Penjualan Ritel AS Tumbuh Solid pada Februari 2026, Tapi Harga BBM Jadi Ancaman



KONTAN.CO.ID - Penjualan ritel di Amerika Serikat (AS) mencatat pertumbuhan solid pada Februari 2026, ditopang oleh pemulihan pembelian kendaraan bermotor serta faktor musiman seperti cuaca yang lebih hangat.

Melansir Reuters pada Rabu (1/4/2026), Departemen Perdagangan AS melalui Biro Sensus melaporkan penjualan ritel naik 0,6% secara bulanan (month-to-month/MTM), setelah sebelumnya turun 0,1% pada Januari (revisi).

Angka ini lebih tinggi dari proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan sebesar 0,5%.


Baca Juga: Pasokan Energi Dunia Goyah: Iran Serang Tanker Abaikan Ancaman Trump

Namun, lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan daya beli masyarakat ke depan.

Harga minyak global telah melonjak lebih dari 50% sejak pecahnya konflik, mendorong harga bensin di AS menembus US$4 per galon untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa kenaikan biaya energi dapat menggerus dampak positif dari stimulus fiskal, termasuk pemotongan pajak, terhadap konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, konflik yang telah berlangsung selama sebulan juga turut menekan kekayaan rumah tangga, seiring penurunan tajam indeks saham utama seperti S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average sepanjang Maret.

Baca Juga: Pesawat Tempur KF-21 RI-Korsel: Proyek Belasan Tahun Masuk Babak Baru

Dari sisi komposisi, pertumbuhan konsumsi masih ditopang oleh rumah tangga berpendapatan tinggi yang memiliki daya tahan finansial lebih kuat.

Sementara itu, penjualan ritel inti (core retail sales) yang tidak mencakup kendaraan, bensin, bahan bangunan, dan jasa makanan, naik 0,5% pada Februari, setelah meningkat 0,2% pada Januari.

Indikator ini mencerminkan komponen belanja konsumen dalam produk domestik bruto (PDB).

Meski demikian, belanja konsumen tercatat melambat pada kuartal IV-2025, yang turut menahan laju pertumbuhan ekonomi AS menjadi 0,7% secara tahunan (annualized).

Sebagai perbandingan, ekonomi AS tumbuh lebih kuat sebesar 4,4% pada kuartal III sebelumnya.