebesar 15,2% YoY pada segmen non-LCGC (
Low Cost Green Car) dan 29,6% YoY pada segmen LCGC. Meski demikian, pangsa pasar ASII pada segmen non-LCGC masih cukup kuat di level 51% dari sebelumnya 56%, sementara pada segmen LCGC meningkat menjadi 75% dari sebelumnya 74%.
Baca Juga: Momentum THR Lebaran, BBCA Optimistis Minat Investasi di SR024 Meningkat Sementara itu, penjualan sepeda motor ASII tercatat tumbuh tipis 0,8% YoY pada 2025, sejalan dengan kenaikan penjualan sepeda motor nasional yang meningkat 1,2% YoY. Dengan capaian tersebut, ASII mampu mempertahankan pangsa pasar sepeda motor sebesar 78%. Di sisi lain, Ratna menilai bisnis pertambangan emas turut diuntungkan oleh kenaikan harga jual rata-rata yang melonjak sekitar 40%, meskipun volume penjualan emas tercatat turun 2% YoY. “Peningkatan harga jual rata-rata dan volume penjualan CPO juga mendorong pertumbuhan pada segmen agribisnis,” jelas Ratna dalam risetnya, 6 Maret 2026. Dari sisi
bottom line, laba bersih ASII dibukukan sebesar Rp 32,76 triliun di tahun 2025, menurun 3,33% dari periode tahun 2024 senilai Rp 33,9 triliun akibat melemahnya harga batu bara dan pasar mobil.
Christopher memperkirakan laba bersih perusahaan ini diproyeksikan menurun dibandingkan realisasi tahun 2025, yakni di kisaran Rp 31,40 triliun. Kemudian pendapatan diperkirakan hanya mencapai Rp 319,35 triliun. Dengan berbagai faktor dan katalis di atas, Christoper merekomendasikan
hold saham ASII dengan target harga Rp 6.400 per saham. Ratna merekomendasikan
buy ASII dengan target Rp 7.800 per saham. Sementara Abida memberikan rekomendasi kepada investor untuk
buy on weakness saham ASII dengan target harga Rp 7.450 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News