Penjualan Rumah di AS Stabil, Harga Minyak Meroket



MELBOURNE. Harga kontrak minyak mentah terus saja menanjak. Hari ini minyak mentah diperdagangkan mendekati nilai tertinggi dalam 10 bulan terakhir. Minyak mengalami rebound akibat angka penjualan properti Amerika Serikat yang membaik sehingga memicu optimisme berakhirnya resesi ekonomi global.

Harga minyak mendaki berdampingan dengan pasar saham Asia. Semuanya gara-gara meningkatnya penjualan properti di negeri Paman Sam melebihi ramalan di bulan Juli untuk menuju level tertinggi selama hampir dua tahun terakhir. Hal ini menandakan krisis perumahan yang melumpuhkan sebagian besar ekonomi di dunia mungkin akan mereda. Dolar jatuh selama lima hari terhadap euro, mendukung daya tarik komoditi.

"Banyak kenaikan harga komoditi yang didasarkan, pada apa yang bisa saya sebut fundamental yang goyah. Sangat banyak didorong oleh apa yang terjadi di pasar ekuitas dan bukan pada masalah supply dan demand," tutur Mark Pervan, senior commodity strategist Bank ANZ Group Ltd. di Melbourne, dalam sebuah wawancara dengan televisi Bloomberg.


Minyak mentah untuk pengiriman Oktober naik 46 sen atau 0,6% ke level US$ 74,35 per barel di perdagangan elektronik NYMEX. Dari Singapura, pada pukul 10:58, harga minyak diperdagangkan US$ 74,21. Kontrak naik 1,3% ke posisi US$ 73,89 per barel pada 21 Agustus lalu, posisi tertinggi sejak 21 Oktober 2008 akibat bursa saham naik dan nilai tukar dolar anjlok. Perdagangan saham telah naik 66% selama tahun 2009. "Jika saham terus bergerak lebih tinggi, niscaya harga minyak mentah juga akan mengikuti," kata Toby Hassall, Analis Riset dari Commodity Warrants Australia Pty di Sydney.

Di Singapura, pada pukul 11:00, dolar diperdagangkan US$ 1.4337 terhadap euro, tergelincir dari US$ 1.4326 pada perdagangan di bursa New York, 21 Agustus lalu. Indeks MSCI Asia Pacific bergerak naik 2,1% ke posisi 112.37 pada pukul 10:33 di Tokyo, dengan 14 kali pasar saham mengalami penurunan.