Penjualan Ramayana masih di bawah ekspektasi



KONTAN.CO.ID - PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) membukukan penjualan di bawah ekspektasi pada Agustus tahun ini. Sebelumnya, emiten ritel ini telah membukukan penjualan yang cukup baik pada Juli lalu.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebelumnya juga sudah menurunkan ekspektasi penjualan RALS. Analis Mirae, Christine Natasya menyatakan, RALS membukukan pendapatan yang lebih rendah pada Agustus, dengan pendapatan kotor sebesar Rp 417,1 miliar. Top line tersebut tumbuh tipis 0,6% secara year on year (YoY), dan turun 26% secara month on month (MoM), mengingat bulan Juli adalah bulan tahun ajaran baru.

"Melihat musiman, angka penjualan Agustus membawa pendapatan kotor year to date (ytd) menjadi 70% dari perkiraan setahun penuh kami," terang Christine dalam riset yang diterima KONTAN, Senin (18/9).


Christine telah merevisi perkiraan tersebut dalam tinjauan kuartal II-2017. RALS menunggu katalis yang lebih baik. Meskipun demikian, angka kumulatif Januari-Agustus sejalan dengan perkiraan RALS, karena perusahaan tersebut merevisi proyeksi setahun penuh menjadi Rp 8,3 triliun dari sebelumnya Rp 8,9 triliun.

Selanjutnya, pertumbuhan rata-rata penjualan tiap toko alias same store sales growth (SSSG) masih merata secara year to date pada Agustus, yakni -0,3%. Angka tersebut tidak berubah dari angka ytd Juli. Secara bulanan, SSSG Agustus juga rata-rata pada -0,5% YoY, dibandingkan dengan 1% YoY pada bulan Agustus 2016.

"Karena top line yang lebih lemah dari perkiraan, kami menurunkan perkiraan pendapatan setahun penuh menjadi Rp 8,2 triliun dari Rp 8,4 triliun," terangnya.

RALS juga melakukan penutupan supermarket yang masih menjadi hambatan utama kinerja perusahaan. Keputusan itu untuk mengendalikan biaya operasional. Penjualan supermarket RALS turun 38% YoY pada Juli dan 17% YoY pada Agustus.

"Jelas, bisnis telah gagal mencapai perputaran, walaupun telah dikelola di bawah SPAR sejak tahun lalu," katanya.

Menurut siaran pers, RALS telah menutup tujuh toko swalayan sejak awal tahun ini. Termasuk lima pada Agustus lalu. "Hal ini tampaknya menjadi bagian dari strategi untuk meminimalkan kerugian supermarket, mengingat tujuh toko tertutup adalah yang telah terlihat kerugian bersih terbesar," terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini