KONTAN.CO.ID - Unilever menaikkan proyeksi kinerja tahun 2026 setelah membukukan pertumbuhan volume penjualan kuartalan terbaik dalam lebih dari satu dekade. Permintaan terhadap merek-merek andalannya seperti Vaseline, Dove, Cif, dan Axe tetap kuat meski konsumen masih menghadapi tekanan anggaran akibat dampak konflik Iran.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok 10,8%, Saham Samsung dan SK Hynix Jadi Biang Tekanan Mengutip
Reuters, Selasa (28/7/2026), saham Unilever sempat melonjak hingga 6,8% menjadi 49,43 pound sterling pada awal perdagangan. Pada pukul 07.45 GMT, saham masih menguat 5,8% ke 48,96 pound sterling, dan berpotensi mencatat kenaikan harian terbesar dalam dua tahun terakhir. Di bawah kepemimpinan CEO Fernando Fernandez, yang mulai menjabat tahun lalu, Unilever terus mengalihkan fokus bisnis ke segmen kecantikan dan kesehatan (beauty and well-being) sebagai bagian dari strategi transformasi perusahaan. Unilever juga tengah memisahkan bisnis makanan (foods) yang pertumbuhannya lebih lambat menjadi entitas senilai US$ 65 miliar bersama produsen rempah-rempah asal Amerika Serikat, McCormick. Hasil kuartal II memperkuat alasan perusahaan untuk melepas bisnis tersebut. Volume penjualan divisi makanan turun 0,1%, sementara tiga divisi lainnya masing-masing mencatat pertumbuhan volume lebih dari 5%. Analis Bernstein Callum Elliott menilai, hasil tersebut jauh lebih baik dari perkiraan pasar. "Hasil yang jauh lebih kuat dari ekspektasi ini kemungkinan akan meningkatkan sentimen positif investor dan mendorong mereka melihat prospek perusahaan di luar proses penjualan bisnis makanan yang sedang berlangsung," ujarnya.
Baca Juga: BYD Luncurkan Mobil Listrik Mini Racco di Jepang, Bidik Dongkrak Penjualan Fokus pada merek utama Unilever melaporkan volume penjualan kuartal II naik 5,5%, didorong oleh permintaan yang kuat di pasar-pasar utama seperti India, Indonesia, dan Amerika Latin. Kinerja tersebut membuat pertumbuhan penjualan dasar (
underlying sales growth) perusahaan melampaui ekspektasi analis. Seperti perusahaan barang konsumsi lainnya, Unilever sempat kehilangan pangsa pasar kepada produk merek toko (
private label) selama pandemi Covid-19. Selain itu, gangguan rantai pasok dan lonjakan harga bahan baku setelah invasi Rusia ke Ukraina sempat membatasi kemampuan perusahaan meningkatkan belanja pemasaran dan pengembangan merek. Dalam beberapa tahun terakhir, Unilever kembali meningkatkan investasi pemasaran secara agresif. Pada kuartal II, belanja pemasaran mencapai 16,1% dari total pendapatan, dengan fokus pada merek-merek unggulan (power brands) seperti Axe, Cif, dan Vaseline, termasuk kampanye promosi besar selama ajang Piala Dunia FIFA 2026. "Kami telah mengakhiri masa ketika bisnis kami kekurangan investasi," kata Chief Financial Officer (CFO) Unilever, Srinivas Phatak. Analis Barclays Warren Ackerman mengatakan, portofolio produk rumah tangga dan perawatan pribadi Unilever kini mampu mencatat pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dibandingkan banyak perusahaan barang konsumsi global lainnya. Menurutnya, setelah proses pemisahan bisnis makanan selesai, Unilever berpotensi menjadi perusahaan dengan pertumbuhan terbaik kedua setelah L'Oréal.
Baca Juga: Google Terancam Digugat Hingga US$10 Miliar di Eropa Proyeksi dinaikkan Unilever menyatakan proses pemisahan bisnis makanan berjalan sesuai rencana dan diperkirakan selesai paling lambat pada pertengahan 2027. Meski konflik di Timur Tengah meningkatkan biaya operasional tahun ini, perusahaan mampu meredam dampaknya melalui kenaikan harga jual produk.
Karena itu, Unilever menaikkan proyeksi pertumbuhan penjualan dasar tahun 2026 menjadi berada dalam kisaran target jangka panjang 4% hingga 6%, dari sebelumnya hanya diperkirakan berada di batas bawah kisaran tersebut. Untuk paruh kedua 2026, perusahaan memperkirakan pertumbuhan penjualan sebesar 4% hingga 5%, terutama ditopang oleh kenaikan harga. Pada kuartal yang berakhir 30 Juni, Unilever membukukan pertumbuhan penjualan dasar sebesar 5,8%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata proyeksi analis sebesar 4,3%. "Kami berada di jalur yang tepat untuk menyelesaikan proses merger ini," ujar Phatak.