Pentagon: Operasi ke Iran Bukan “Perang Tanpa Akhir”



KONTAN.CO.ID - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan operasi militer terhadap Iran tidak akan menjadi “perang tanpa akhir”.

Ia menyebut tujuan serangan adalah menghancurkan kemampuan rudal, angkatan laut, serta infrastruktur keamanan Teheran.

“Kami menyerang secara presisi, masif, dan tanpa kompromi,” ujar Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon, Senin (2/3/2026).


Meski demikian, Hegseth menolak memberikan garis waktu operasi militer yang kini dijalankan bersama Israel.

Ia mengatakan, durasi kampanye militer berada di tangan Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Apple Inc. Luncurkan iPhone 17e, Harga Mulai US$599 dengan Storage 256GB

Intelijen Disebut Tak Tunjukkan Serangan Awal Iran

Dalam pengarahan tertutup kepada staf Kongres pada Minggu, pejabat pemerintahan mengakui tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang pasukan AS terlebih dahulu.

Informasi tersebut disampaikan oleh dua sumber yang mengetahui jalannya pertemuan.

Pernyataan ini dinilai bertolak belakang dengan argumen publik pemerintahan sehari sebelumnya, yang menyebut adanya indikasi Iran mungkin akan menyerang pasukan AS di Timur Tengah secara pre-emptive.

Trump sebelumnya mengatakan serangan terhadap Iran bertujuan mencegah Teheran memiliki senjata nuklir, membatasi program rudalnya, serta menghilangkan ancaman terhadap AS dan sekutunya. Ia juga menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahnya.

Baca Juga: Harga Gas Eropa dan Asia Meroket Hampir 50% Setelah Qatar Hentikan Produksi LNG

Serangan Skala Besar

Militer AS menyatakan telah menyerang lebih dari 1.000 target di Iran sejak operasi dimulai pada Sabtu.

Serangan tersebut termasuk penggunaan pembom siluman B-2 yang menjatuhkan bom seberat 2.000 pon (900 kg) ke fasilitas rudal bawah tanah Iran.

Pemerintahan AS juga menyatakan operasi ini telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta menenggelamkan sejumlah kapal perang Iran, meski klaim tersebut belum diverifikasi secara independen.

Namun, konflik mulai menelan korban di pihak AS. United States Central Command (CENTCOM) melaporkan tiga tentara AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius.

Beberapa personel lainnya mengalami luka ringan akibat serpihan dan gegar otak.

Baca Juga: 10 Orang Terkaya Dunia Awal Maret 2026: Elon Musk Masih Kokoh di Puncak

Kritik dari Demokrat

Sejumlah anggota Partai Demokrat mengkritik langkah Trump sebagai “perang pilihan” (war of choice).

Mereka mempertanyakan dasar keputusan meninggalkan jalur diplomasi, padahal Oman selaku mediator sebelumnya menyatakan peluang perundingan masih terbuka.

Trump juga mengklaim Iran hampir memiliki kemampuan menyerang wilayah AS dengan rudal balistik, namun laporan intelijen AS disebut tidak mendukung klaim tersebut.

Sementara itu, jajak pendapat Reuters/Ipsos pada Minggu menunjukkan hanya 27% warga Amerika mendukung serangan ke Iran, 43% menolak, dan 29% belum menentukan sikap.

Perkembangan ini menunjukkan perdebatan domestik di AS kian menguat, seiring konflik yang diperkirakan dapat berlangsung selama berminggu-minggu.