KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Performa bisnis Siam Cement Group (SCG) tumbuh doble digit di Indonesia. SCG mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 15% pada tahun fiskal 2025. Grup konglomerasi bisnis asal Thailand ini telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja positif pada tahun 2026.
Chief Executive Officer SCG, Thammasak Sethaudom belum memaparkan secara rinci kinerja keuangan dan kontribusi bisnis SCG di Indonesia sepanjang tahun lalu. Thammasak hanya menegaskan Indonesia tetap menjadi platform pertumbuhan strategis dalam jaringan ASEAN bagi SCG, serta berkontribusi signifikan terhadap
resiliensi bisnis yang berkelanjutan. Thammasak menjelaskan pada tahun lalu, SCG menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari perlambatan ekonomi global, konflik geopolitik, hingga fluktuasi biaya energi yang berdampak pada seluruh industri, terutama sektor petrokimia. "Namun, SCG berhasil mengelola arus kas, yang merupakan fondasi utama operasional bisnis kami secara efektif," ungkap Thammasak dalam keterangan tertulis yang diterima Kontan Jumat (13/2/2026).
Baca Juga: Daihatsu Rajai Segmen Mobil di Bawah Rp 300 Juta pada 2025 Di Indonesia, Thammasak menegaskan pertumbuhan penjualan SCG mencerminkan penguatan eksekusi pasar serta peningkatan fokus operasional di seluruh segmen bisnis utama. Performa tersebut didukung oleh optimasi portofolio dan ekspansi berkelanjutan pada produk High Value Added (HVA) serta produk ramah lingkungan (
green products), yang selaras dengan prioritas pertumbuhan jangka panjang SCG. Tak hanya semen, portofolio bisnis SCG di Indonesia mencakup sejumlah lini usaha. Meliputi cement & green solution, chemicals, packaging, décor, distribution & retail, smart living, dan logistics.
Perkuat Segmen B2B dan B2C
Penetrasi SCG di pasar Indonesia dilakukan melalui sejumlah anak usaha, antara lain lewat PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi pada segmen bisnis semen. Memasuki tahun 2026, Presiden Direktur PT Semen Jawa & PT Tambang Semen Sukabumi, Peramas Wajananawat mengungkapkan bahwa SCG melihat adanya peluang fundamental di industri semen Indonesia. Dengan tetap mengusung sikap optimisme yang terukur, SCG melihat indikasi pemulihan industri semen pada tahun ini. Proyeksi ini merujuk estimasi dari Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) yang memperkirakan pasar industri semen bisa tumbuh moderat sekitar 1% - 2% pada tahun ini. Meski pertumbuhan ini bersifat inkremental, SCG memandang proyeksi pertumbuhan tersebut sebagai indikator positif yang menandakan fase pemulihan bertahap pada ekosistem bisnis semen nasional. Tanpa merinci, Peramas mengatakan bahwa SCG telah menetapkan target yang selaras dengan momentum pemulihan industri.
Baca Juga: Kejar Pertumbuhan, Lion Metal (LION) Siapkan Belanja Modal Untuk Pengadaan Teknologi "Sebagaimana pelaku industri lainnya, SCG turut merasakan dampak dari volatilitas pasar yang terjadi. Namun, selaras dengan proyeksi pemulihan yang dirilis oleh Asperssi untuk tahun 2026, kami mempertahankan pandangan optimis bahwa volume produksi semen kami akan mengalami tren peningkatan pada tahun ini," kata Peramas kepada Kontan, belum lama ini. Peramas menyadari, secara volume, posisi pasar SCG saat ini masih relatif lebih kecil dibandingkan kompetitor utama lainnya. Peramas bilang, fokus strategis SCG tidak hanya terbatas pada kuantitas, melainkan pada kualitas pertumbuhan yang mampu memberikan nilai tambah (
added value) jangka panjang bagi Indonesia. Arah bisnis SCG di Indonesia tetap bertumpu pada prinsip bisnis “Inclusive Green Growth”. SCG akan melanjutkan inovasi hijau melalui teknologi ramah lingkungan serta produk bangunan rendah karbon. Di industri semen, SCG terus menekankan produk Low Carbon Cement yang kami kembangkan melalui proses Research & Development (R&D) ekstensif untuk menghadirkan produk semen hijau
(green cement) berkualitas tinggi. Bersamaan dengan itu, SCG proaktif melakukan edukasi pasar, khususnya bagi basis pelanggan baru. SCG aktif memperkenalkan keunggulan semen rendah karbon yang ramah lingkungan pada segmen Business-to-Business (B2B) maupun Business-to-Consumer (B2C). Peramas menekankan bahwa semen rendah karbon SCG akan menjadi pilar utama (backbone) dalam strategi penjualan. "Kami juga berkomitmen untuk memperkuat sinergi dengan mitra distribusi melalui berbagai inisiatif strategis, termasuk implementasi program loyalitas pelanggan yang inovatif dan berkelanjutan," tegas Peramas.
Baca Juga: Whoosh Masuk Platform Global Trip.com, Bidik Pasar Wisatawan Asing Asia Tenggara Selain itu, strategi SCG tahun ini juga akan difokuskan pada optimalisasi kapasitas produksi dan efisiensi rantai pasok. "Kami berupaya mempertahankan momentum pertumbuhan penjualan melalui inovasi berkelanjutan pada produk-produk unggulan guna memenuhi ekspektasi pelanggan yang semakin selektif terhadap aspek kualitas dan kelestarian lingkungan," tandas Peramas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News