KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dominasi pemesanan Surat Berharga Negara (SBN) ritel seri SBR015 pada tenor dua tahun menunjukkan sikap rasional investor yang lebih mengutamakan fleksibilitas likuiditas di tengah ketidakpastian pasar ketimbang mengejar selisih imbal hasil yang tipis. Sebagai informasi, masa penawaran instrumen ini berlangsung dari tanggal 28 September 2026 hingga 22 Oktober 2026, dengan kupon SBR015 yang bersifat mengambang (disesuaikan setiap 3 bulan) dengan Tingkat Kupon Minimal (
floating with floor) sebesar 6,75% p.a. untuk SBR015T2 dan 6,85% p.a. untuk SBR015T4. Berdasarkan data dari aplikasi investasi Bibit, pemesanan SBR015-T2 terpantau telah mencapai 36,0% dari kuota nasional, sementara seri SBR015-T4 baru terserap di angka 12,9%.
Baca Juga: Saham Pertamina Geothermal (PGEO) Masih Bearish, Simak Prospek dan Rekomendasinya Tren ketimpangan serupa juga tampak pada platform Bareksa, di mana tingkat penjualan SBR015T2 menyentuh 36% berbanding 13% untuk SBR015T4. Menanggapi struktur permintaan tersebut, Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menilai jauhnya perbedaan pemesanan antara kedua tenor mencerminkan tingginya nilai yang diberikan investor terhadap keleluasaan arus kas. Ia melihat tambahan kupon 0,10 poin persentase belum cukup menarik untuk mengompensasi risiko penguncian dana dua tahun lebih lama, terlebih instrumen ini tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder (
non-tradable). "Untuk investasi Rp 100 juta, perbedaan pendapatan bersih hanya sekitar Rp 7.470 per bulan," ungkap Josua kepada Kontan, Senin (12/10/2026). Lebih lanjut, Josua menjelaskan bahwa perlindungan investasi yang ditawarkan pada dasarnya hampir setara karena keduanya menggunakan kupon mengambang dengan batas minimum. Jika BI Rate turun, tingkat kupon tidak akan jatuh di bawah batas yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, dengan masa penahanan dana yang lebih singkat serta adanya fasilitas pelunasan sebelum jatuh tempo (
early redemption) setelah satu tahun, SBR015T2 secara alamiah menjadi opsi yang jauh lebih menguntungkan bagi nasabah.
Baca Juga: IPO Lesu, BEI Ungkap Penyebab Baru 7 Emiten Melantai hingga Oktober 2026 Terkait prospek serapan secara nasional, Josua menyoroti bahwa capaian target Rp 20 triliun saat ini bukan lagi menjadi skenario dasar dan menuntut lonjakan pemesanan harian yang sangat masif di sisa waktu penawaran. Skenario yang paling realistis menempatkan penjualan akhir di kisaran Rp 13 triliun hingga Rp 16 triliun, atau sekitar 65% sampai 80% dari target pemerintah.
"Sebaliknya, apabila kecepatan penjualan tidak meningkat secara berarti dalam beberapa hari ke depan, risiko penjualan berakhir hanya sekitar Rp 10 triliun – Rp 13 triliun akan meningkat," jelasnya. Meskipun potensi realisasi di bawah target tidak akan mengganggu kemampuan pembiayaan APBN karena porsinya yang relatif kecil dibandingkan dengan keseluruhan penerbitan Surat Utang Negara (SUN), pelemahan minat ritel ini tetap menjadi catatan strategis. Ke depannya, apabila pemerintah ingin memperbesar porsi pembiayaan dari tenor yang lebih panjang, struktur imbal hasil antar tenor perlu dievaluasi kembali agar cukup mengompensasi rendahnya likuiditas instrumen investasi tersebut. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News