KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (
UNVR) beralih dari fase penataan ulang fundamental bisnis menuju momentum yang lebih resilien, ditopang pertumbuhan penjualan yang kembali positif serta efektivitas strategi transformasi portofolio perseroan. Dicatat Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi dalam riset 19 Februari 2026, momentum pemulihan UNVR mulai nampak setelah melewati fase penataan ulang fundamental bisnis di tahun 2025. Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan penjualan operasi berlanjut sebesar 4,3% menjadi Rp 31,9 triliun pada tahun buku 2025.
Baca Juga: Dragonmine Mining Teken Perjanjian Akuisisi 80% Saham BLUE Kenaikan tersebut ditopang kombinasi pertumbuhan volume (UVG) 1,2% dan pertumbuhan harga (UPG) 2,8%. Menurut Wafi, titik balik terlihat pada kuartal IV-2025 ketika segmen Home and Personal Care mencatat rebound penjualan 20,2% yang didorong lonjakan volume 13,6%. “Hal ini mengindikasikan kembalinya permintaan konsumen secara nyata, bahkan dengan mempertimbangkan basis pembanding yang lebih lemah dari tahun sebelumnya,” terang Wafi dalam risetnya yang dikirim kepada Kontan, Kamis (19/2/2026) malam. Ia menambahkan, transformasi portofolio masih menjadi pilar utama dalam tesis investasi UNVR. Seperti diketahui, perseroan telah menyelesaikan pemisahan bisnis es krim dan melanjutkan rencana divestasi bisnis teh Sariwangi, yang mencerminkan strategi menukar skala dengan fokus. Dari sisi portofolio produk, manajemen semakin menitikberatkan pada segmen bertumbuh tinggi seperti premium skincare yang mencatat pertumbuhan kontribusi 26,5% sepanjang 2025. Upaya efisiensi juga terlihat dari penyesuaian biaya tenaga kerja sebesar 20% serta peningkatan efisiensi produksi 10,3% yang berpotensi menjadi penopang margin secara struktural.
Baca Juga: Momen Ramadan Lebaran, Harga Emas Kian Mendekati Level Rp 3 Juta Belanja iklan dan promosi (A&P) tetap disiplin di level 8,5%, dengan pergeseran strategi yang semakin kuat ke penciptaan permintaan berbasis digital dan media sosial. Meski prospeknya membaik, Wafi mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati. Misalnya, pergeseran musiman Lebaran berpotensi memindahkan sekitar 3% pertumbuhan dari kuartal I ke kuartal II. Selain itu, ketentuan free float minimum 15% masih menjadi potensi tekanan teknikal karena posisi saat ini berada tepat di ambang batas. Di sisi lain, volatilitas harga bahan baku, terutama CPO, tetap menjadi risiko utama terhadap proyeksi ekspansi margin sekitar 20 basis poin pada tahun 2026. Dengan berbagai faktor tersebut, Wafi mempertahankan rekomendasi HOLD untuk saham UNVR dengan target harga Rp 2.100 per saham, yang didasarkan pada proyeksi multiple P/E FY26F sebesar 20,0 kali.
"Meski valuasi UNVR saat ini masih tergolong premium dibandingkan emiten lokal berkapitalisasi lebih kecil, profil dividennya dinilai lebih menarik," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News