Pensiun 2025: Intip Rahasia Warren Buffett Sukses dari Lingkungan Berkualitas



KONTAN.CO.ID -  Warren Buffett secara resmi menanggalkan jabatannya sebagai CEO Berkshire Hathaway setelah memimpin selama 60 tahun pada 31 Desember 2025 lalu. 

Mundurnya Legenda Investor dari Omaha ini menjadi titik balik jagat finansial global. Buffett menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan perusahaan senilai US$ 1,2 triliun atau sekitar Rp 20.043 triliun (kurs Rp 16.703/US$) tersebut kepada penerusnya, Greg Abel.

Dilansir dari Fortune, meski Buffett menyatakan akan mulai menarik diri dari publik setelah masa pensiunnya, warisan berupa strategi investasi dan nasihat pengembangan karier yang ia bagikan selama puluhan tahun tetap menjadi rujukan utama bagi para investor di seluruh dunia.


Baca Juga: Buffett: Harga vs Nilai Aset, Kunci Sukses Investasi 2026

Salah satu nasihat paling penting dari Buffett adalah kesuksesan karier justru berfokus pada aspek lingkungan sosial dan profesional seseorang. 

Menurut Buffett, kunci utama untuk bisa berkembang adalah dengan bergaul atau berada di lingkungan orang-orang yang memiliki kualitas lebih baik daripada diri sendiri.

Kekuatan Lingkungan dalam Membentuk Perilaku

Prinsip ini pertama kali ditekankan oleh Buffett pada rapat umum pemegang saham tahunan 2004. Saat menjawab pertanyaan seorang pemegang saham muda, Buffett menjelaskan bahwa perilaku seseorang cenderung akan bergeser mengikuti arah perilaku rekan-rekan terdekatnya.

Mengutip Fortune, Buffett memberikan tips sederhana namun krusial yaitu dengan memilih rekan kerja atau asosiasi yang memiliki perilaku lebih baik dari diri kita. 

Dengan begitu kita secara alami akan ikut terhanyut ke arah yang positif tersebut. Pandangan ini juga diamini oleh mendiang mitra bisnisnya, Charlie Munger, yang menegaskan bahwa seseorang tidak perlu takut kehilangan popularitas di kelompok sebayanya demi mengejar lingkungan yang lebih berkualitas.

Nasihat untuk mengelilingi diri dengan orang-orang hebat juga sering disuarakan oleh para pemimpin bisnis global lainnya. Berikut adalah beberapa prinsip serupa dari tokoh eksekutif dunia:

  • Richard Branson: Pendiri Virgin Atlantic ini melalui unggahan di LinkedIn tahun 2023 menyarankan agar seseorang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang lebih pintar dan memberikan mereka ruang untuk tumbuh.
  • Steve Jobs: Pendiri Apple ini pernah menekankan pada tahun 1992 bahwa tidak masuk akal untuk mempekerjakan orang pintar hanya untuk memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan, melainkan agar mereka yang memberi tahu perusahaan apa yang harus dilakukan.
Tonton: KUHAP-KUHP Baru Berlaku: Kebebasan Berpendapat Dibungkam

Dampak Nyata "Positive Spillover" di Tempat Kerja

Nasihat Buffett ternyata memiliki landasan ilmiah yang kuat. Fenomena ini sering disebut sebagai efek luapan positif (positive spillover), di mana produktivitas dan kualitas kerja seseorang dapat meningkat drastis hanya dengan berada di dekat rekan kerja yang berprestasi tinggi.

Menurut studi dari Northwestern University’s Kellogg School of Management tahun 2017 yang dikutip Fortune, menempatkan karyawan dalam jarak dekat dengan individu berkinerja tinggi dapat meningkatkan kecepatan atau kualitas kerja hingga 15%.

Dampak ini diperkirakan mampu menghasilkan tambahan keuntungan tahunan hingga US$ 1 juta (sekitar Rp 16,7 miliar) bagi sebuah perusahaan.

Namun, penelitian tersebut juga memberikan catatan penting bagi para manajer dan profesional:

  • Peningkatan pada Kelemahan: Karyawan biasanya tidak akan kehilangan kekuatan utamanya saat bergabung dengan tim hebat, mereka justru akan memperbaiki area kelemahan mereka.
  • Risiko Lingkungan Toksik: Sebaliknya, bekerja di dekat individu yang "toksik" meningkatkan risiko seseorang untuk ikut berperilaku negatif. Dampak buruk dari satu pekerja toksik dapat menyebar ke seluruh lantai kantor.
Melansir informasi dari surat terakhirnya kepada pemegang saham musim gugur2025  lalu, Buffett menekankan bahwa meskipun ia akan lebih banyak diam setelah pensiun, prinsip-prinsip yang ia tanamkan akan tetap hidup.

Bagi para profesional muda di Indonesia, nasihat Buffett ini menjadi pengingat bahwa aset terbesar dalam karier bukan hanya keterampilan teknis, melainkan juga jaringan dan kualitas lingkungan kerja yang dipilih.

Selanjutnya: Sejarah Baru New York: Zohran Mamdani Gunakan Al-Qur’an saat Pelantikan

Menarik Dibaca: Lanjut Ngacir, Story (IP) Bertahan di Puncak Kripto Top Gainers 24 Jam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News