KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan berhasil meraup dana sebesar Rp 17,01 triliun dari penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel jenis Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015. Total pemesanan pembelian instrumen investasi tersebut mencapai Rp 17.007.306.000.000 selama periode penawaran pada 28 September 2026 hingga 22 Oktober 2026. Berdasarkan penetapan hasil penjualan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, pemesanan SBR015 terdiri atas seri SBR015T2 sebesar Rp 13,60 triliun dan seri SBR015T4 sebesar Rp 3,40 triliun. "Dana hasil penjualan SBR015 tersebut akan dipergunakan untuk pemenuhan target pembiayaan APBN tahun 2026 dan perubahannya," tulis pengumuman DJPPR Kemenkeu, Senin (26/10/2026). Baca Juga: Tingkat Pengangguran RI Turun ke 4,65%, Kemenko Perekonomian: Terendah Sejak 1994 Dalam penerbitan kali ini, pemerintah menawarkan dua pilihan tenor dengan tingkat kupon yang berbeda. Seri SBR015T2 menawarkan kupon sebesar 6,75% per tahun, sedangkan seri SBR015T4 memberikan kupon sebesar 6,85% per tahun. Penetapan tingkat kupon tersebut mempertimbangkan kondisi pasar keuangan global dan domestik yang cukup bergejolak. Pemerintah menetapkan kupon tersebut agar SBR015 tetap menjadi pilihan investasi yang menarik dan kompetitif bagi masyarakat. Dari sisi partisipasi, penjualan SBR015 berhasil menjaring 62.529 investor. Jumlah tersebut terdiri atas 51.702 investor seri SBR015T2 dan 14.156 investor seri SBR015T4, termasuk 3.329 investor yang membeli kedua tenor. Penerbitan SBR015 juga menarik minat investor baru. Tercatat sebanyak 19.583 investor merupakan investor baru Surat Utang Negara (SUN) ritel, sementara 12.809 investor tercatat sebagai investor baru SBN ritel. Berdasarkan kelompok usia, generasi milenial mendominasi jumlah investor dengan porsi 49,84%. Namun, dari sisi nominal pemesanan, generasi X menjadi kontributor terbesar dengan porsi 38,38%, diikuti generasi baby boomers sebesar 31,97%. Sementara itu, berdasarkan profesi, pegawai swasta mendominasi jumlah investor dengan porsi 34,36%. Adapun dari sisi nominal pemesanan, kelompok wiraswasta mencatatkan kontribusi terbesar, yakni 32,10%.
Penjualan SBR015 Tembus Rp 17 Triliun untuk Biayai Kebutuhan APBN 2026
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan berhasil meraup dana sebesar Rp 17,01 triliun dari penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel jenis Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015. Total pemesanan pembelian instrumen investasi tersebut mencapai Rp 17.007.306.000.000 selama periode penawaran pada 28 September 2026 hingga 22 Oktober 2026. Berdasarkan penetapan hasil penjualan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, pemesanan SBR015 terdiri atas seri SBR015T2 sebesar Rp 13,60 triliun dan seri SBR015T4 sebesar Rp 3,40 triliun. "Dana hasil penjualan SBR015 tersebut akan dipergunakan untuk pemenuhan target pembiayaan APBN tahun 2026 dan perubahannya," tulis pengumuman DJPPR Kemenkeu, Senin (26/10/2026). Baca Juga: Tingkat Pengangguran RI Turun ke 4,65%, Kemenko Perekonomian: Terendah Sejak 1994 Dalam penerbitan kali ini, pemerintah menawarkan dua pilihan tenor dengan tingkat kupon yang berbeda. Seri SBR015T2 menawarkan kupon sebesar 6,75% per tahun, sedangkan seri SBR015T4 memberikan kupon sebesar 6,85% per tahun. Penetapan tingkat kupon tersebut mempertimbangkan kondisi pasar keuangan global dan domestik yang cukup bergejolak. Pemerintah menetapkan kupon tersebut agar SBR015 tetap menjadi pilihan investasi yang menarik dan kompetitif bagi masyarakat. Dari sisi partisipasi, penjualan SBR015 berhasil menjaring 62.529 investor. Jumlah tersebut terdiri atas 51.702 investor seri SBR015T2 dan 14.156 investor seri SBR015T4, termasuk 3.329 investor yang membeli kedua tenor. Penerbitan SBR015 juga menarik minat investor baru. Tercatat sebanyak 19.583 investor merupakan investor baru Surat Utang Negara (SUN) ritel, sementara 12.809 investor tercatat sebagai investor baru SBN ritel. Berdasarkan kelompok usia, generasi milenial mendominasi jumlah investor dengan porsi 49,84%. Namun, dari sisi nominal pemesanan, generasi X menjadi kontributor terbesar dengan porsi 38,38%, diikuti generasi baby boomers sebesar 31,97%. Sementara itu, berdasarkan profesi, pegawai swasta mendominasi jumlah investor dengan porsi 34,36%. Adapun dari sisi nominal pemesanan, kelompok wiraswasta mencatatkan kontribusi terbesar, yakni 32,10%.