Penjualan Semen Nasional Tumbuh 10,5% Semester I 2026, Oversupply Masih Membayangi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri semen nasional mencatat pertumbuhan penjualan pada semester I 2026. Meski demikian, persoalan kelebihan kapasitas produksi (oversupply) masih menjadi tantangan struktural yang membayangi prospek industri hingga akhir tahun.

Ketua Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) Lilik Unggul Raharjo mengungkapkan, penjualan semen domestik nasional sepanjang semester I 2026 mencapai sekitar 30,71 juta ton. Angka tersebut meningkat 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 27,78 juta ton.

“Hingga semester I 2026, penjualan semen domestik nasional menunjukkan pertumbuhan positif. Volumenya mencapai sekitar 30,71 juta ton, naik 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 27,78 juta ton. Pertumbuhan terjadi pada semen kantong maupun curah, masing-masing naik sekitar 10,3% dan 11,1%,” ujar Lilik kepada KONTAN, Kamis (16/7).


Menurut Lilik, peningkatan penjualan tersebut perlu dicermati secara hati-hati karena sebagian dipengaruhi oleh low-base effect pada semester I 2025. Jika dibandingkan dengan semester I 2024, pertumbuhan penjualan hanya mencapai sekitar 7,8%. Sementara jika dibandingkan dengan semester I 2022, kenaikannya berada di kisaran 4,2%.

Ia menjelaskan, pertumbuhan permintaan semen pada paruh pertama tahun ini didorong oleh percepatan belanja pemerintah, proyek revitalisasi fasilitas publik, pembangunan di berbagai daerah, serta pemulihan permintaan dari sektor konstruksi. Namun, kontribusi sektor properti dan daya beli masyarakat masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Baca Juga: Dominasi Ekspor Batubara Indonesia Perlu Dibarengi Daya Tawar dan Transparansi Harga

Di tengah pertumbuhan penjualan tersebut, kondisi oversupply masih menjadi persoalan utama bagi industri semen nasional. Kapasitas produksi yang jauh melampaui permintaan domestik membuat tingkat utilisasi pabrik belum mencapai level ideal.

“Kondisi oversupply masih menjadi persoalan struktural utama industri semen nasional. Kapasitas produksi berada di kisaran 120 juta ton per tahun, sementara utilisasi pada 2025 diperkirakan hanya sekitar 54%,” ujar Lilik.

Lilik menambahkan, meskipun permintaan pada 2026 diperkirakan meningkat, utilisasi industri semen nasional diproyeksikan hanya naik tipis menjadi sekitar 56%. Dengan demikian, kesenjangan antara kapasitas produksi dan kebutuhan pasar domestik masih cukup besar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan pada semester I 2026 belum cukup untuk mengubah fundamental industri semen secara signifikan. Tingkat utilisasi pabrik juga masih jauh di bawah level yang dinilai sehat secara ekonomi, yakni sekitar 80% hingga 85%.

Prospek industri semen pada semester II 2026

Memasuki semester II 2026, ASPERSSI masih melihat peluang pertumbuhan permintaan semen. Namun, laju pertumbuhannya diperkirakan tidak akan setinggi semester pertama.

“Prospek industri semen pada semester II 2026 masih berpeluang tumbuh, meski kemungkinan tidak setinggi semester I. Faktor kunci yang akan menentukan adalah kecepatan realisasi proyek fisik dan belanja pemerintah,” ujar Lilik.

Menurutnya, permintaan semen hingga akhir tahun diperkirakan akan ditopang oleh proyek pemerintah pusat dan daerah, revitalisasi fasilitas publik, pembangunan infrastruktur regional, sektor perumahan, kawasan industri, pertambangan, serta aktivitas pembangunan dan renovasi masyarakat.

Lilik menjelaskan, permintaan semen curah akan sangat bergantung pada realisasi proyek infrastruktur dan konstruksi berskala besar. Sementara itu, penjualan semen kantong lebih dipengaruhi oleh pembangunan rumah, proyek skala kecil dan menengah, serta kegiatan renovasi masyarakat, selama daya beli tetap terjaga.

Baca Juga: BIRD Tambah Lini Layanan, Bluebird Prime Sasar Segmen Premium Harian

Industri semen menghadapi tekanan biaya dan persaingan

Selain persoalan oversupply, industri semen nasional juga menghadapi tantangan lain berupa ketatnya persaingan harga, meningkatnya biaya produksi, serta belum pulih sepenuhnya permintaan dari sektor properti dan konsumsi masyarakat.

“Tantangan industri bukan hanya menjual lebih banyak, tetapi bagaimana tetap efisien dan mampu berinvestasi di tengah persaingan harga, tingginya kenaikan biaya energi dan logistik, serta utilisasi pabrik yang masih rendah,” lanjutnya.

Untuk menciptakan pertumbuhan industri yang lebih sehat dan berkelanjutan, ASPERSSI berharap pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan melalui pengendalian investasi baru, percepatan proyek infrastruktur, jaminan pasokan energi yang kompetitif, serta perluasan penggunaan semen rendah karbon dalam pengadaan pemerintah.

“Industri semen siap mendukung pembangunan dan agenda dekarbonisasi, tetapi memerlukan ekosistem kebijakan yang konsisten agar industri dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News