Penjualan Ritel AS Melampaui Perkiraan Bulan Mei 2026



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Penjualan ritel Amerika Serikat pada Mei 2026 mencatat kenaikan lebih tinggi dari perkiraan, namun para ekonom memperkirakan laju pertumbuhan akan melambat dalam beberapa bulan ke depan seiring berkurangnya dorongan dari pengembalian pajak dan tekanan inflasi yang masih berlangsung.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS melalui Biro Sensus, penjualan ritel meningkat 0,9% pada Mei, setelah revisi naik sebesar 0,4% pada April. Angka tersebut melampaui ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters, yakni kenaikan 0,5%.

Penjualan ritel di AS sebagian besar mencakup barang dan belum disesuaikan dengan inflasi, sehingga mencerminkan nilai nominal pengeluaran konsumen.


Kenaikan pada Mei sebagian besar didorong oleh meningkatnya harga bahan bakar, yang turut mengangkat pendapatan di stasiun pengisian bensin.

Harga Bahan Bakar Jadi Pendorong Utama

Lonjakan penjualan juga dipengaruhi oleh kenaikan harga bensin yang sempat mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir di tengah ketegangan geopolitik akibat perang Amerika Serikat–Israel dengan Iran.

Baca Juga: Trump: Nota Kesepahaman dengan Iran Belum Final

Namun, harga tersebut kemudian menurun kembali setelah sempat melonjak. Harga rata-rata bensin ritel nasional bahkan turun di bawah 4 dolar AS per galon pada pekan ini, pertama kalinya sejak April.

Selain itu, Amerika Serikat dan Iran pada Minggu lalu mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting perdagangan minyak global.

Dorongan Pajak dan Pasar Saham Mulai Melemah

Kenaikan belanja konsumen sebelumnya ditopang oleh pengembalian pajak dan reli pasar saham. Namun, efek tersebut mulai berkurang seiring habisnya musim pelaporan pajak.

Akibatnya, tingkat tabungan rumah tangga turun ke level terendah dalam empat tahun pada April, menunjukkan bahwa masyarakat mulai menggunakan dana tabungan untuk menopang konsumsi.

Belanja Inti Tetap Tumbuh Stabil

Penjualan ritel inti—yang tidak mencakup mobil, bahan bakar, material bangunan, dan layanan makanan—naik 0,7% pada Mei, setelah kenaikan 0,5% pada April.

Kategori ini dianggap paling mencerminkan komponen konsumsi dalam Produk Domestik Bruto (PDB) AS, sehingga menjadi indikator penting bagi pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Ekonom Bersilang Pendapat soal Kebijakan The Fed Paruh Kedua 2026

Dampak Terbatas terhadap Kebijakan The Fed

Data penjualan ritel ini diperkirakan tidak akan banyak memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS itu diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% dalam pertemuan terbarunya.

Meski tekanan inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga sempat meningkat, sebagian besar ekonom masih memperkirakan tidak akan ada pengetatan kebijakan tahun ini, seiring mulai stabilnya harga minyak.

Konsumsi Rumah Tangga Mulai Melambat

Data menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS, tumbuh pada laju tahunan 1,4% pada kuartal pertama.

Sementara itu, ekonomi AS secara keseluruhan tumbuh 1,6% pada kuartal sebelumnya, dan model GDPNow dari Federal Reserve Atlanta memperkirakan pertumbuhan sekitar 2,8% pada kuartal berjalan.

Ekonom dari PNC Financial mencatat bahwa rumah tangga kini lebih cepat menghabiskan dana pengembalian pajak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, terutama akibat meningkatnya pengeluaran untuk bahan bakar.

Mereka juga menyoroti bahwa kondisi ini paling terlihat pada kelompok rumah tangga dengan nilai pengembalian pajak terendah, yang telah menggunakan lebih dari 60% dana refund mereka pada 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan 43% pada periode yang sama tahun lalu.