Penjualan SIDO Turun 20% di Semester I-2026, tapi Permintaan Pasar Tetap Tumbuh



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) menghadapi tekanan penjualan pada semester I-2026.

Penjualan SIDO turun 20% secara tahunan, yang antara lain dipengaruhi langkah inventory adjustment untuk menormalisasi persediaan di tingkat distributor. 

Direktur SIDO Irwan Hidayat mengatakan, penyesuaian persediaan tersebut membuat penjualan yang tercatat dalam laporan keuangan mengalami penurunan.


Namun, menurut dia, kondisi tersebut tidak mencerminkan pelemahan permintaan di tingkat konsumen.

Baca Juga: Kinerja Sido Muncul (SIDO) Tertekan pada Semester I-2026, Cek Rekomendasinya

“Saya lakukan inventory adjustment, sehingga laporan penjualannya, laporan profit penjualannya turun. Tapi demand-nya nggak turun, pasar nggak turun,” kata Irwan kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).

Sebagai gambaran, penjualan segmen herbal dan suplemen SIDO turun sekitar 41% secara tahunan menjadi sekitar Rp639 miliar pada semester I-2026.

Sementara itu, segmen makanan dan minuman masih tumbuh sekitar 11% menjadi sekitar Rp760 miliar, sedangkan segmen farmasi naik sekitar 7% menjadi sekitar Rp 67,4 miliar.

Irwan mengatakan, kondisi persediaan di tingkat distributor saat ini telah jauh lebih normal dibandingkan sebelumnya. Ia menyebut stok pada sejumlah distributor utama kini berada di kisaran 9–18 hari, sementara secara umum sekitar satu pekan.

“Bulan Agustus hampir Rp360 miliar satu bulan. Sudah normal, sudah balik normal. Stok yang ada di distributor cuma tinggal 18 hari,” ujar Irwan.

Baca Juga: Jaecoo Bukukan Penjualan 20.000 Unit pada Semester I, Optimistis Pasar EV Tumbuh

Menurut dia, pemulihan tersebut juga terlihat dari penjualan pada Juli, Agustus hingga September. Irwan menyebut penjualan pada kuartal III-2026 secara sementara menunjukkan pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, angka tersebut masih berupa pengamatan internal dan belum melalui proses verifikasi laporan keuangan. Karena itu, angka pertumbuhan tersebut belum dapat diperlakukan sebagai kinerja resmi perseroan.

“Kalau penjualan, dimensinya tinggi, naik dimensinya. Dimensinya dari toko ke konsumen naik. Tidak ada penurunan,” kata Irwan.

Dengan adanya inventory adjustment pada tahun ini, Irwan memperkirakan kinerja penjualan SIDO sepanjang 2026 masih akan mengalami tekanan dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia menyebut penurunan secara tahunan berpotensi berada di kisaran satu digit. 

“Seandainya tutup tahun ini laporannya turun karena inventory adjustment, itu diharapkan juga tidak sampai paling banyak satu digit,” ujarnya.

Baca Juga: Laba Sido Muncul (SIDO) Anjlok 44% di Semester I, Analis Yakin Ada Sinyal Pemulihan

Irwan menegaskan bahwa angka tersebut merupakan perkiraan dan bukan angka yang telah diverifikasi. Ia tetap optimistis terhadap perkembangan penjualan SIDO hingga akhir tahun seiring normalisasi persediaan distributor.

“Optimistis, optimistis,” kata Irwan.

Ia menjelaskan, keputusan melakukan inventory adjustment dilakukan karena sebelumnya distributor cenderung mengambil produk dalam jumlah besar untuk mendapatkan potongan harga.