Penjualan Pernod Ricard Melejit Capai € 1,95 Miliar, Lampaui Ekspektasi Analis!



KONTAN.CO.ID - PARIS. Produsen minuman beralkohol Prancis Pernod Ricard melaporkan peningkatan penjualan sebesar 0,1% di kuartal ketiga tahun fiskal 2025/2026. Produsen cognac Martell dan vodka Absolut ini melaporkan penjualan sebesar € 1,95 miliar, sekitar Rp 39,37 triliun, di tiga bulan hingga 31 Maret.

Reuters melaporkan, Kamis (16/4/2026), realisasi tersebut jauh lebih baik ketimbang konsensus proyeksi analis, yang memperkirakan rata-rata penurunan penjualan akan mencapai 0,7%.

Realisasi tersebut juga lebih baik ketimbang realisasi kinerja di kuartal dua tahun fiskal berjalan, di mana Pernod Ricard mencatat penurunan 5%. Penyebabnya, pelemahan permintaan konsumen di AS dan China, di mana penjualan masing-masing turun 12% dan 7%.


Baca Juga: Laba TSMC Meroket 58%, Mencapai Rekor di T$ 572,5 Miliar

Kendati begitu, perusahaan ini memperingatkan bisnisnya bakal terdampak perang Iran, yang menyebabkan penurunan pariwisata. Pernod Ricard memperkirakan penjualan bersih organik grup ini akan menurun sebesar 3%-4% pada tahun fiskal berjalan, yang dimulai pada 1 Juli.

Pernod menambah panjang daftar perusahaan yang melaporkan penurunan penjualan signifikan akibat konflik di Timur Tengah. Sebelumnya, hampir semua grup mewah Prancis menunjukkan penjualan yang lebih lemah dalam tiga bulan pertama tahun ini, menyusul perlambatan tajam dalam belanja di wilayah Eropa.

Toko bebas bea yang menjual parfum dan minuman keras premium juga merasakan dampak akibat penutupan bandara dan pembatasan perjalanan ke wilayah tersebut. Segmen ritel pariwisata menyumbang sekitar 6% penjualan bersih Pernod di 2025.

Baca Juga: SoftBank Bakal Rilis Obligasi, Target Dana US$ 1,5 Miliar dan 1,75 Miliar Euro

Pernod Ricard masih menegaskan panduan pertumbuhan penjualan antara 3% dan 6% antara tahun 2027 dan 2029, meskipun terjadi penurunan permintaan alkohol di seluruh industri.

Perusahaan minuman beralkohol saat ini sedang berjuang melawan penurunan penjualan selama beberapa tahun terakhir. Di pasar utama seperti AS dan China, penjualan telah turun di tengah ancaman tarif, pengurangan stok, dan ekonomi China yang lesu.

Pernod juga sedang dalam pembicaraan merger dengan Brown-Forman. Bila terwujud, perusahaan hasil merger akan menjadi produsen minuman beralkohol nomor 2 di dunia berdasarkan penjualan, setelah Diageo yang berbasis di London.

Baca Juga: Menanti Merger Dua Raksasa Minuman Beralkohol Pernod Ricard dan Brown-Forman

Namun, grup minuman beralkohol asal AS Sazerac juga menawar untuk membeli Brown-Forman seharga sekitar US$ 15 miliar, kata sumber yang mengetahui masalah tersebut. Penawaran ini mempersulit pembicaraan.

Chief of Financial Officer Pernod Helene de Tissot mengatakan dalam sebuah panggilan telepon, Kamis (16/4/2026), pembicaraan dengan Brown-Forman masih berlangsung. Tetapi perusahaan ini tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai masalah tersebut.