Penjualan SBR015 Lebih Baik dari Seri SBR014, Bagaimana Prospek ST017?



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 di Bareksa lebih baik dibandingkan seri sebelumnya, SBR014. Tingkat kupon minimal yang lebih tinggi menjadi salah satu faktor yang mendukung minat investor terhadap instrumen surat berharga negara (SBN) ritel tersebut.

Chief Operating Officer (COO) Bareksa Ni Putu Kurniasari mengatakan, capaian penjualan SBR015 di platform tersebut lebih baik dibandingkan SBR014 karena tingkat kupon minimal yang ditawarkan lebih tinggi.

“Di Bareksa penjualan SBR015 lebih baik dibanding SBR014, karena perolehan kupon floornya lebih tinggi,” ungkap Ni Putu kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).


Berdasarkan data Bareksa per Kamis (22/10/2026) pukul 09.56 WIB, penjualan SBR015 tenor dua tahun mencapai 94,64% dari kuota Rp 12 triliun. Sementara itu, penjualan tenor empat tahun mencapai 55,87% dari kuota Rp 8 triliun.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham NCKL, DEWA, dan ACES untuk Jumat (23/10)

Berdasarkan persentase tersebut, nilai penjualan SBR015 di Bareksa diperkirakan mencapai Rp 15,83 triliun. Jumlah itu terdiri dari sekitar Rp 11,36 triliun untuk SBR015-T2 dan Rp 4,47 triliun untuk SBR015-T4. Angka tersebut merupakan data sementara menjelang berakhirnya masa penawaran dan belum mencerminkan hasil penjualan secara nasional.

Dari sisi profil investor, kelompok usia produktif masih mendominasi pemesanan SBR015. Ni Putu menyebut investor berusia 27–45 tahun menjadi kelompok usia yang paling banyak berpartisipasi dalam pembelian seri tersebut.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, ketidakpastian ekonomi global turut mendorong investor ritel memilih tenor pendek agar lebih leluasa mengelola likuiditas. Selisih kupon yang tipis antara kedua tenor SBR015 juga membuat tenor dua tahun relatif lebih menarik.

“Tenor 2 tahun dinilai sebagai jangka waktu yang ideal. Selain itu, selisih kupon antara tenor 2 tahun dan 4 tahun sangat tipis yaitu 10 basis poin sehingga tenor 2 tahun cenderung lebih menarik secara risk-reward,” ujar David.

David bilang, tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mendorong minat terhadap SBN ritel menjelang penutupan masa penawaran. Pelemahan pasar saham dapat memicu peralihan dana investor ke instrumen berisiko lebih rendah.

Baca Juga: Amman Mineral (AMMN) Siapkan Buyback Saham Rp 1 Triliun

Selain itu, pola pembelian investor ritel yang cenderung meningkat menjelang akhir periode penawaran turut membuka peluang penyerapan penuh untuk SBR015 tenor dua tahun. Sebaliknya, penyerapan tenor empat tahun disebut lebih menantang.

Kupon Jadi Perhatian pada Penerbitan ST017

Setelah masa penawaran SBR015 berakhir, investor akan kembali memiliki pilihan instrumen SBN ritel melalui Sukuk Tabungan (ST) seri ST017 yang dijadwalkan ditawarkan pada 6 November hingga 2 Desember 2026.

Ni Putu memperkirakan imbal hasil ST017 berpotensi lebih tinggi dibandingkan seri ST sebelumnya, seiring tren suku bunga yang masih relatif tinggi. Namun, daya tarik seri tersebut tetap bergantung pada besaran kupon yang ditawarkan pemerintah.

“Di tengah tren suku bunga yang masih relatif tinggi, imbal hasil ST017 berpotensi lebih tinggi dibandingkan seri ST sebelumnya. Namun, kembali lagi pada besaran kupon yang ditawarkan,” tutur Ni Putu.

Baca Juga: Tempo Scan (TSPC) Tebar Dividen Interim Rp 338,24 Miliar, Simak Jadwalnya

Menurut dia, kupon ST017 yang lebih rendah dibandingkan SBR015 berpotensi menjadi tantangan dalam menarik minat investor. Pasalnya, investor kini memiliki beragam alternatif penempatan dana dengan imbal hasil kompetitif, termasuk deposito syariah.

Ni Putu menyebut tingkat kupon ST017 akan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya tarik instrumen tersebut di tengah persaingan produk investasi dan dinamika pasar keuangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News