KONTAN.CO.ID – SHANGHAI. Produsen panel surya terbesar di China mulai mempercepat ekspansi bisnis baterai penyimpanan energi (energy storage) untuk mendongkrak pendapatan di tengah melambatnya pertumbuhan penjualan produk fotovoltaik (PV). Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap sistem penyimpanan energi terbarukan yang dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Industri panel surya China saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari melemahnya pemasangan panel surya di pasar domestik, perlambatan ekspor, hingga harga produk yang menyentuh titik terendah. Para pelaku industri juga memperkirakan permintaan global terhadap produk fotovoltaik akan menurun pada 2026.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah pemain besar seperti JinkoSolar, JA Solar, LONGi Green Energy, dan Trina Solar untuk mempercepat ekspansi ke sektor penyimpanan energi berbasis baterai. Seorang pejabat JinkoSolar mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan berencana hampir melipatgandakan tiga kali kapasitas produksi baterainya dari 5 gigawatt-hour (GWh) menjadi sekitar 13–14 GWh pada akhir tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pengembang energi yang ingin mengatasi sifat intermiten atau ketidakstabilan pasokan energi terbarukan. "Kami melihat adanya keyakinan yang kuat dari jajaran direksi perusahaan, yang tercermin dari besarnya investasi yang kami lakukan," ujar Titus Koech, Regional Technical Head untuk sistem penyimpanan energi, kepada Reuters dalam ajang SNEC, pameran industri surya terbesar yang dihadiri lebih dari setengah juta peserta.
Baca Juga: Xi Jinping Akan Kunjungi Korea Utara, Perkuat Hubungan Beijing-Pyongyang Menurut data lembaga riset energi Ember, negara-negara dengan penetrasi energi terbarukan yang tinggi seperti Jepang, Vietnam, India, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, dan Australia menjadi importir utama baterai asal China sepanjang 2025.
Margin Bisnis Panel Surya Menyusut
Di stan pameran JA Solar, produk penyimpanan energi menjadi fokus utama, menandai pergeseran strategi dibandingkan konferensi sebelumnya yang lebih banyak menampilkan produk panel surya. Direktur Pemasaran Divisi Penyimpanan Energi JA Solar, Gloria Gao, mengatakan margin bisnis panel surya kini semakin tipis sehingga perusahaan perlu mencari sumber pertumbuhan baru. "Jika Anda hanya memiliki bisnis panel surya, hal itu tidak akan membantu pertumbuhan perusahaan karena margin keuntungannya sangat kecil. Itulah sebabnya kami memulai bisnis penyimpanan energi, karena kami melihat masa depan ada di sana," kata Gao. Data Ember menunjukkan ekspor panel surya China hanya tumbuh 4,7% sepanjang 2025, menjadi laju pertumbuhan paling lambat sejak 2018. Analis Rystad Energy, Fei Chen, memperkirakan pertumbuhan ekspor pada periode Mei hingga Desember akan lebih rendah dibandingkan empat bulan pertama tahun ini. Sebaliknya, ekspor baterai untuk penyimpanan energi diproyeksikan melonjak 30% menjadi 150 GWh pada 2026.
Tawarkan Solusi Terintegrasi Surya dan Penyimpanan Energi
Produsen panel surya China kini memasuki pasar yang selama ini didominasi raksasa baterai seperti CATL dan BYD. Namun, mereka optimistis mampu bersaing berkat keunggulan dalam rantai pasok serta kemampuan menawarkan solusi terintegrasi antara panel surya dan sistem penyimpanan energi. Seorang pejabat Trina Solar menyebut integrasi tersebut telah menjadikan bisnis penyimpanan energi sebagai "kurva pertumbuhan kedua" setelah bisnis fotovoltaik. Ia mengungkapkan pengiriman produk penyimpanan energi Trina Solar pada kuartal pertama tahun ini, yang sekitar 90% ditujukan untuk pasar ekspor, meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, CATL, produsen baterai terbesar di dunia, memperkirakan bisnis penyimpanan energi akan menyumbang sekitar 50% dari total penjualan global perusahaan pada 2030, meningkat dari sekitar 25% saat ini.
Baca Juga: Amazon Perkenalkan Robot Gudang Berbasis AI, Mampu Memahami Perintah Percakapan Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan penyimpanan untuk mendukung pembangkit listrik energi terbarukan yang bersifat tidak stabil.
LONGi juga menunjukkan perubahan strategi serupa. Dalam pameran SNEC, perusahaan lebih menonjolkan inisiatif integrasi panel surya dan penyimpanan energi melalui layar LED raksasa yang mendominasi area pamerannya, menggeser fokus dari produk panel surya konvensional. Konsultan energi Wood Mackenzie menilai tren tersebut mencerminkan perubahan pola pembelian pelanggan global. "Saat membeli sistem tenaga surya dan penyimpanan energi, pada dasarnya Anda menjalin hubungan jangka panjang dengan perusahaan tersebut untuk 20 tahun ke depan," kata Kepala Riset Rantai Pasok Surya Wood Mackenzie, Yana Hryshko. "LONGi dan JA masuk ke bisnis penyimpanan energi karena pelanggan tidak lagi membeli panel surya dari satu produsen dan sistem penyimpanan dari produsen lain. Dalam dua tahun ke depan, kita tidak akan lagi membicarakan energi surya tanpa membahas penyimpanan energi," tambahnya.