KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Geliat sektor logistik dan tambang membuat penjualan kendaraan komersil bertumbuh. Terbukti Agen Pemegang Merk (APM) mengklaim penjualannya sampai kuartal III-2018 masih positif. Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Jap Ernando Demily mengatakan, sampai dengan saat ini permintaan atas kendaraan komersil Isuzu masih tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pasar komersial di Indonesia. Menurutnya, segment truk ringan (
light truck) masih bertumbuh. Sementara untuk segment
medium truck pertumbuhan Isuzu masih seiring dengan pertumbuhan pasar. Ini pun sempat ada isu
short supply di beberapa varian akibat permintaan yang tinggi.
Sedangkan variant baru Isuzu di segmen
pick up medium cab over yaitu Traga diterima dengan sangat baik di pasar dan menghasilkan volume penjualan tinggi. "Di luar permintaan dari sektor tambang yang masih tinggi, permintaan Isuzu juga datang dari beberapa sektor yang lain seperti infrastruktur, logistik dan transportasi serta perkebunan seperti kelapa sawit," kata Ernando kepada Kontan.co.id, Kamis (4/10). Permintaan datang dari swasta maupun pemerintah. Penjualan di sektor swasta masih mendominasi, namun tren penjualan Isuzu ke pemerintahan juga terus bertumbuh seiring bergulirnya proyek pemerintah terutama di sektor infrastruktur. General Manager Marketing IAMI Attias Asril menambahkan, pada periode penjualan Januari sampai September 2018 di segmen
light truck, penjualan retail sales Isuzu sebesar 2.700 unit atau naik 34% dibanding periode sama tahun lalu. Sedangkan di
medium truck mencapai 780 unit atau naik 35% dibanding periode sama tahun lalu. "Kami belum ada revisi target," kata Attias kepada Kontan.co.id, Kamis(4/10). Catatan saja, IAMI punya target penjualan di 2018 tumbuh sebesar 25% dibandingkan tahun 2017. Pelemahan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) membuat APM kendaraan komersial menaikkan harga jual. Per oktober ini. kenaikan harganya 2% sampai 3%. Ini mengingat bahan baku yang digunakan oleh sektor otomotif beberapa masih impor. "Ini kenaikan harga yang pertama kali sejak pelemahan nilai tukar rupiah," kata Attias. Tak hanya Isuzu, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) selaku authorized distributor kendaraan niaga Mitsubishi Fuso di Indonesia juga menaikkan harga jualnya. Direktur Sales dan Marketing KTB Duljatmono memaparkan, sebelum Lebaran tahun ini, Fuso sudah menaikkan harga jual 1,5%. Di bulan Agustus 2018, Fuso kembali mengerek harga jual sebesar 1,5%. "Ada dua pertimbangan. Yang pertama ongkos produksi dan kemampuan penerimaan pasar," kata Duljatmono. Hanya saja, Duljatmono meyakini konsumen di segmen ini tak akan kendur daya belinya. Mengingat segmen komersial membeli truk untuk kebutuhan barang modal kerja dan bukan seperti kendaraan penumpang. Meski belum ada data penjualan, Duljatmono juga meyakini sampai September 2018, penjualan masih positif. Didukung oleh sektor tambang dan juga logistik. "Kontribusi logistik masih terbesar yakni 40% sampai 50% dari penjualan," katanya.
Menurut Duljatmono, sampai Agustus pasar komersial terus naik hingga 27%. Tahun ini truk merk Jepang tersebut menargetkan penjualan naik 20% sampai 25%. Alhasil pangsa pasar Fuso bisa sekitar 45% hingga 46% di akhir tahun ini atau naik dari periode tahun lalu sebanyak 44%. "Kami percaya lewat keandalan performa truk kami serta layanan purna jual (
after sales) kami bisa membuat klien kami puas," tambahnya. Catatan saja saat ini Fuso masih menjadi penguasa pasar di segmen komersial dengan daerah kekuatan utama di Jawa dan Sumatra. Segmen penjualan Fuso terkuat di
light duty truck (LDT) lewat model colt diesel, serta di segmen
medium duty truck (MDT) lewat model baru yakni Fighter. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News