Penjualan Turun 26%, Laba Sunindo Pratama (SUNI) Susut Jadi Rp 117,7 Miliar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) mencatatkan penurunan kinerja keuangan selama sembilan bulan pertama 2026. Penurunan penjualan produk oil country tubular goods (OCTG) casing menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja emiten pemasok produk dan jasa industri minyak dan gas bumi (migas) tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, SUNI membukukan penjualan sebesar Rp 528,55 miliar hingga September 2026. Realisasi ini turun 26,05% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 714,77 miliar.

Sejalan dengan penurunan penjualan, laba periode berjalan SUNI juga terkoreksi 19,37% secara tahunan menjadi Rp 117,71 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan mencatatkan laba sebesar Rp 145,98 miliar.


Baca Juga: IHSG Ditutup Menguat ke 5.096,8 Hari Ini (2/11), Top Gainers LQ45: DEWA, INDY, BUMI

Direktur Utama Sunindo Pratama Willy Johan Chandra mengatakan, penurunan penjualan terutama disebabkan berkurangnya penjualan OCTG casing. Kondisi tersebut tidak terlepas dari perubahan dinamika pasar seiring dengan masuknya produsen lokal.

"Pada tahun ini, dinamika pasar OCTG casing mengalami perubahan seiring dengan hadirnya produsen lokal yang telah mampu memenuhi kebutuhan produk tersebut," ujar Willy dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).

Dia menjelaskan, ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mengharuskan penggunaan produk dari produsen lokal dalam partisipasi tender. Sementara itu, SUNI masih melakukan evaluasi terhadap produsen lokal tersebut sehingga belum dapat mengikuti tender yang diselenggarakan perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S).

Meski demikian, penjualan OCTG tubing yang menjadi produk utama perseroan masih terjaga relatif stabil. Produk tersebut tetap menjadi salah satu penopang pendapatan dan profitabilitas SUNI.

Di tengah tekanan penjualan, SUNI masih mampu mencatatkan arus kas positif dari aktivitas operasional sebesar Rp 167,50 miliar hingga September 2026. Jumlah tersebut meningkat 61,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 103,75 miliar.

Peningkatan arus kas operasional tersebut terutama didorong oleh penurunan pembayaran kepada pemasok.

Baca Juga: Volume Pemeriksaan Naik, Pendapatan dan Laba Bersih PRDA Tumbuh Double Digit

Dari sisi investasi, SUNI mengalokasikan dana sebesar Rp 95,30 miliar untuk perolehan aset tetap. Investasi tersebut antara lain digunakan untuk melanjutkan penyelesaian pembangunan pabrik kedua PT Rainbow Tubulars Manufacture (RTM).

Willy mengatakan, pembangunan pabrik kedua RTM secara umum telah selesai. Saat ini, fasilitas tersebut tengah menjalani proses audit oleh American Petroleum Institute (API) sebagai salah satu tahapan untuk memperoleh sertifikasi sebelum memulai operasional komersial.

"Dengan bertambahnya kapasitas produksi melalui pabrik ke-2 RTM, SUNI optimistis dapat meningkatkan kinerja operasional dan mengoptimalkan kinerja keuangan ke depan," ujar Willy.

Direktur Operasional SUNI Bambang Prihandono menambahkan, uji coba produksi di fasilitas baru pabrik kedua RTM telah berhasil dilakukan. Perseroan kini memprioritaskan penyelesaian proses audit API agar sertifikasi dapat segera diperoleh.

"Proses audit API yang sedang dilakukan di RTM-2 saat ini berjalan cukup lancar karena tim produksi kami di Batam telah memberikan yang terbaik untuk dapat menyelesaikan proses auditnya segera, semoga pada kuartal akhir 2026 Perseroan sudah bisa mendapatkan sertifikat API tersebut," kata Bambang.

 
SUNI Chart by TradingView

Dengan tambahan kapasitas produksi dari pabrik kedua RTM, SUNI berharap dapat memperkuat kemampuan perseroan dalam memenuhi kebutuhan OCTG tubing di pasar domestik.

Dari sisi posisi keuangan, SUNI mencatatkan total aset sebesar Rp 1,20 triliun per 30 September 2026. Ekuitas perseroan meningkat menjadi Rp 955,81 miliar dari Rp 863,13 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, total liabilitas turun menjadi Rp 247,38 miliar dari sebelumnya Rp 255,25 miliar.

Direktur Keuangan SUNI Freddy Soejandy mengatakan, kondisi keuangan perseroan masih cukup baik untuk menyelesaikan sisa investasi pembangunan pabrik kedua RTM sekaligus merealisasikan rencana pengembangan usaha.

"Kemampuan keuangan Perseroan saat ini cukup baik sehingga diperkirakan dapat menyelesaikan sisa investasi yang diperlukan untuk pembangunan pabrik ke-2 RTM serta merealisasikan rencana pengembangan usaha secara berkelanjutan," ucap Freddy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News