KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pejabat pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui kepada Kongres AS bahwa tidak ada bukti intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang pasukan AS lebih dulu. Pengakuan ini disampaikan dalam pengarahan tertutup oleh Pentagon, di tengah kritik keras dari Partai Demokrat atas keputusan perang yang dinilai sepihak. Pengakuan tersebut muncul sehari setelah AS bersama Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke Iran pada Sabtu (1/3/2026).
Serangan itu disebut sebagai yang paling ambisius dalam beberapa dekade terakhir, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menenggelamkan kapal perang Iran, serta menghantam lebih dari 1.000 target strategis.
Baca Juga: AS-Iran: Militer AS Siapkan Operasi Jangka Panjang Jika Trump Perintahkan Serangan Namun, dalam pengarahan ke staf Kongres dari kedua partai, pejabat Pentagon menegaskan bahwa meski Iran dinilai memiliki ancaman berupa rudal balistik dan jaringan proksi di kawasan, tidak ada intelijen yang menyatakan Teheran akan memulai serangan terhadap pasukan AS. Pernyataan ini dinilai melemahkan alasan utama pemerintah Trump yang sebelumnya menyebut serangan dilakukan untuk mencegah kemungkinan serangan “pre-emptive” dari Iran. Trump sebelumnya menyatakan tidak akan membiarkan pasukan AS menjadi sasaran serangan dan menegaskan operasi militer ini bertujuan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, membatasi program rudalnya, serta menghilangkan ancaman terhadap AS dan sekutunya. Ia bahkan menyerukan rakyat Iran untuk bangkit menggulingkan pemerintahannya.
Baca Juga: Siapa yang Berpotensi Menggantikan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei? Partai Demokrat menilai langkah Trump sebagai perang pilihan dan mengkritik keputusan menghentikan jalur diplomasi, padahal Oman sebagai mediator menyebut peluang perundingan damai masih terbuka. Klaim Trump bahwa Iran hampir mampu menyerang AS dengan rudal balistik juga dipertanyakan karena tidak didukung laporan intelijen. Di sisi lain, konflik ini telah menelan korban di pihak Amerika. U.S. Central Command melaporkan tiga tentara AS tewas dan lima lainnya luka serius, sementara sejumlah personel lain mengalami luka ringan akibat serpihan dan gegar otak.
Militer AS menyebut pesawat dan kapal perangnya telah menyerang lebih dari 1.000 target Iran, termasuk fasilitas rudal bawah tanah yang dihantam pembom siluman B-2 dengan bom seberat 2.000 pon.
Baca Juga: Peta Pentagon Bongkar Jangkauan Rudal China, Taiwan hingga AS Masuk Radius Serangan Jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan respons publik AS masih terbelah. Hanya 27% warga Amerika mendukung serangan tersebut, sementara 43% menentang dan 29% lainnya menyatakan belum menentukan sikap. Seiring operasi militer yang diperkirakan berlangsung berminggu-minggu, pertanyaan soal dasar hukum dan intelijen perang ini diperkirakan akan terus menjadi sorotan utama di Kongres dan publik Amerika.